*DUG! DUG! DUG!*
*Srk!*
*DUG! DUG! DUGDUG!*
*Srk!*
Bunyi bola basket beradu dengan lantai sport hall kosong bergema ke seluruh penjuru ruangan. Ada seseorang yang sedang memainkan bola itu, seorang diri.
Siapa lagi kalau bukan Grayson.
Sejak tadi pagi, suasana hati Grayson berantakan. Padahal hari Sabtu adalah hari kesukaannya. Semua ini berawal dari berita yang ia terima tadi pagi.
Hasil tes yang dia ikuti untuk masuk ke USC atau University of Southern California, tidak mencukupi nilai minimal atau bisa dibilang gagal. Nilai Grayson hanya berbeda 1,5 poin dari nilai minimalnya, yaitu 85, yang berarti nilai Grayson adalah 83,5.
Grayson rasanya tidak ingin datang ke sekolah, tapi dia menerima berita itu saat dia sudah terlanjur duduk di kelas. Anin yang kemarin melihat Grayson bertingkah seperti biasanya, terkejut melihat Grayson yang tiba-tiba berubah menjadi murung.
Karena ekskul basket masih istirahat pasca turnamen, Grayson memutuskan untuk bermain basket sendiri di sport hall.
"Dasar bego! Dapet 1,5 poin aja gak bisa!"
*DANG!* Grayson meluapkan emosinya dengan melakukan dunk.
"Makanya kalo gak bisa gak usah sok-sokan ikutan tes!"
*DANG!* Dia melakukan dunk lagi.
"HAARRRGHH!" teriak Grayson sambil melempar bola itu ke sembarangan arah, dan tanpa sengaja bola itu mengenai rak tempat bola-bola basket ditaruh. Alhasil rak itu terjatuh dan bola-bolanya menggelinding bebas.
Grayson berbaring di lapangan dengan nafasnya yang tersengal. Dia menutup mata dan mengatur nafasnya.
"Haah... haah...." Dada Grayson bisa terlihat dengan jelas bergerak naik dan turun.
"Mungkin emang ekspektasi gue aja yang terlalu tinggi," ujar Grayson bermonolog.
Tiba-tiba Grayson merasakan sebuah sentuhan lembut yang menyisir rambutnya. Tentu saja dia terkejut, bisa saja itu hantu. Soalnya dia dari tadi sendirian di tempat ini.
Ternyata bukan. Itu Shani.
"Aku cariin kemana-mana, ternyata kamu di sini," ujar Shani.
Shani juga ikut duduk di samping Grayson yang sedang berbaring.
Grayson kemudian menatap Shani dengan sorot mata sendu. Shani mengerti. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada pacarnya ini.
"Mau cerita?" tanya Shani.
Grayson mengatur nafasnya sejenak.
"Tesnya gagal," jawab Grayson.
Shani tentu saja terkejut. Dia ingin sekali bertanya pada Grayson kenapa bisa gagal. Tapi Shani tahu itu bukanlah hal yang penting. Yang paling penting saat ini adalah Grayson pasti butuh support. Dia butuh semangat dari orang-orang terdekatnya.
"Gapapa kok, kan masih ada lain waktu."
"Kapan lagi, Shan? Kesempatan aku cuma sekali ini."
"Kata siapa? Kan tahun depan kamu masih bisa ikut lagi," tukas Shani.
Grayson terdiam.
"Emang kamu diharusin untuk masuk kuliah tahun ini? Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang kalo orang tua kamu gak pernah maksa kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. Airplane
Teen Fiction"Hey, Mr. Airplane! Can you wait for a second?" [DISCLAIMER] Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan alur, tokoh, dan latar, mohon maaf. Cerita ini murni dari ide penulis.
