"Mbak Avi, makalah yang sudah aku print itu di mana ya?" Renjana membuka laci-laci mejanya karena permukaan meja yang semalam berantakan saat dia mengerjakan tugas sudah dirapikan Mbak Avi.
"Sudah aku jilid dan dimasukin dalam tote bag, Mbak. Laptop dan bindernya juga udah masuk. Semuanya sudah di mobil. Mbak Renjana sarapan dulu, baru kita ke kampus. Bapak sama Ibu sudah di meja makan."
Renjana mendesah. Sejak dia kembali dari petualangannya dua bulan lalu, sarapan bersama yang sudah lama tidak wajib dilakukan karena jadwal setiap orang berbeda-beda, sekarang dihidupkan lagi. Di akhir pekan, Ezra juga datang untuk melengkapi formasi keluarga mereka.
Renjana tahu jika orang tuanya bermaksud baik. Mereka ingin Renjana merasa diperhatikan, tetapi rasanya terlalu berlebihan. Ibunya yang aktif mengurangi sebagian besar kegiatannya supaya bisa lebih sering bersamanya. Jadwal ke salon dan klinik kecantikan yang biasanya berbeda, sekarang disamakan.
Mbak Avi dan Mbak Fisa, asisten ibunya yang dulu jarang bertemu sekarang sudah menjadi sahabat akrab saking seringnya jalan bersama. Mbak Fisa bahkan sering bergurau kalau sudah 2 bulan ini dia makan gaji buta karena lebih sering nonton film di laptopnya ketimbang mengurusi kegiatan Ibu Restu Wiryawan yang menjadi bosnya.
Saat kembali ke rumah, Renjana menjelaskan alasan kepergiannya. Dia bahkan menunjukkan jurnal Cinta. Perjalanan itu adalah sesuatu yang personal, hadiah terakhirnya untuk Cinta. Waktu itu kedua orang tuanya dan Ezra tampak mengerti, tapi pengawasan untuk Renjana tetap meningkat. Padahal Renjana sudah mengatakan bahwa dia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Dia tidak akan pergi berlibur ke mana pun seorang diri. Petualangan tidak akan menjadi gaya hidupnya karena dia tidak seaktif dan sekuat Cinta. Dia juga tidak memiliki kemampuan berbaur, padahal beradaptasi terhadap orang dan lingkungan baru adalah skill dasar yang harus dikuasai oleh seorang penjelajah. Ternyata pengertian itu tetap dibarengi dengan kontrol maksimal. Saat Renjana hanya bersama Mbak Avi, ibunya atau Mbak Fisa akan menghubungi secara berkala untuk memantau keberadaan mereka.
Seperti kata Mbak Avi, ayah dan ibunya sudah duduk sambil ngobrol di meja makan saat Renjana turun. Piring mereka masih kosong, yang artinya mereka menunggu Renjana.
"Mau makan apa, Sayang?" tanya ibunya begitu Renjana duduk.
"Sandwich aja, Ma. Hari ini aku ada kuliah pagi. Kalau sarapan berat takut malah ngantuk." Renjana menyesap jus yang sudah disiapkan untuknya. Dia sudah kembali ke rutinitas di mana semuanya serba dilayani.
Mbak Avi melongo dengan mata terbelalak lebar saat Renjana mengatakan sudah tahu cara membuat spageti. Dapur adalah bagian dari rumah yang nyaris tidak pernah dikunjungi Renjana. Apa pun yang ingin dimakannya, Renjana hanya perlu menunggu di meja makan atau di kamarnya.
"Iya, Avi bilang kamu kuliah sampai jam 12. Setelah makan siang, kalian langsung ke rumah sakit ya. Jadwal kontrol ke dr. Hadi."
Renjana mengangguk patuh. Dia tidak akan melupakan jadwal itu karena seminggu ini ibunya sudah mengingatkan sampai 3 kali, dan Mbak Avi terus mengulang informasi itu seolah Renjana sudah memasuki periode pikun.
"Kita akan ketemu di sana. Jangan sampai terlambat. Jadwal dr. Hadi padat banget."
"Iya, Ma." Didampingi ibunya dalam setiap kontrol ke dokter adalah hal yang wajib. Renjana tidak pernah memasuki ruang periksa tanpa ibunya. Biasanya, ibunya malah sudah lebih dulu sampai di rumah sakit sebelum Renjana yang biasanya start dari sekolah tiba.
"Hanya pemeriksaan rutin untuk memastikan kondisi kamu baik-baik saja," lanjut ibunya. Tangannya menyentuh jari Renjana. "Kamu beneran nggak melakukan aktivitas berat selama liburan, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
Fiksi UmumRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
