Begitu masuk ke dalam, mereka disuguhkan dengan dua buah kasur tipis terpisah dilengkapi dengan bantal dan selimut. Sebuah lemari disudut kamar dan sebuah pintu kayu yang menghubungkan ke dalam kamar mandi. Tidak begitu luas namun lumayan untuk harga sebuah jaket rajut.
"Kau bisa mandi duluan," ujar Seol-A kepada Jungkook yang diangguki pria itu.
Lima belas menit berlalu, Jungkook keluar dengan rambut basahnya. Masih dengan pakaian yang sama, pria itu melempar asal handuk basahnya ke atas meja kemudian duduk di atas kasur bergabung dengan Seol-A.
"Mendekatlah," pinta Seol-A sembari membuka kotak p3k yang ia minta beberapa waktu lalu.
Jungkook menaikkan alis kanannya, "Kupikir kau tidak suka berinteraksi dengannya," kemudian menyisir rambut basahnya ke belakang agar Seol-A mudah mengobati wajahnya.
Jujur, Jungkook benar-benar terlihat tampan sekarang. Seol-A sendiri tidak tahu harus kemana ia memaku pandangan, setiap gerakan kecil dari Jungkook selalu memancing ritme jantungnya, seakan membuatnya waspada, memberi peringatan berbahaya yang nyatanya Seol-A sulit untuk hindari.
"Terpaksa," Seol-A menjawab singkat kemudian segera berdehem saat renanya bertabrakan dengan Jungkook. Pria itu menatapnya seolah tidak ingin melepaskan tautan rena mereka.
Jungkook menangguk diikuti tangan Seol-A yang ebrgerak mengoles salep pada luka-luka di wajah Jungkook. Pria itu sesekali meringis dan Seol-A berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlalu menekan lukanya. Ini merupakan pekerjaan yang berat bagi Seol-A, baik tenaga maupun fokusnya, dua-duanya berhasil diserap.
Mulai dari area pelipis, turun ke area pipi kemudian sudut bibirnya. Seol-A tak sengaja menyentuh tindik yang melekat pada bibir pria itu, sensasi dingin dari besi itu menjalar pada jari telunjuk Seol-A. Entah kenapa ingatan akan tautan bibir mereka sewaktu di gang kembali berputar dalam benaknya.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Seol-A sembari mengenyahkan pikiran anehnya beberapa waktu lalu.
Seolah terpikirkan sesuatu, mata Seol-A mendadak melebar dan Jungkook tahu, pikiran gadis didepannya itu pasti dipenuhi oleh hal-hal negatif saja.
"Jangan-jangan kau adalah preman yang sehabis mencuri dan..."
"Hentikan dugaan tidak masuk akalmu, kita hanya sedikit berselisih jadi mereka mengejarku," Jungkook menjauhkan wajahnya saat Seol-A sudah selesai mengobati luka pada wajahnya.
Sebenarnya Seol-A tidak yakin, tapi untuk sekarang dia percaya saja. Kehidupan pria itu tampak rumit. Seol-A sudah hendak berdiri sebelum kembali terduduk saat Jungkook menarik lengannya.
Jungkook tiba-tiba melepaskan kaos hitam yang ia pakai, berakhir pada Seol-A yang membulatkan mata hendak memprotes.
"Apa yang kau..."
"Sekalian," ujar Jungkook santai sembari mengedipkan matanya.
Lagi-lagi Seol-A berdehem, susah payah menahan diri untuk tidak melihat ke arah perut atletis pria itu. Seol-A harus fokus untuk mengobati saja. Tetapi tidak bisa ditepis, tubuh Jungkook sangat bagus, pria itu pasti sering berolahraga.
Jungkook tersenyum mengamati perilaku gadis itu yang teramat hati-hati mengoleskan obat pada tubuhnya, "You are blushing now."
Aksen pria itu terdengar begitu memanjakan telinga Seol-A, suara beratnya terasa sempurna bagi Seol-A.
"Jung..."
"Iya-iya, aku tidak akan menggodamu lagi," Jungkook mengangkat kedua tangannya ke atas kemudian meraih kaosnya dan memakainya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau menarik tanganku tadi? Andai kau membiarkanku, pasti kita tidak akan terjebak disini,"
Kerutan dahi Jungkook terlihat, senyum terpaksa ia perlihatkan. Kalimat Seol-A terdengar seperti gadis itu tidak suka berurusan dengannya dan mungkin membencinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 Days ✔️
Fanfiction(COMPLETED) Dia Lee Seol-A, gadis berusia dua puluh empat tahun yang didiagnosa oleh dokter akan suatu penyakit aneh. Perasaan Seol A seakan mati rasa. Sebab semenjak mengidap penyakit itu, segala macam emosi tak mempan bagi dirinya. Seol-A tidak pe...
