48

2.4K 752 53
                                        

Bab 48

Nat memeluk kedua orang tuanya, kakaknya, paman, bibi, serta para sepupunya sebelum akhirnya ia pamit untuk masuk ke mobil yang sudah dipersiapkan.

Hari ini Nat akan ikut suami dan keluarganya pulang ke Ibukota dan memulai kehidupan baru dengan status baru tentunya.

Rombongan mobil akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumah dan keluarga Nat yang langsung masuk untuk merapikan rumah usai menjamu para tamu dari pihak keluarga.

Sementara di seberang rumah Nat, rumah Pak Hasan tampak kosong karena keluarga itu sedang pergi tak kuat menahan malu akibat ulah putri mereka.

Tepat pada pukul 11.00 siang, rombongan akhirnya tiba di kediaman Bima Sanjaya.

Arga yang duduk di sebelah Nat membangunkan gadis itu yang sedang terlelap.

"Kita sudah sampai?"

Nat mengerjap matanya menatap sekeliling. Sedikit tercengang saat melihat keluar jendela kaca terdapat bangunan megah dengan pekarangan luas yang ditumbuhi pohon serta bunga. Juga, taman dengan air mancur di sisi barat.

"Iya. Ayo, turun. Mami dan yang lainnya sudah sampai juga."

Arga turun terlebih dahulu kemudian membuka sisi mobil tempat di mana Nat berada. Pria itu mengulurkan tangannya yang disambut Nat saat turun dari mobil dan menatap area sekitar.

Meskipun Nat terlahir dari keluarga kaya raya, rumah yang mereka tempati tidak sebesar rumah orang tua Arga. Kalau boleh jujur ukuran rumah kedua orang tua Arga yang ini mungkin  2 kali lebih besar dari rumah mereka ataupun rumah bapaknya Arga.

"Kok, bengong? Ayo, masuk."

Arga menarik tangan Nat menuju pintu utama diikuti oleh keluarga besar yang lain. Termasuk Dirman, Ratna, dan Husein.

"Selamat datang di keluarga kami, Nat. Karena kamu sudah menjadi anggota keluarga kami, jangan pernah sungkan kalau kamu ada perlu apa-apa." Nia tersenyum hangat menatap menantunya. "Kalau Arga nakal, bilang sama Mami. Nanti mami yang bakal kasih hukuman ke dia."

"Mi," sungut Arga, menatap maminya cemberut.

Melihat kelakuan Arga yang sangat berbeda, tentu saja Nat merasa terkejut.

"Kamu jangan heran kalau lihat sifat asli Gano, ya, Nat. Aslinya dia memang pecicilan dan suka buat onar," ujar Roy, sambil tersenyum hangat. Pria itu sangat bahagia cucunya akhirnya menemukan jodoh.

"Iya, Opa." Nat mengangguk dan tersenyum manis.

"Opa, kapan aku pernah buat ulah? Aku adalah anak yang paling kalem di antara adik-adikku."

"Itu kata Abang. Kalau kata aku yang paling kalem itu Bang Jillo," celetuk Alana, menatap kakaknya.  "Iya 'kan, Mi?"

"Tepat sekali." Nia tersenyum menepuk kepala putrinya pelan. 

"Kenapa kita pada ngobrol di luar? Ayo, masuk. Nanti Nat langsung dibawa ke kamar aja, Gan."

Arga mengangguk menatap papanya.

Pintu utama dibuka dari dalam dan muncul sosok Bu Idah bersama Mpok Atun. Satu persatu di antara mereka akhirnya masuk setelah menyapa dua asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan mereka. Mbak Yuni keluar dengan membawa nampan berisi minuman dingin yang ia hidangkan di atas meja.

Sementara Arga langsung membawa Nat ke kamarnya yang berada di lantai 2.

"Ini kamar yang akan kita berdua tempati."

Senyum Arga membeku saat melihat dekorasi kamarnya yang sudah berubah total.

Lemari pakaiannya yang semula diganti dengan yang baru dan ukurannya lebih panjang dari sebelumnya. Kamarnya yang semula di cat berwarna abu-abu, kini berubah menjadi warna gold. Hordeng abu-abunya pun sudah diganti dengan warna merah muda. Sudah ada satu set sofa dengan menghadap layar televisi menempel di dinding. Semua alat game elektroniknya disusun dengan rapi di bawah televisi. Karpet warna hitam miliknya pun diganti dengan warna merah muda campuran gold.

Jangan lupa, tempat tidurnya pun sudah diganti dengan ukuran king size dengan sprei dan selimut berwarna putih bersih.

Nat melirik Arga yang baru ia ketahui menyukai warna feminim.

Menyadari lirikan istrinya, Arga menggeleng kepalanya.

"Kamar aku sebelumnya enggak kaya gini. Ini sepertinya ulah mami."

"Terima kasih dong kalau begitu ke mami, Ga. Bagus 'kan dekorasi ulang  yang mami persiapkan buat kamu?"

Tiba-tiba Nia sudah berdiri di pintu sambil bersedekap.

"Kamar ini Mami dekor ulang 6 hari yang lalu. Pas kamu enggak pulang," tambahnya, sambil tersenyum. "Nanti kalau kalian mau ngadain foto nikahan, Mami sudah siapkan satu tempat khusus untuk foto ukuran besar."

Wanita cantik itu menunjuk bagian atas dinding dari tempat tidur Arga yang memang sengaja dikosongkan untuk meletakkan bingkai foto.

"Gimana? Bagus 'kan mami yang dekor? Enggak seperti kamar kamu sebelumnya. Suram dan enggak sedap di pandang."

Bibir Arga bergerak tanpa suara menatap maminya. Tidak mungkin juga ia sebagai anak laki-laki memilih warna feminim seperti ini sebelumnya. Namun, karena sudah punya istri, mau  warna apapun tidak masalah, asal jangan warna merah muda. Bisa sakit matanya jika semua perabotan dan cat diganti dengan warna merah muda.

Arga datang kemudian memeluk maminya dari samping. "Iya, Mi. Terima kasih banyak, ya. Aku suka sekali."

"Siapa dulu, mami dong ini." Nia menepuk kepala putranya pelan. "Ngomong-ngomong, Nat, kamu jangan cemburu kalau Arga peluk mami. Anak ini memang kadang manja, kadang juga menyebalkan. Mami enggak mau ya, nanti ada konflik menantu yang cemburu sama mami."

Mendengar itu Nat tersenyum. Gadis itu menggeleng kepalanya dan menjawab, "aku enggak akan cemburu sama Mami."

Bagi Nat, ia masih punya mata untuk mencemburui siapapun yang ada di dekat Arga. Dirinya tidak gila untuk mencemburui wanita cantik di depannya yang sudah lebih dulu kenal dengan Arga.

"Syukurlah kalau begitu." Nia tersenyum kemudian mencubit perut putranya. "Lepas. Geli lama-lama kalau dipeluk kayak gini sama kamu. Sana, kalian berdua membiasakan diri dulu. Nanti kalau mau makan siang, kalian dipanggil."

"Kalau begitu nanti aku bantu masak aja, Mi." 

Sebagai menantu di rumah ini tentu saja Nat akan menawarkan diri untuk membantu memasak. Namun, Nia menolak dan meminta agar Arga dan Nat istirahat lebih dulu.

"Selamat datang di kamar kita."

Arga melangkah masuk kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

"Aku boleh merapikan baju-bajuku di lemari, Mas?"

"Of course. Enggak perlu izin sama aku karena ini kamar kamu juga."

"Kalau begitu Mas Arga istirahat aja dulu. Biar aku merapikan baju-baju di lemari." Nat membuka sepatu dan kaos kaki Arga hingga membuat siempunya sedikit tersentak.

"Eh."

Nat tersenyum menatap wajah Arga yang terkejut. "Enggak apa-apa, Mas. Ini tugas pertama aku sebagai istri melayani Mas Arga."

Manik mata Arga berbinar menatap Nat. Pria itu kemudian mengangguk dengan senyum manis yang terpatri di wajah tampannya. Beginilah rasanya memiliki istri, yang akan selalu dilayani, pikir Arga.

KEJAR TARGET (sequel Dilema Istri Kedua)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang