WARNING 🔞
This chapter contains sensitive content to some readers.
Read at your own risk!"Ergh!" erang Grayson ketika terbangun dari tidurnya. Grayson melihat jam dinding yang menunjukkan masih pukul 6.05 pagi.
Semalam Grayson tidak bisa tidur dengan nyenyak karena badannya yang pegal setelah pertandingan yang intens kemarin.
"Padahal semalem udah dikompres sama Gre, masih aja pegel," keluh Grayson.
Grayson bangun menuju kamar mandi dan mandi air hangat. Memang air hangat bisa bikin otot-otot yang tegang dan pegal jadi rileks.
Selesai mandi, Grayson tidak langsung menggunakan seragam tapi hanya memakai baju tidurnya. Katanya, santai aja masih jam segini.
Dia turun ke bawah melihat papa dan mamanya di ruang makan sudah siap dengan koper. Kayaknya mau pergi nih.
"Pagi-pagi udah siap banget," ujar Grayson.
"Eh udah bangun. Iya, papa ada urusan di Singapura, pulangnya minggu depan. Papa minta mama ikut biar nggak kesepian," jelas papanya.
"Ohhh. Yaudah gapapa. Bawa oleh-oleh ya."
"Iya, gampang itu mah. Kamu sama Gracia sendirian dulu ya di rumah sampe Rabu nanti. Aten sama Ecen lagi perkemahan soalnya."
Grayson mengangguk lagi. Toh, mereka berdua udah gede, ditinggalin seminggu doang bukan masalah.
Grayson juga sebenarnya senang lihat Papanya yang selalu bawa Mamanya kalau ada keperluan ke luar negeri atau luar kota. Itu tandanya mereka berdua masih mesra-mesra aja. Dan juga bukan mau berpikiran negatif sama Papa sendiri, tapi dengan begini tandanya Papanya gak pernah bikin hal aneh-aneh selama di luar, kan?
"Mama udah siapin bahan-bahan makanan di kulkas sama lemari, nanti kamu sama Gracia masak sendiri bisa, kan?"
"Bisa kok, ma."
Grayson lalu duduk sambil sarapan yang udah dibikin sama mamanya.
"Oh iya, soal yang kemarin. Gimana tes dopingnya?"
"Masih belum tau, pa. Katanya sih nanti dikasih tau hari ini. Dikirimin kayak SMS apa WA gitu di nomor masing-masing."
"Tapi kamu yakin gak pake doping, kan?"
"Gak kok. Yakin aku. Aku juga udah jelasin ke mereka kalo aku baru sembuh dan udah kasih tau kalo ada konsumsi obat. Mereka udah cek, gak ngaruh juga kok ke tesnya."
"Semoga tesnya negatif ya."
"Amiiinn. Kalo positif sih bukannya mau gimana-gimana ya pa, tapi kayaknya udah ada yang gak beres sama turnamennya kalo gitu."
Papanya mengangguk mendengar penjelasan Grayson.
Tak lama kemudian, Gracia turun dari lantai atas.
"Papa sama mama udah mau jalan?"
"Iya. Ini pas banget udah mau jalan."
Papa dan Mama lalu berpamitan sama si kembar, kemudian menaiki taksi yang sudah menunggu depan rumah.
"Oh mobil gak papa bawa?"
"Nggak. Kamu pake aja."
"Oke deh kalo gitu."
Setelah taksi yang orang tua mereka naiki pergi menjauh dari rumah, Grayson dan Gracia kembali masuk ke dalam rumah untuk siap-siap berangkat ke sekolah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Airplane
Teen Fiction"Hey, Mr. Airplane! Can you wait for a second?" [DISCLAIMER] Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan alur, tokoh, dan latar, mohon maaf. Cerita ini murni dari ide penulis.