6. Apartemen

45 21 0
                                        

Seol A berbalik cepat sontak membulatkan matanya. Pandangannya jatuh pada manik hitam di depannya itu, jeda beberapa detik yang terasa menegangkan bagi keduanya sebelum Seol A membuka mulut hendak berbicara namun terhenti sebab sebuah telapak tangan membekap mulutnya secara cepat. Tanpa aba-aba, tanpa diprediksi oleh benak Seol A, pria itu menangkup kepala Seol A kemudian menariknya mendekat ke arah pria itu.

Seol A mematung saat harum parfum pria di depannya itu menusuk kuat indra penciumannya. Semacam campuran harum bunga yang menenangkan.

"Diam dan jangan bergerak," bisiknya saat Seol A merasa kepala pria itu berada tepat di atasnya.

Seol A hanya diam tanpa menjawab menuruti perintah itu untuk tidak bergerak sama sekali. Entah kenapa Seol A memberikan kepercayaan penuh untuknya memegang kendali saat dirasa situasi disekitarnya mulai menegang.

Kenapa Seol A bisa bangun di tempat seperti ini dengan situasi tegang seperti ini?

Seol A tidak suka genre skenario ini, dia lebih memilih menghabiskan waktu santai seperti dengan Joon di awal. Kini otaknya serasa kosong dan jantungnya terus berdegup kencang, bahkan dirasa kakinya mulai kebas.

Seol A merasakan pria yang mendekapnya itu berdiri kemudian maju tepat di hadapannya dengan Seol A yang berjongkok di belakangnya.

"Jungkook," panggil Seokjin dijawab deheman pria bertato itu.

Seol A mengeratkan pegangannya pada sisi sofa. Hanya sebuah deheman namun dapat membuat benak Seol A disergap semacam kecemasan? Suara serak dari deheman singkat itu seakan membuat telinga Seol A mencair layaknya es krim. Perasaan aneh ini, jujur baru pertama kali Seol A rasakan.

Lamunan Seol A mendadak harus terhenti saat sebuah telapak tangan kokoh mengenggam erat pergelangan tangannya, menariknya hingga berdiri kemudian dengan segera menuntun Seol A menuju pintu.

Selama aksi kabur mereka dari sana, perasaan Seol A terus-terusan disergap kecemasan akut. Rasanya kakinya meleas, takut jika sewaktu-waktu pria bertato itu berbalik dan menemukan dirinya.

Entah apa hubungan mereka berdua tapi yang Seol A tahu ini adalah apartemen pria bertato itu sebab Seol A menemukan gambar kanvas yang digantung pada dinding—semacam coretan asal dengan cat berwarna hitam, tak melambangkan apapun bersifat abstrak seolah menggambarkan pelik, gelap dan hancurnya kehidupan seseorang.

Pria yang mengenggam tangannya ini jauh dari personaliti yang Seol A sebutkan tadi. Dia lebih ke arah cerah dan positif. Tipe pria idaman semua wanita yang gemar memasak serta bebersih rumah.

SeokJin memutar knop pintu dan dengan tidak berperasaannya, mendorong bahu Seol A keluar dari apartemen itu. Seol A tersandung dan jatuh, untungnya saja di sepanjang apartemen itu ada karpet berudu merah yang sengaja diletakkan sebagai fasilitas gedung. Tidak ada luka kecuali batinnya yang terguncang hebat.

Apa tidak bisa lebih kasar lagi, dengus Seol A dalam hati sebelum menepuk pelan pakaiannya dan bangkit berdiri.

"Aku pamit dulu, ada urusan," ujar SeokJin singkat.

"Pamit? Bawa pergi panci sialanmu ini dulu!"

Teriakan Jungkook masih dapat Seokjin dengar sebelum teredam saat dia menutup pintu.

Pertanyaan Seol A terjawab kenapa bisa ada panci pink di dapur disaat pemilik apartemennya sendiri seorang penyuka warna hitam cenderung gelap? Dapat dilihat dari desain interior serta perabotan disana.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Seol A begitu pintu apartemen di tutup.

Sembari mengambil langkah cepat ke arah lift, diikuti Seol A dibelakangnya.

"Sama-sama," ujar Seokjin sembari menancapkan fokus ke Seol A. Pria itu tersenyun ramah.

Seol A berdehem singkat, "Kamsahamnida," ujarnya di akhir.

