𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Malam itu begitu khusyuk. Bulan menggantung tenang, menumpahkan cahayanya ke bumi. Angin berhembus tipis, membawa hawa sejuk yang seharusnya mengantar setiap insan menuju tidur yang lelap.
Namun, kedamaian itu tercabik seketika.
Di dalam sebuah mansion megah, kesunyian runtuh digantikan oleh kericuhan yang mengerikan. Suara letupan senjata, jeritan histeris, dan barang-barang yang hancur berhamburan, seketika mengusik tidur sepasang suami istri dan putri kecil mereka. Jantung mereka berdegup liar, dicengkeram kecemasan yang mendadak.
"Apa yang terjadi di bawah?!" Agraham berteriak tertahan, jemarinya mencengkeram ponsel, menghubungi kepala keamanan mansionnya dengan tergesa.
"Tu-Tuan! Ada sekelompok orang bersenjata memaksa masuk! Kami semua kewalahan... banyak yang sudah tumbang. Mereka... mereka sepertinya musuh dar—"
Klik. Sambungan terputus sepihak.
"Ada apa, Agra?" Alya, sang istri, bertanya dengan suara bergetar. Agraham menatap istrinya, lalu beralih pada putri kecil mereka yang mengerjap ketakutan.
"Istriku, aku harus turun ke bawah. Kalian berdua tetap di sini, jangan keluar kamar sama sekali ya. Papa sayang kalian."
Setelah mendaratkan kecupan kilat yang hangat di kening istri dan putrinya, Agraham berbalik. Ia melangkah keluar kamar dengan tergesa. Menuruni undakan tangga satu per satu, matanya memanas, pun rahangnya yang mengeras menahan murka.
Begitu tiba di ruang utama, kekacauan langsung menyambutnya. Tanpa berpikir panjang, Agraham menerjang salah satu pria asing, melayangkan pukulan mentah, lalu merebut pistol yang terjatuh di lantai.
DOR!
"MAMAA!"
Suara tembakan pertama mengudara, menggema memekakkan telinga ke seluruh penjuru mansion. Pekikan sang putri di atas sana membuat Alya tidak bisa lagi tinggal diam. Rasa takutnya menguap, digantikan insting seorang ibu.
"Sayang." Alya memegang kedua bahu putrinya, mencoba tersenyum tegar meski bibirnya gemetar.
"Mama harus turun ke bawah sebentar. Janji pada Mama, jangan pernah keluar dari kamar ini sampai Mama dan Papa kembali, mengerti?"
"No, Mama no! Princes tidak mau sendiri..." Jawab si kecil dengan pelafalan huruf 'R' yang belum sempurna.
"Tentu saja tidak sendiri. Mama cuma sebentar, Sayang. Nanti Mama kembali lagi bersama Papa, hm?"
"Promise me, Mama... jangan lama-lama ya?" Pinta bocah berusia lima tahun itu dengan mata berkaca-kaca. Alya mengangguk cepat, menelan semua kekhawatirannya.
"Mama dan Papa sangat menyayangimu."
Alya berlari keluar kamar. Namun, pemandangan di lantai bawah langsung membuat dunianya runtuh. Suaminya terkapar dengan luka tembak di betis, sementara para pengawal dan pelayan telah bersimbah darah di atas lantai—entah masih bernyawa atau tidak.
Air mata Alya luruh. Ia berlari menerjang noda darah, menghampiri suaminya dengan dada yang amat sesak.
"AGRA!"
Pandangan Alya beralih tajam pada sosok pria paruh baya yang berdiri pongah di tengah ruangan. Alya mengenalnya, dia adalah saingan bisnis suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Different 'R' (Selesai)
ActionAda hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita. Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
