𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Jarum jam menunjukkan pukul empat lewat lima belas sore. Keheningan mendominasi ruangan bermatras itu, hanya dipecahkan oleh suara hantaman keras yang terdengar.
Seorang remaja laki-laki mengenakan Dobok dengan kerah dan sabuk hitam legam tampak bergerak lincah. Ia berdiri sendirian, menjadikan samsak di depannya sebagai objek tumpuan seluruh tenaganya.
Dia adalah Reygenta Putra William. Sudah hampir dua jam Reygen menghabiskan waktu di sana, sekedar mengusir kebosanan yang kerap menggelayuti kepala, dan sekaligus mengasah insting bela dirinya.
BUGH!
BUGH!
BRUK!
Reygen menjatuhkan tubuhnya ke atas matras, membiarkan dadanya naik-turun meraup oksigen yang mendadak menipis. Setelah beberapa menit berbaring untuk menetralkan detak jantung, ia bangkit. Sambil menyampirkan tas olahraga hitam di bahu kiri, ia melangkah ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Tak butuh waktu lama bagi Reygen untuk bersiap. Ia keluar dari gedung latihan, menaiki motor sport hitamnya, lalu membelah jalanan kota.
Waktu merambat cepat hingga menunjukkan pukul enam lewat sepuluh malam. Langit Jakarta mulai menanggalkan warna jingganya, berganti jelaga yang dihiasi lampu-lampu jalan yang mulai berpijar satu per satu.
Di tengah perjalanan, Reygen mendadak mengubah pikirannya. Ia membelokkan motor ke pelataran sebuah kafe. Pikirnya, untuk apa buru-buru pulang ke rumah jika satu-satunya hal yang menyambutnya di sana hanyalah kesunyian yang mencekik?
"Permisi, mau pesan apa, Kak?" Tanya seorang pelayan dengan senyum ramah.
"Satu Flat White."
"Baik, mohon ditunggu ya, Kak."
Setelah pelayan mengantarkan pesanannya, Reygen duduk bersandar. Ia menyesap kopi hangatnya perlahan sementara sepasang matanya mulai bergerak acak, mengamati sekeliling.
Pandangan Reygen terus menjelajah hingga akhirnya gerakannya terkunci pada sudut serambi kanan kafe. Di sana, seorang gadis duduk menyendiri. Penampilannya tampak tenang dengan sepasang airpods di telinga, dengan tangan kiri memegang secangkir kopi, sementara atensinya terikat sepenuhnya pada lembar-lembar buku di pangkuan.
"Cantik." Gumam Reygen spontan. Sepotong senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.
Reygen betah berlama-lama memandangi gadis itu. Matanya terus mengekor ke mana pun sang gadis bergerak, mulai dari saat ia menutup buku, berdiri melangkah ke kasir, hingga berbalik menuju pintu keluar.
Ada secercah rasa tidak rela di dada Reygen saat menyadari gadis itu akan hilang dari pandangannya. Bergerak cepat, Reygen meletakkan uang di meja, melangkah lebar keluar kafe dan sengaja menciptakan sebuah skenario kecil di dekat pintu. Setelah memutar otak cepat.
DUGG!
"Oh, sorry." Ucap gadis itu refleks saat tubuh mereka bersenggolan. Padahal, tabrakan kecil itu murni rekayasa Reygen yang sengaja memotong jalurnya.
Gadis itu tidak langsung pergi. Ia mengerjap heran karena pemuda di hadapannya ini sama sekali tidak bergeser, melainkan justru berdiri tegap sembari menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Situasi di antara mereka mendadak hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya Reygen memecah kecanggungan dengan suaranya yang berat dan terdengar serak.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Different 'R' (Selesai)
ActionAda hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita. Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
