bab 6

1.2K 59 0
                                        

Masih dalam mode ngambeknya jeon, jeon memasuki kampus dan masuk ke kelas. Bukannya jeon ingin menghindari keluarga seperti ini tapi jeon merasa keluarga nya menyembunyikan sesuatu yang mungkin itu akan berdampak dengan kehidupan jeon. Jeon mengikuti kegiatan ngampusnya dengan lesu.

Leo yang melihat sahabatnya tidak bersemangat membuat semangat Leo juga ikut hilang, Leo tidak tahu apa yang terjadi dengan jeon karena jeon enggan untuk mengatakannya kepada Leo.

Setelah kelas mereka usai, Leo mengejar jeon yang sudah keluar dari kelas dan merangkul sahabatnya itu.

" Je jangan murung Mulu dong, gue ikutan sedih deh ngeliat Lo kayak gini" Leo mengeluarkan mungka sedihnya

" Aish kau ini, aku lagi males berdebat jadi bisakah kau meninggalkan aku sendiri disini atau kau boleh pulang duluan" jengah dengan sikap sahabatnya yang satu ini

" Jadi kau mengusirku, tega sekali" memanyunkan bibirnya

" Terserah kau saja, aku sangat tidak ingin bercanda saat ini, kau boleh per" belum sempat omongan jeon selesai, tangan jeon sudah di tarik oleh seseorang menjauh dari Leo

Leo yang melihat orang yang menarik jeon tidak berminat untuk menolong jeon, jeon langsung menoleh dan mendapati Kevin berjalan didepannya dnegan tangan yang masih menarik jeon.

Sesampainya di parkiran jeon menghentakkan tangan Kevin agar melepaskan tangannya tapi nihil, kekuatan Kevin sangat besar.

" Lepasin Vin, gue lagi nggak mau ketemu sama Lo atau yang lainnya" marah jeon

" Lalu sampai kapan kamu menghindari dan keluargamu, bunda sangat khawatir melihat kamu seperti jeon, please jangan bersikap kekanak-kanakan" bentak Kevin

Baru kali ini jeon mendengar suaran bentakan yang keluar dari mulut Kevin semenjak mereka kenal dan dekat, seketika membuat jeon terdiam dan menatap dalam ke dalam mata Kevin.

" Kenapa kamu diam, merasa bersalah, merasa tidak berdaya, merasa di bohongi iya" untuk sekian kalinya Kevin membentak jeon

Tanpa jeon minta air matanya sudah berkumpul di pelupuk matanya dan siap jatuh membasahi pipinya, dengan cepat jeon menghapus air matanya dengan kasar

" Ya aku merasa bersalah, aku merasa tidak berdaya dan ya aku merasa di bohongi, puas Lo bentak gue, apa lagi yang Lo bicarakan" teriak jeon tak mau kalah dengan Kevin

Mereka sudah menjadi tontonan anak kampus jeon. Terdengar bisikan-bisikan yang di lontarkan oleh anak kampus jeon.

" Ada apa dengan jeon"
" Kenapa dia menangis"
" Kasian jeon"
" Jeon seperti anak kecil"
" jeon Kekanak-kanakan"

Kurang lebih seperti itulah kata mereka. Jeon yang menyadari menjadi pusat perhatian menatap Kevin dengan tatapan sendu dan melangkah untuk meninggalkan Kevin sebelum sebuah tangan menghentikan gerakan nya. Tangan itu menarik jeon dan memeluk jeon yang siap menumpahkan air matanya. Jeon terisak dalam pelukan Kevin cowok yang menariknya ke dalma pelukannya.

" Sstt, jangan menangis lagi, teman-temanmu memperhatikan mu sekarang" ucap Kevin

" Hiks biarkan hiks saja hiks mereka hiks melihat ku hiks aku tidak peduli hiks" ucap jeon yang masih menangis di pelukan Kevin

Entah ada apa dengan jeon tapi dalam pelukan Kevin jeon merasa aman dan tidak takut dengan sekitarnya yang sekarang melihat dengan tatapan jijik, terharu, dan berbagai macam bentuk ekspresi mereka.

Kevin menggendong jeon ala bridal masuk ke dalam mobil dan membawa jeon ke sebuah tempat, lebih tepatnya mension yang belum pernah di lihat jeon. Jeon terperangah melihat betapa besar dan indahnya mension di depannya itu. Tanpa jeon sadari mulutnya menganga dan itu berhasil membuat Kevin tersenyum tipis.

