*PRIIIITTT!*
Coach meniup peluit panjang menandakan latihan hari ini selesai.
Mereka semua tersungkur di lapangan. Suara nafas berat bisa terdengar dari seluruh penjuru lapangan. Anak-anak tim basket SMA Rajawali terlihat seperti baru saja diguyur air.
"Haaaahh... haaahh... haaahh..."
"Aduh anjirhh.... gak kuat guehh...."
Apa lagi kalau bukan latihan fisik yang baru saja mereka lewati. Tiga hari lagi mereka akan bertanding di Final, tentunya fisik mereka harus lebih siap dan kuat dari sebelumnya.
Setelah beristirahat sebentar, mereka pun berganti baju dan bersiap untuk pulang. Seperti biasa Grayson dan keempat sohibnya selalu yang paling akhir pulang.
"Udah ada kabar dari Raja, son?" tanya Mark.
"Tadi pagi dia chat gue, katanya dia masih coba. Paling nggak nanti malam dia kabarin gimana hasilnya."
"Kalo udah ketemu, kasih tau ya," ujar Lionel.
"Biar kita bantuin buat nyamperin tuh orang," sambung Bagas.
Grayson hanya mengangguk.
"Jinan gimana?"
"Ya gitu. Baru kemarin gue beliin donat di J.Co. Malem-malem dia minta. Untung J.Co belum tutup," jawab Grayson.
"Buset udah kayak suaminya aja lu," celetuk Axel.
"Mau gimana lagi, xel? Namanya juga hamil, pasti ngidam lah. Soalnya gue sama Gracia sendiri yang bilang, kalo dia butuh apa-apa bilang aja ke kita."
"Hati-hati, son. Entar yang ada dia malah maunya sama lu lagi," ujar Bagas.
Grayson memang sempat terpikir demikian. Apa jadinya kalau Jinan sudah terlalu nyaman dengan Grayson yang selalu membantunya dan malah berakhir jatuh cinta lagi dengan Grayson. Tapi pikiran itu dia berusaha singkirkan karena kalau berpikir yang aneh-aneh terhadap orang yang kita bantu, rasanya seperti tidak ikhlas. Dan Grayson selama ini ikhlas dan tulus membantu Jinan.
Ditambah lagi, Jinan yang selalu bertanya pada Grayson soal perkembangan Raja yang sedang melacak Vincent. Itu tandanya Jinan memang benar-benar ingin Vincent yang bertanggung jawab.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh dulu lah. Nanti jatohnya gue gak ikhlas bantuin dia kalo gue mikir kayak gitu tentang dia, kan?" balas Grayson.
"Bener sih," balas Bagas.
Setelah sampai di parkiran mereka berpisah, seperti biasa ada yang ke parkiran motor dan ada yang ke parkiran mobil. Setelah itu langsung pergi dari area sekolah.
Tak butuh waktu lama untuk Grayson sampai di rumahnya. Karena tadi Grayson mengendarai motornya di atas kecepatan yang biasanya.
Badannya sudah pegal dan tidak kuat untuk berendam di air hangat, makanya dia membawa motornya dengan cepat.
"Malam!" sapa Grayson ketika masuk ke rumah.
"Malam!" balas semua orang rumah.
Grayson kemudian berpapasan dengan Gracia di depan pintu.
"Lah? mau kemana lu?"
"Ke rumahnya Gaby bentar," jawab Gracia.
Grayson hanya mengangguk
Di ruang tengah sedang Aten dan Ecen yang sedang bermain Nintendo Switch, dan ada papanya yang sedang menonton TV.
"Buset, rame banget nih kayaknya," ujar Grayson sambil duduk di sofa di samping papanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Airplane
Novela Juvenil"Hey, Mr. Airplane! Can you wait for a second?" [DISCLAIMER] Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan alur, tokoh, dan latar, mohon maaf. Cerita ini murni dari ide penulis.
