11 Kemenangan Tak Terelakan

1.7K 212 7
                                        

𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Hari masih tergolong cukup pagi, namun hiruk-pikuk di dalam restoran hotel sudah terasa hidup.

Para murid dan guru pendamping telah berkumpul rapi di meja makan, mengisi tenaga dengan menu sarapan yang bergizi.

Setelah urusan logistik perut selesai, atmosfer mendadak berubah serius saat atensi semua orang tersita sepenuhnya pada wejangan yang mulai dilontarkan oleh Miss Tasa.

Dengan gerakan taktis, Miss Tasa membagikan ID card resmi kompetisi kepada Heron, Reygen, Ednan beserta tim basketnya, serta Jeyen dan Retania sesuai dengan sub-bidang perlombaan yang mereka wakili.

Setelah menjabarkan denah dan letak ruangan steril tempat kompetisi berlangsung, sang guru mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyuman penuh harap.

"Pray, try, and focus, okay?"

"Baik, Miss." Jawab mereka serentak.

"Bagus. Masing-masing dari kalian akan didampingi oleh lima orang suporter dan dua guru pendamping, kecuali untuk cabang Olimpiade Sains yang hanya akan dikawal oleh saya sendiri. Ruangannya steril dan tertutup rapat untuk umum. Ada yang mau ditanyain dulu?"

"Cukup, Miss." sahut Ednan mewakili yang lain.

"Baik, kalau gitu kita langsung menuju ke lokasi masing-masing. Semangat, anak-anak!"

Rombongan besar itu pun mulai terpecah, melangkah ke arah yang berbeda-beda demi menunaikan tugas masing-masing. Pengecualian berlaku untuk Heron, Reygen, Ednan, Davin, dan Budiano yang masih bergeming di posisi semula, menatap punggung Jeyen dan Retania yang berjalan beriringan di depan.

"Jeyen!" panggil Reygen dengan intonasi suara yang sengaja dikeraskan, sukses menghentikan pergerakan sang empunya nama.

Jeyen membalikkan tubuhnya perlahan, menatap datar ke arah kerumunan disana. Ia menaikkan sebelah alis kirinya, gestur bisu yang menuntut kejelasan.

Sebagai jawaban, Reygen mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan simbolis yang sarat akan ancaman, ia mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya ke arah matanya sendiri, lalu membalikkan jemari itu tepat ke arah sepasang netra Jeyen sembari memicingkan mata tajam.

Sebuah isyarat non-verbal yang berarti "Gue awasin lo. Jangan berani-berani macam-macam sama Retania."

Mendapati intimidasi terselubung yang kekanak-kanakan itu, Jeyen hanya memutar bola matanya malas. Tanpa berniat melontarkan sepatah kata pun untuk membalas, ia langsung berbalik arah.

"Woy, Jeyen! Ngomong lo, jangan diam aja!" seru Reygen emosi karena diabaikan.

"Bodoh." Sahut Jeyen ketus tanpa menoleh lagi.

Langkah kakinya sengaja diperlebar guna menyamai ritme berjalan Retania yang tengah mengobrol santai dengan Miss Tasa di depan lorong.

Reygen sudah bersiap melayangkan makian makian kasar, namun urung saat gelombang suara menggelegar milik Budiano mendadak memekakkan telinga seisi koridor.

"RETANIANAAAA! SEMANGAT YA CANTIK KEBANGGAAN ABANG!"

Mendengar seruan heboh itu, Retania sedikit menoleh ke belakang. Gadis itu mengulas senyum tipis yang manis, lalu mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi ke udara sebagai respon balasan atas suntikan semangat dari Budiano.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang