Tanto mengabaikan tawa Renata saat dia memberitahu jika dia mengajak Cinta ikut ke Buton tengah, tempat iparnya itu akan melakukan pemotretan. Potret alam, tentu saja. Rena termasuk salah seorang fotografer idealis yang hanya akan melakukan pekerjaan sesuai kata hati. Kadang-kadang dia memang melepas idealisme dan menerima pekerjaan di luar kebiasaannya. Misalnya, menerima pesanan klien yang ingin membuat dpotret diri atau prewedding, tetapi tarif yang ditetapkannya luar biasa mahal. Hanya orang-orang tertentu yang mau dan sanggup menggunakan jasanya. Cara Rena menjaga imej supaya tetap eksklusif memang mengagumkan. Padahal di lain waktu, dia enteng saja melakukan pemotretan untuk amal. Kebanyakan hasil kerjanya memang dipamerkan di luar negeri. Indonesia belum familier mengadakan pameran foto sebagai sarana untuk mengumpulkan dana.
"Kamu benar-benar tertarik padanya," kata Renata meledek Tanto. "Kamu biasanya punya ribuan alasan untuk menolak perempuan yang mendekati kamu kalau kamu nggak suka. Yang ini malah diajak. Aku jadi nggak sabar mau lihat mukanya. Ibu bilang sih cantik banget. Tapi kita semua tahu kalau penilaian Ibu itu nggak pernah objektif. Aku juga dipuji cantik waktu pertama kali ketemu, padahal saat itu aku lagi kusam-kusamnya karena terus-terusan main air laut. Semua perempuan yang potensial dijadiin menantu pasti dianggap cantik sama Ibu."
Tanto tergelak. "Aku sengaja mengajak dia supaya dia nggak bosan di resor. Dia hanya berlibur sendiri dan jarang banget keluar dari vilanya. Sepertinya dia nggak mengerti konsep liburan itu seperti apa."
"Hallaahh... alasan! Kalau tertarik ya bilang saja tertarik. Nggak usah ngeles. Aku nggak akan menghakimi pilihanmu. Dulu, pilihanku juga dipertanyakan sama teman-temanku. Jadi aku nggak punya kapasitas untuk menilai kepantasan seseorang yang akan kamu jadikan pasangan."
"Kamu dan Ibu sama-sama berpikir terlalu jauh. Aku mengajak Cinta karena mau ngasih tahu gimana cara menghabiskan liburan, bukan karena mendadak tertarik padanya. Aku nggak bohong soal dia clueless tentang liburan. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana harus berpakaian sesuai kondisi tempat berlibur. Aku tadi sudah minta dia pakai celana panjang, tapi nggak akan heran kalau lihat dia datang pakai rok lebar karena nggak punya jeans atau celana panjang lain."
"Ooh... jadi dia cewek manis yang feminin?" goda Renata lagi. "Aku beneran nggak nyangka. Aku pikir kamu suka sama perempuan yang rada tomboi jadi asyik diajak traveling bareng."
Tanto hanya menggeleng-geleng, karena tahu percuma meladeni iparnya. Renata yang sekarang berbeda dengan Renata sebelum menikah dengan Bayu. Sikap cool dan misteriusnya sudah lenyap. Dia menyerap semua sifat jelek Bayu dengan cepat. Adaptasinya untuk soal itu luar biasa.
"Jangan dibahas lagi, itu orangnya datang. Syukurlah karena dia ternyata punya jeans. Perjalanan di feri, juga saat berada di atas sampan akan sangat merepotkan kalau pakai rok."
Renata berbalik untuk melihat perempuan yang bisa menarik perhatian Tanto itu. Semakin dekat, wajahnya semakin jelas. Renata mengernyit. Sepertinya tidak asing.
"Tadi kamu bilang namanya Cinta, kan?" bisiknya pada Tanto.
"Iya, namanya Cinta."
"Aahh...." Sosok itu langsung teringat. "Aku sudah pernah bertemu dia di New York 2 tahun lalu."
"Yang benar?" Tanto sulit memercayainya. "Masa sih dunia beneran sekecil itu?"
"Iya, aku ingat banget karena dia satu-satunya orang Indonesia yang ikut kelas fotografiku sebagai hadiah karena fotonya menang kompetisi. Selain itu, dia juga salah seorang yang sangat berbakat. Hasil foto-fotonya bagus."
"Berbakat?" Tanto tidak berhasil menahan tawanya. "Dia bahkan nggak tahu bagaimana cara memegang kamera," dia ikut berbisik supaya tidak terdengar oleh Cinta yang semakin dekat. "Kamu yakin dia orang yang kamu temui di New York?"
Renata kembali mengamati Cinta lebih saksama. "Yakin dong. Aku jarang lupa wajah orang. Apalagi yang memorable kayak dia. Lihat saja, aku nggak mungkin salah orang. Dia pasti mengenaliku," katanya percaya diri.
**
Itu pasti Renata, pikir Renjana saat melihat perempuan yang sedang ngobrol dengan Tanto di dekat mobil. Posturnya tidak seperti bayangan Renjana. Tinggi, tapi tidak ada tonjolan otot di mana-mana, seperti layaknya orang yang kecanduan olahraga untuk membentuk tubuh. Renata malah terkesan terlalu langsing untuk seorang perempuan yang memiliki kekuatan super, yang bisa menyeberangi lautan bolak-balik.
Renjana hampir mengelus dada saking leganya saat melihat Renata tersenyum lebar menyambutnya. Padahal dia sudah khawatir akan dianggap sebagai pengganggu.
"Rena, kenalkan ini Cinta," kata Tanto. "Cinta, ini Rena, ibu Nistya, a.k.a putri duyung."
Renjana buru-buru mengulurkan tangan, ikut tersenyum. "Cinta, Mbak."
"Aku masih ingat kok," sambut Renata ramah. "Dua tahun lalu kita ketemu di New York saat kamu ikut kelasku. Aku nggak mungkin lupa walaupun waktu itu kita nggak sempat ngobrol lama. Apa kabar?"
Renjana merasa limbung. Jantungnya seperti terjatuh. Dia spontan berpegang pada badan mobil. Untung saja dia memakai kacamata hitam sehingga matanya yang membelalak tidak terlihat. Lipstiknya yang berwarna merah muda juga menolong. Tanpa itu, dia pasti terlihat pucat pasi.
"Saya... saya... kabar saya baik, Mbak. Terima kasih." Kepergian Cinta memang hanya diketahui oleh keluarga besar dan sahabat-sahabatnya yang tahu bagaimana cara menjaga perasaan keluarga yang sedang berduka. Orang tua mereka tidak menyukai publikasi yang tidak berhubungan dengan bisnis. Keluarga adalah privasi yang harus dilindungi.
"Wah, nggak nyangka ya kita bisa ketemu di sini." Renata menjabat tangan Renjana erat. "Eh, kamu nggak bawa kamera? Tempat yang akan kita kunjungi ini beneran spot bagus lho."
Renjana spontan menggeleng. Dia sengaja tidak membawa kamera supaya tidak kelihatan bodoh di mata Tanto yang jago memotret. Nyalinya memegang kamera semakin ciut setelah Renjana tahu kalau Renata adalah seorang fotografer andal. Yang benar-benar di luar dugaannya adalah bahwa Renata mengenal Cinta.
Dua tahun lalu, Cinta memenangkan kompetisi foto yang berhadiah kelas fotografi di New York. Renjana masih ingat antuasiasme Cinta saat bercerita tentang acara itu. Dia hanya tidak menyangka bisa bertemu dengan salah seorang fotografer panutan Cinta.
"Saya... saya tidak sedang ingin memotret, Mbak." Itu tidak bohong, tetapi juga bukan alasan sebenarnya.
Renjana merasa kecut saat melihat Renata mengernyit. Tapi tidak lama karena ipar Tanto itu tersenyum lagi.
"Kadang-kadang kejenuhan memang sulit dilawan."
Sejujurnya, Renjana tidak yakin lagi dengan rencananya menggabungkan diri bersama Tanto dan Renata. Bagaimana kalau Renata mengajaknya ngobrol tentang fotografi yang diakrabi Cinta?
Renata bisa saja percaya kalau dia sedang berada di titik jenuh, tetapi orang jenuh tidak lantas kehilangan ingatan, kan? Renjana tidak tahu apa pun tentang dunia fotografi. Dia tidak kenal orang-orang hebat yang tergabung di dalamnya, buta tentang acara-acara penting yang dihelat untuk para fotografer, dan tidak mengerti tentang trik foto. Renjana tidak mungkin mengaku mengalami amnesia parsial dan melupakan bagian hidupnya yang berhubungan dengan fotografi.
"Yuk, berangkat sekarang." Renata menggamit lengan Renjana. "Kalau ketinggalan feri, kita juga bisa ketinggalan momen ketika lighting-nya sempurna."
Renjanatidak punya pilihan selain masuk mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Tanto.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
Fiction généraleRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