"Kenapa kau menolongku?" tanya Seol A lagi penasaran. Lift mulai terasa bergerak turun sebelum pintunya terbuka, disusul Seol A dan Seokjin yang berjalan keluar.

"Karena itu mungkin keinginan Mr. Bang," jawab Seokjin dengan nada seakan menerka-nerka.

"Kalian bapak dan anak? Bagaimana kau bisa tahu apa yang dia mau?" todong Seol A lagi.

Entah apa yang membuat Seol A begitu berani dengan orang asing ini. Mereka baru bertemu beberapa waktu lalu namun Seokjin memberikan kesan positif dan ramah, membuat Seol A nyaman dan tak merasa risih walau mereka baru bertemu hari ini.

Seokjin mengedikkan bahu.

"Bisa dibilang begitu. Tapi aku termasuk ke dalam tipe anak penurut bukan pembangkang seperti yang lain, terlebih lagi Mr. Jeon keparat itu."

Seol A lagi-lagi mematung mendengar gerutuan Seokjin. Tidak tahu jika para tokoh dalam pigura itu saling mengenal padahal mereka berbeda dunia. Hingga sebuah pemikiran menghentikan kinerja otak Seol A. Tidak mungkin.

"Keparat yang kau maksud itu tidak termasuk dalam ketujuh pigura itu kan?" tanya Seol A tiba-tiba karena hawa menyeramkan Jungkook masih terbayang jelas dalam benak Seol A.

"Cari tahu saja sendiri. Sekarang giliran aku yang bertanya," jawab Seokjin membuat Seol A menghembuskan napas kasar.

"Kenapa kau bisa ada disini lagi?" tanya Seokjin menatap lekat kedua manik Seol A.

Langkah mereka berdua mendadak terhenti di tengah trotoar jalan, tepat di sebuah toko roti.

"Jika aku bilang itu magic? Dan apa maksudnya lagi? Ini kali pertama..." ujar Seol A sebelum terhenti.

Dari mulai Joon kemudian pria di depannya ini, kenapa mereka menatapnya seakan-akan mereka mengenal Seol A dulu dan baru bertemu lagi dengannya setelah sekian lama? Seol A menangkap sirat kerinduan, terluka dan bahagia yang bercampur menjadi satu.

"Tidak, aku yang salah. Kalian berbeda," Seokjin menggeleng kemudian berjalan meninggalkan Seol A sendirian yang mematung.

Seol A tiba-tiba termenung dengan sekelibat terkaan dalam benak. Bukannya seharusnya Seokjin tahu mengenai kehadirannya layaknya Joon? Seharusnya Seokjin menjalankan sebuah skenario dengan Seol A dan mungkin jika skenario yang dibuat Mr. Bang selesai, Seol A mendadak lenyap dari dunia mereka. Benar! Kenapa tidak terpikirkan oleh Seol A sedari awal?

Seol A menggeleng pelan, membuyarkan lamunan hingga membulatkan kedua matanya saat melihat pria berbahu lebar itu sudah belasan langkah di depan tanpa menoleh.

Apa Seokjin belum tahu jika Seol A adalah tokoh selanjutnya dalam skenario dia kali ini?

"Jeogiyo!" panggil Seol A namun tidak dihiraukan oleh Seokjin. Samar-samar dari kejauhan Seol A melihat bahu pria itu bergerak naik turun, seakan sedang tertawa atau barangkali pria itu memang sengaja mengabaikan panggilan Seol A.

Kesal diabaikan, Seol A berlari kecil menyusulnya.

"Namja berbahu lebar!" panggil Seol A lagi dan ajaib, pria itu menghentikan langkah,
berbalik dan menatap Seol A berbinar.

Akhirnya Seol A dapat menyusul langkah lebar pria itu. Ck! Selain bahu ternyata kakinya juga oanjang menghasilkan langkah lebar yang susah disusul oleh kaki pendek Seol A.

"Tidak ada yang mau kau katakan kepadaku?"

Seokjin tertegun, tampak mematung untuk beberapa saat sebelum menutup mulutnya yang terbuka kebar dengan telapak tangannya.

"Jangan bilang..." kalimat pria itu menggantung.

"Iya Mr. Bang yang mengirimku. Memangnya kau tidak menyadarinya sejak awal? Kenapa aku bisa tiba-tiba muncul disana..."

"Pria gendut itu?" tanya Seokjin dan Seol A menangguk.

▪️▪️▪️

-ThIsGiRlAw-

7 Days ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang