Tanto mengerahkan tenaganya yang tersisa untuk mengejar Risyad, tapi sahabatnya itu terus melaju meninggalkannya dan akhirnya menyentuh pantai lebih dulu.
"Yang kemarin itu gue ngalah, bukan kalah. Gue salah strategi karena langsung jor-joran di awal, jadi agak kedodoran pas mau finish." Risyad tertawa kencang saat Tanto akhirnya berjongkok di sebelahnya. "Tunangan gue mantan atlet renang nasional, Bro, jadi gue harus rajin-rajin latihan biar nggak kalah melulu kalau balapan sama dia. Malu dong kalau laki-laki perkasa kayak gue harus kalau sama perempuan cantik, apalagi dia tunangan gue sendiri. Mau ditaruh di mana harkat dan martabat gue?"
"Gue memang butuh lebih banyak latihan kalau masih berani ngajak tunangan atlet renang nasional balapan." Tanto mengakui kekalahannya tanpa berdebat. Dia lantas meraih kausnya yang tadi dilempar begitu saja di atas pasir saat akan berenang. "Ngomong-ngomong, kapan lo mau nikah?"
Risyad terkekeh. "Kalau mau gue sih besok, tapi gue kan nggak nikah sama diri sendiri. Jadi gue tunggu aba-aba dari Kie dan nyokap gue. Perempuan kan lebih ribet urusan seremonial dan segala macam perintilannya. Kie emang santai, nyokap gue yang heboh. Semua butuh pemikiran dan pertimbangan. Belajar dari kawinan Tian, model undangan, menu, dan bentuk kue pengantin aja bisa dibahas berminggu-minggu sebelum diputusin. Kita yang laki-laki kan nggak ikut ngurusin hal kayak gitu. Kita kan bermodal kesiapan mental buat ngucapin ijab kabul aja. Berabe kalau harus diulang. Bisa jadi bahan bakar omelan Kie seumur hidup. Gue nggak mau anak gue tahu kalau ayah mereka mendadak blank dan lupa hafalan saat hubungan orang tua mereka diresmikan."
Tanto ikut tertawa. Dia meninju lengan atas Risyad. "I'm happy for you, Bro."
"Gue juga bahagia bisa ketemu Kie." Risyad balas memukul lengan Tanto. "Terima kasih udah sangat suportif. Nggak kayak si Rakha yang terus-terusan membujuk gue untuk meninjau keputusan gue menikah. Gue heran kenapa dia bisa segitunya menentang pernikahan padahal orang tuanya bahagia banget."
"Dia sebenarnya nggak menentang pernikahan. Dia hanya nggak mau menikah, jadi dia mencari orang yang akan menemaninya membusuk di panti jompo. Dan kandidat yang cocok itu ya elo. Dia tahu nggak mungkin menyeret gue untuk mengikuti jejaknya."
"Sialan!" maki Risyad. "Gue kan nggak sebejat dia!"
"Tapi lo kan nggak selurus dan se-family man kayak gue."
"Hallah... ngakunya family man, tapi belum nikah-nikah juga padahal udah uzur," ejek Risyad. "Kalau lo beneran family man, lo pasti sudah nikah duluan daripada si Yudis."
"Lo mengartikan kata family man terlalu sempit, Bro," Tanto membela diri. "Untuk jadi laki-laki yang sayang keluarga, lo nggak harus buru-buru nikah. Sebelum membentuk keluarga sendiri, sudah ada oarang tua gue, Bayu, dan anak-istrinya. Mereka juga keluarga gue, dan gue sayang banget sama mereka."
"Ngomong-ngomong soal membentuk keluarga sendiri itu, gimana prospek tetangga vila kita yang cantik itu?" goda Risyad. "Tadi malam, setelah entah sejak kapan, lo akhirnya makan malam berdua sama cewek, tanpa nawarin gue sama Rakha ikut gabung. Atau, itu sudah jadi rutinitas lo selama berada di sini ya?"
"Gue kan sekalian ngecek kondisi Cinta. Soalnya kemarin kesakitan banget. Lo lihat sendiri, kan?"
"Yang artinya lo peduli banget sama dia." Risyad kembali meninju lengan Tanto. "Tapi gue senang melihat lo kasmaran lagi. Jadi saat weekend, lo nggak perlu nongkrong sama Rakha sambil ceramahin dia supaya kembali ke jalan yang bener. Percuma. Yang ada, mulut lo udah berbusa, dia tetap bejat. Jadwal lunch dan dinner lo juga jadi lebih bervariasi. Nggak hanya makan dalam rangka bisnis sama klien saja, tapi juga bareng pujaan hati."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Runaway Princess
Fiction généraleRenjana kabur dari rumah untuk menyelesaikan bucket list yang dibuat oleh saudara kembarnya sebelum meninggal dunia. Dia merasa antusias sekaligus takut karena belum pernah melakukan perjalanan seorang diri. Apalagi dia harus merahasiakan identitas...