" Ayo masuk, ada orang yang ingin bertemu dengan mu" Kevin menarik tangan jeon

Jeon mengikuti langkah Kevin dan mereka masuk ke dalam mension dan untuk kesekian kalinya jeon ternganga melihat isi mension tersebut.

" Hei berhenti melihat mension ini, ikuti kau menemui seseorang yang mungkin akan membuatmu lebih kaget lagi" ucap Kevin membuyarkan lamunan jeon

Jeon mengikuti langkah Kevin dan sampailah di sebuah ruangan yang di tebak jeon sebagai ruang keluarga, disana ada seseorang yang membelakangi mereka.

" Khmmm" deheman Kevin membuat orang itu berbalik dan tersenyum saat melihat jeon

Jeon yang mendapatkan senyuman dari orang itu hanya bisa membalas senyumannya dengan kikuk.

" Lama tidak bertemu jeon" sapa orang itu

" Ma.ma.maaf sebelumnya kau siapa dan dari mana kau tahu namaku" jeon terlihat bingung

Orang itu tersenyum dan berjalan mendekati jeon " kau tidak mengingat ku" ucap orang itu yang di balas gelengan oleh jeon

" Aku viaz, kita pernah bertemu saat kita berusia masih kecil di sebuah kota yang mungkin menjadi kenangan buruk untuk mu" jelas orang yang bernama viaz

Jeon mengernyitkan dahi nya dan menatap viaz mendalam, jeon tersentak saat sebuah bayangan melintas di kepalanya " kau" jeon kaget

" Akhirnya kau mengingatku jeon" senyum lebar dari viaz

Jeon tersenyum dan memeluk viaz, jeon terlihat sangat bahagia melihat sahabat kecilnya kembali.

" Khmm" deheman Kevin membuat dua orang sahabat itu melepaskan pelukannya dan menatap Kevin " sepertinya aku tidak di butuhkan lagi disini" ucap Kevin

Viaz tersenyum dan memeluk lengan Kevin " kau cemburu jika aku memeluk jeon, kau sangat tidak menarik" ucap viaz dan mencium pipi Kevin

Jeon yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa mematung setelah melihat viaz mencium pipi Kevin, jeon menelan ludahnya kasar dan berbalik untuk meninggalkan Kevin dan viaz namun pergerakan nya terhenti saat viaz menghentikan langkahnya

" Kau mau kemana, kau baru datang, kau setidaknya menghabiskan waktu mu dengan ku bukan, kau tidak kangen dengan ku" jeon tersenyum dan menatap viaz

" Aku tidak mau menganggu waktu kalian" ucap jeon

" Kau tidak menganggu kami malahan orang itu yang menganggu kita, apa perlu aku usir dia" menunjuk Kevin

" Hey kenapa aku yang harus di usir bukankah seharusnya kau yang harus pergi dari sini viaz, pacarmu sudah menunggu di depan" ucap Kevin menekankan pacarmu dalam kalimatnya

Viaz kaget dan menatap Kevin " benarkah, jika begitu aku harus pergi, bye jeon kita ketemu lagi di kampus oke" viaz mencium Kevin dan berlari ke luar mension

Untuk kesekian kalinya jeon terdiam dan menatap bingung viaz yang sudah menghilang di balik pintu mension. Jeon menatap Kevin dengan tatapan bertanya.

" Kau bingung dengan viaz" tanya Kevin

Jeon hanya menganggukkan kepalanya

" Dia itu sepupuku yang akan tinggal disini sampai dia tamat kuliah, dia kesini saat tau kalau kau juga ada disini" jelas Kevin

Jeon masih belum percaya dan masih menatap Kevin dengan tatapan intimidasi

Kevin menghembus nafas kasar dan menangkup kedua pipi jeon " apa yang kau ragukan, apa kau melihat kebohongan di mataku"

Jeon menggeleng dan tersenyum sebelum jeon memeluk Kevin dengan sangat erat.





Thank



Maksih udah mau membaca dan mampir di buku ini




Maaf jika tidak terlalu menarik


Jangan lupa


Like



Komen agar aku bisa mengubahnya

for youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang