Seharian ini Tanto tidak bertemu Cinta. Tadi pagi, dia pergi ke kota untuk menjemput Renata dan Nistya. Saat kembali saat makan siang, Tanto melihat tirai Cinta terbuka, tetapi anak itu tidak terlihat. Mungkin Cinta beristirahat di kamarnya karena rasanya agak mustahil kalau dia menjelajah sampai di berbagai wahana yang disediakan resor di tengah hari. Cinta sangat terbaca. Dia hanya berada di luar vila di pagi buta, atau sore, menjelang malam.
"Itu vila siapa sih?" tanya Renata yang duduk di samping Tanto. Mereka bersantai di tepi pantai setelah makan malam. Nistya sudah tertidur karena kelelahan berlarian di pantai sepanjang sore.
Tanto mengikuti arah dagu Renata. "Vila tamu. Memangnya mau vila siapa lagi?"
"Tamunya pasti istimewa." Renata tersenyum menggoda. "Kamu terus-terusan melihat ke sana, seolah berharap orangnya keluar. Cantik banget ya?"
Tanto berdecak. "Menikah dengan Bayu ternyata nggak terlalu bagus untuk perkembangan karaktermu. Kamu sudah ketularan sifat keponya. Bayu adikku, dan aku sayang sama dia, tapi kadang-kadang sifat kepo itu bikin aku pengin karungin dan buang dia ke salah satu pulau paling terpencil di Samudra Pasifik supaya nggak perlu dengar dengar ocehannya lagi."
Renata tertawa. "Awalnya aku juga terganggu dengan ocehannya. Bayu sama sekali bukan tipeku. Tapi cinta nggak kenal tipe-tipean. Kalau sudah soal cinta, otak nggak berdaya karena perintahnya nggak bisa menjangkau hati. Sekarang, rasanya malah ada yang kurang kalau Bayu lagi ngambek dan ngirit ngomong."
"Memangnya si Bayu punya nyali buat ngambek sama kamu?" Terkadang Tanto masih takjub bagaimana dua orang yang sangat berbeda karakter seperti Renata dan Bayu bisa bersatu dalam pernikahan. Bisa-bisanya Bayu yang biasanya suka pada perempuan dengan dandanan mutakhir dan hobi nongkrong di mal malah berakhir bucin pada Renata yang fokus pada kulit sehat bukan pada makeup. Tapi yang lebih membuat Tanto heran adalah kenyataan bahwa Renata membalas cinta Bayu.
Bukan hendak merendahkan adiknya sendiri, tapi Tanto merasa jika Bayu tidak cukup tangguh untuk perempuan seperkasa Renata. Perempuan yang menjadikan gurun Sahara dan medan perang sebagai tempat bermain. Tapi seperti kata Renata, cinta sering kali memang tidak masuk akal.
"Apa yang membuat kamu jatuh cinta sama Bayu?" tanya Tanto lagi setelah pertanyaannya tadi hanya dijawab dengan cibiran.
Renata mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin karena dia berbeda dengan semua laki-laki yang berada di sekelilingku saat bekerja." Senyum jailnya tersungging lagi. "Setelah terbiasa berada di antara laki-laki yang bajunya nggak pernah kena setrikaan, nggak cukuran berbulan-bulan, yang berbau keringat dan lumpur, senang bertemu seseorang yang wangi, bersih banget, dan perhatian sama penampilannya. Atau mungkin juga karena Bayu adalah orang yang sangat persisten. Dia nggak mempan ditolak. Pada dasarnya, perempuan itu menyukai konsistensi. Senang diperjuangkan karena dianggap penting. Hobi dan pekerjaanku mungkin berbeda dengan kebanyakan perempuan lain, tapi aku tetap saja perempuan."
Tanto menyikut iparnya itu. "Padahal aku selalu menganggapmu lebih hebat daripada perempuan lain."
Renata lagi-lagi mencibir. Dia mengangkat mug kopinya dan menyesap isinya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku. Perempuan di vila itu cantik dan hebat?"
"Cantik, iya. Hebat?" Tanto mengerutkan dahi lalu menggeleng-geleng. "Kalau ukuran hebat itu berhubungan dengan fisik, jelas tidak. Dan, dia bukan perempuan. Dia masih anak-anak."
Renata membelalak. "Kamu sekarang sudah bertransformasi dari seorang gentleman menjadi pedofil terkutuk?"
Tanto tergelak keras. "Katanya sih umurnya 23 tahun, tapi kelihatannya masih seperti anak SMA."
"Bagus dong, berarti dia baby face. Skincare dan perawatan wajah yang dia pakai pasti bagus."
"Aku nggak tertarik sama dia," bantah Tanto. "Bukan tipeku."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
قصص عامةRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
