Ketika hampir semua sahabatmu sudah memiliki pasangan, entah itu istri atau calon istri, intensitas pertemuan berkurang drastis. Itu yang dirasakan Tanto. Akhir pekan yang dulunya menjadi ajang kumpul-kumpul tanpa batas, nyaris tidak ada lagi. Pertemuan sering kali dijadwalkan mendadak, ketika waktu luang cocok. Itu pun biasanya tidak lama, dan tidak semua orang bisa datang karena di hari kerja, jadwal sudah tersusun rapi dan tidak bisa diubah seenaknya.
Bukannya Tanto mengeluh. Dia ikut senang ketika sahabat-sahabatnya bahagia. Dia paham jika siklus hidup memang seperti itu. Setelah mapan, seorang laki-laki akan fokus mencari pasangan yang akan menemaninya menghabiskan sisa usia. Alasan mengapa dirinya belum berada di posisi teman-temannya adalah karena dia belum seberuntung mereka dalam menemukan pasangan.
Bukan karena Tanto terlalu pemilih. Sama sekali tidak. Dia hanya bukan tipe yang gampang jatuh cinta, dan dia tidak impulsif sehingga tidak terjebak dalam hubungan coba-coba ketika bertemu dengan perempuan-perempuan yang memberinya sinyal minta digaet.
Tanto merasa kriterianya tidak sulit atau ketinggian. Dia hanya ingin pasangan dewasa yang bisa mengerti dirinya dan kesibukannya. Itu kriteria yang standar, kan? Ketertarikan, tentu saja ada di urutan teratas, karena bagaimanapun, pasangan itu adalah urusan hati. Sedewasa dan sepengertian apa pun seorang perempuan, kalau getarannya tidak ada, ya sama juga bohong. Bagaimana mau hidup bahagia tanpa cinta? Perasaan sayang, rindu, dan membutuhkan adalah hal yang harus ada dalam hubungan, karena itu adalah bahan bakar yang akan membuatnya bertahan untuk tetap menyala sampai maut memisahkan.
Idealnya seperti itu. Masalahnya, di dalam kehidupan nyata, kriteria dan ketertarikan ternyata bisa saja bersimpang jalan. Tanto baru saja mengalaminya. Beberapa bulan lalu dia bertemu dengan seseorang yang sangat jauh dari kriterianya. Perempuan itu sangat jauh dari sosok dewasa yang diinginkannya. Dia juga tidak mempunyai kepercayaan diri yang seharusnya dimiliki oleh perempuan dengan paras dan penampilan menarik. Dan anehnya, dengan dua minus gigantik itu, dia malah menarik perhatian Tanto. Ketertarikan besar yang sudah cukup lama tidak dirasakan Tanto pada lawan jenisnya.
Awalnya Tanto merasa itu adalah romansa liburan. Adalah hal yang lumrah ketika merasakan ketertarikan pada seseorang yang berada di tempat yang sama dan menghabiskan sebagian besar waktu berdua. Hukum alam seperti itu. Cinta yang tumbuh karena kebersamaan.
Jadi ketika mendapati perempuan itu pergi begitu saja tanpa berpamitan, Tanto merasa romansa itu berakhir bersama selesainya masa liburan. Perasaan tertariknya akan memudar, dan akhirnya hilang. Sama seperti kisah-kisah cintanya terdahulu. Apalagi umur kebersamaannya dengan perempuan itu sangat pendek. Juga tidak ada kata rayuan, umpan yang dilempar, atau pengakuan soal perasaan. Hubungan itu sangat kasual, mirip persahabatan yang singkat. Bedanya, ada rasa tertarik di sana. Tanto tertarik, dan tahu jika perempuan itu, Cinta, juga tertarik padanya. Hanya saja, mereka sama-sama menahan diri karena tahu jika hubungan yang dimulai di tempat liburan biasanya tidak bertahan di dunia nyata yang tekanannya berbeda. Tanto yakin begitu.
Kapan Tanto menyadari jika apa yang dirasakannya ternyata lebih daripada sekadar romansa liburan? Ketika dia sadar jika dia masih mengingat profil rapuh Cinta setelah kembali ke Jakarta. Mudah sekali membayangkan mata bulat, besar, dan jernih yang menatapnya malu-malu. Pipi yang gampang sekali bersemu merah. Cinta terlihat sangat polos untuk seorang perempuan yang mengaku sudah berumur 23 tahun.
Tanto sudah sering bertemu dengan perempuan yang lebih muda daripada Cinta, tetapi penampilan dan gayanya jauh lebih dewasa dari umurnya. Sikap mereka yang berani mencerminkan jika mereka sudah memiliki pengalaman dengan laki-laki. Alih-alih tersipu, tatapan mereka menggoda. Tanto menduga jika kepolosan Cinta itulah yang membuatnya tertarik, karena menumbuhkan perasaan ingin melindungi. Mungkin Renata benar saat mengatakan bahwa Tanto adalah tipe yang mengayomi. Buktinya tidak terbantahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
Ficção GeralRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
