19 Ibarat Bunga Peony

940 160 7
                                        


𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Minggu pagi ini Retania akan berkunjung ke kediaman Jeyen sesuai ajakan sang tuan rumah. Tidak ada alasan bagi Retania untuk menolak. Lagi pula, di hari Minggu yang cerah ini dirinya memang sedang tidak memiliki agenda kegiatan.

Pukul 09.50 Retania sudah mendapati pesan dari Jeyen tentang dirinya yang telah berada di lobby apartemen. Dengan sedikit tergesa, Retania keluar tak ingin Jeyen menunggu terlalu lama.

Menangkap figur gadis yang ia tunggu, Jeyen beranjak dari posisi duduk. Matanya menangkap penampilan Retania yang sederhana namun tetap terlihat cantik. Rambut pirang panjangnya diikat Messy bun sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang. Dengan atasan kaos hitam polos pendek yang hanya sebatas bawah pusar, ditambah memakai kulot highwaist cream yang menambah kesan tinggi pada dirinya.

Jeyen sedikit menyunggingkan senyum, tanpa janjian-pun kini Ia juga mengenakan kaos hitam di balik jaket kulitnya. Anggap saja kebetulan, tapi nyatanya hal itu membuat Jeyen teramat senang.

"Udah siap?" Jeyen bertanya yang dibalas anggukan oleh sang gadis.

Dengan begitu, kini mereka melangkah beriringan menuju area parkir. Dari ekor matanya Jeyen dapat melihat Retania yang sedang memakai jaket yang tadi ia bawa.

"Kita bisa tunggu di sini sekitar sepuluh menit lagi?" tanya Jeyen tiba-tiba menghentikan langkah.

"Memangnya ada masalah kak?"

"Enggak ada, Re. Cuma lagi nunggu sopir buat anterin mobil ke depan."

Sejenak gadis itu terdiam, melihat ke arah sebuah motor di depan mereka. "Ini motor kak Jeyen kan? Kenapa gak pakai ini aja?"

"Takutnya rambut lo rusak."

"Enggak kok. Lihat, aku sudah pakai jaket dan siap cabs pakai motor. Gak ada masalah sama rambut aku."

"Lo yakin?" Tanyanya memastikan.

"Seratus persen yakin."

Setelah siap di atas motor, tak lupa Jeyen menyodorkan satu buah helm untuk Retania. Lelaki itu kemudian menepuk pelan pundak kirinya sendiri, memberikan kode tanpa suara agar Retania bisa menjadikan bahu tegapnya sebagai tumpuan untuk naik ke atas jok motornya yang terbilang cukup tinggi.

"cabs pakai motor, cabs.. cabs.. pakai motor."Gumam Retania pelan dengan nada berirama riang.

​"Senang banget kayaknya?" Dengan seulas senyuman tipis yang jarang diperlihatkan, Jeyen bertanya, merasa gemas sendiri di dalam hati menyaksikan tingkah antusias dan excited dari seorang Retania.

"Iya dong! Come on, sir.. Kita jalan."

"Baik young lady."

Sepanjang jalan, Ia dapat melihat Retania dari kaca spion yang terlihat menikmati udara segar di pagi ini. Jeyen sendiri sengaja memilih rute jalanan yang cenderung lenggang dan dipenuhi deretan pepohonan hijau yang rindang di sepanjang sisinya.

"Kak.. boleh mampir ke toko bunga dulu gak?"

Jeyen sedikit terkejut saat mendapati wajah Retania yang tiba-tiba condong mendekat tepat di samping sisi wajah kirinya untuk melayangkan pertanyaan tersebut. Walaupun wajah mereka terhalang oleh material helm, tetap saja posisi intim tersebut membuat jarak di antara tubuh keduanya kini menjadi sedikit rekat.

"Boleh." Jawab Jeyen singkat namun terdengar lembut.

Setelah beberapa menit, Jeyen membawa sang gadis berhenti di toko bunga pinggir jalan.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang