Ada hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita.
Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
Pagi ini Retania menerima panggilan dari Mama Nita. Karena kesibukannya akhir-akhir ini, Retania jarang sekali menghubungi ibu dari Heron itu untuk sekadar bertanya kabar. Ada rasa bersalah yang sedikit menyelusup di dadanya. Berjalan dengan piyama yang masih melekat, Retania melangkah ke dapur, meneguk air putih hangat, lalu membuka ventilasi apartemennya.
"Aku baik, Ma. Mama sendiri bagaimana?"
"I'm very well. Cuma.. sudah rindu berat sama kamu."
"Ah.. Maaf Mama, aku udah lumayan lama gak ketemu sama Mama Papa, ya."
"Jawabannya, iya sayang."
"Jadi? Kita harus meet up hari ini dong? Mama ada agenda menyenangkan hari ini. Mama sudah belanja banyak bahan makanan buat nanti kita masak-masak dan makan bersama. Kebetulan Papa juga pulang cepat hari ini. Mau ya?"
"Atau... mau meet up di luar aja? Kita belanja bareng, lunch sama-sama atau apapun itu, yang penting kamu sama Mama hari ini, Oke Retania sayang?"
Mendengar lontaran kalimat menggebu-gebu yang penuh nada antusias dan harapan secara bersamaan itu, membuat Retania merasa harus menerimanya. Maka, dengan nada antusias pula, Retania mengatakan ya.
"Okay Mama. Kita masak-masak aja yaa? Kan sudah beli bahannya juga, tinggal kita masak suka-suka."
Sembari berkata, Retania berpindah laman pada layar ponselnya. Beralih ke Roomchat Jeyen di sana, lantas segera mengirim pesan apa perlunya— dengan masih tersambung telepon dengan Mama Nita.
Tak menunggu lama, kekasihnya itu cepat menjawab.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kalau gitu pagi ini jam berapa sayang?"
"Mama mau jam berapa?"
"Jam sembilan? Biar nanti waktu nya pas buat makan siang."
"Iya Mam, boleh."
"Kamu berangkatnya sendiri? Atau mau Mama suruh Pak Anto buat jemput kamu?"
Merasa pesan dari Jeyen membutuhkan atensi penuh, Retania mencoba memotong pembicaraan dengan sopan, meski ia harus sedikit berbohong untuk mengalihkan perhatian.
"Emm, Mama, aku izin urus ayam goreng aku sebentar ya?"
"Oh kamu masak buat sarapan? Iya-iya, nanti kalau sambil telfon-an, kamu gak fokus.. bisa kena minyak nanti."
"Iya, tunggu sebentar ya Ma."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.