Mungkin seperti ini perasaan seorang pengelana yang kehabisan air minum dan sekarat kehausan ketika tiba-tiba bertemu oasis. Atau korban kapal karam yang terapung-apung di tengah laut dan sudah kehabisan tenaga untuk terus berenang atau sekadar mengapung ketika mendadak menemukan balok atau benda apa pun yang cukup besar untuk dijadikan tempat berpegang supaya tidak tenggelam.
Kata lega, haru, senang, bahagia, dan bersemangat, sepertinya menjadi terlalu dangkal untuk menggambarkan perasaan itu. Karena itulah yang berkecamuk di benak Renjana ketika melihat Tanto.
Ada banyak pertanyaan yang seharusnya mengganggunya, seperti: Bagaimana Tanto menemukannya? Bagaimana dia bisa kenal Ezra? Dan masih ada berjuta bagaimana yang lain. Tetapi itu tidak penting sekarang. Dia akhirnya bertemu Tanto. Itu menakjubkan. Seperti jawaban dari harapan dan mimpi yang terlalu indah untuk menjelma nyata.
"Halo, Renjana...," sapa Tanto.
Renjana bergeming. Bahkan fakta bahwa Tanto sudah tahu bahwa dirinya bukan Cinta tidak menyurutkan letupan antuasiasme yang mengalir deras dalam darahnya. Ternyata rindu yang berbayar tuntas bisa membuat hal-hal lain yang seharusnya mengkhawatirkan menjadi tidak berarti.
"Hei, jangan bengong di situ dong," ujar Ezra. "Masa tamunya nggak disambut?" Dia lantas berdiri dan meringis pada Tanto. "Aku tinggal ya, biar kalian bisa ngobrol. Aku harap dia nggak mendadak gagu saking kagetnya."
"Terima kasih sudah diizinkan ke sini," ujar Tanto.
"Tidak usah berterima kasih. Aku melakukan ini lebih untuk Renjana sih." Ezra menghampiri adiknya. Dia merangkulnya sejenak sambil berbisik. "Selera kamu boleh juga. Lumayanlah."
Renjana merasa wajahnya merona. Godaan Ezra seperti mantra yang membebaskannya dari kebekuan. Dia kembali mendapatkan kendali gerakannya. Dia menunggu sampai Ezra menjauh sebelum ragu-ragu menghampiri Tanto. Kecemasan yang tadi tidak dirasakannya karena melihat Tanto berada di depannya terasa tidak nyata, kini mendadak menyeruak. Apa yang harus dikatakannya? Tanto pasti menganggapnya sebagai seorang pembohong besar.
Tanto berdiri menyambut Renjana yang mendekatinya. "Kamu tidak boleh mencium seseorang lalu meninggalkannya begitu saja."
"Saya... saya...." Renjana kembali kehilangan kata-kata. Rasanya memalukan diingatkan kembali pada peristiwa dia mencium Tanto. Waktu itu dia berani melakukannya karena yakin tidak akan bertemu Tanto lagi. Sekarang bagaimana memberi penjelasan untuk sikapnya yang tidak bisa dibilang sopan itu? Kurang ajar adalah kata yang lebih tepat. "Maaf," katanya lemah sambil menunduk.
"Di-ghosting itu rasanya nggak enak banget," ujar Tanto lembut. "Jangan lakukan itu lagi ya."
Apakah Renjana tidak salah dengar? Kepalanya sontak terangkat. Saat pandangannya tertaut dengan Tanto, dia merasa perlu duduk untuk menenangkan diri. Apakah itu berarti bahwa perasaannya berbalas? Renjana bahkan tidak berani membayangkan itu. Dia selalu menganggap bahwa percikan yang dirasakannya hanya sepihak. Laki-laki seperti Tanto di luar jangkauannya. Sulit percaya jika laki-laki sedewasa itu bisa tertarik dengan seseorang yang memiliki karakter lemah seperti dirinya.
"Kamu nggak mau mengatakan apa-apa?" Tanto mengambil tempat di dekat Renjana. "Kamu bisa memulainya dengan menjelaskan mengapa kamu pergi tanpa pamit. Aku yakin kepulanganmu direncanakan. Bukan kepergian yang mendadak karena Ezra tiba-tiba muncul di resor dan langsung membawamu pergi."
"Saya...." Renjana menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengakui semua kesalahannya. "Saya minta maaf karena sudah berbohong. Saya bukan Cinta." Dia memulai dari hal yang paling dasar. Namanya.
"Mengapa harus menggunakan nama Cinta?" kejar Tanto. "Padahal nama kamu bagus banget."
Waktu itu, Renjana membuat pembenaran jika dia memakai nama Cinta untuk menyamarkan dirinya. Tapi dia tahu itu tidak benar. Seandainya orang suruhan orang tuanya menemukannya di resor, mereka akan segera mengenali wajahnya, perubahan nama itu tidak akan ada pengaruhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
Ficción GeneralRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
