𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Helaan nafas terdengar dari Retania yang kini berada tepat didepan loker miliknya, yang dimana saat ia ingin mengecek buku catatannya yang mungkin berada di sana, justru mendapatkan sampah minuman dengan beberapa tulisan yang tidak mengenakkan.
Segala untaian kata makian sejenis pelacur dan sebutan lain yang bermakna sama tampak tertulis berulang kali, memenuhi dinding bagian dalam lokernya.
Akhir-akhir ini, Retania memang merasa energinya sedikit terkuras dan kesal. Ia terus-menerus mendapatkan kiriman pesan beruntun dari nomor tidak dikenal yang isinya hanya berupa umpatan kasar serta rentetan kata-kata yang menjengkelkan. Ia sengaja memilih untuk tidak memblokir nomor tersebut karena ingin tau seberapa jauh sang pengirim berniat untuk mengusik ketenangannya.
Belum lagi fakta bahwa Retania masih sering mendapati tatapan sinis dan bisikan merendahkan dari beberapa siswi saat berjalan di koridor. Ditambah lagi, ia juga sempat mendapati komentar kebencian di postingan Instagram terakhirnya.
Anehnya, setelah beberapa menit berselang, nama-nama akun yang sempat terekam di dalam memori otaknya yang pintar itu mendadak menghilang begitu saja tanpa jejak. Mungkinkah akun-akun itu telah dilaporkan oleh seseorang?
Dan sekarang, loker pribadinya yang harus menjadi korban vandalisme emosional.
Mengembuskan napas untuk kesekian kalinya, Retania menyadari bahwa ia harus segera mensterilkan isi lokernya. Meminta bantuan kepada staf kebersihan sekolah rasanya akan mempermudah pekerjaannya.
Namun, belum sempat kakinya melangkah beranjak dari tempat semula, ia sudah dikejutkan oleh presensi Ednan yang entah sejak kapan telah berdiri kokoh di belakang tubuhnya.
Menatap loker Retania dengan tatapan tajam, tiba-tiba saja Ednan membuka Jersey nya sembarang, menyisakan kaos dalam berwarna hitam yang menutupi tubuh atasnya.
Ternyata, jersey basket yang masih sedikit basah oleh sisa keringatnya itu sengaja ia gunakan sebagai lap darurat guna membersihkan noda tinta spidol hitam di loker Retania. Dengan gerakan cepat dan bertenaga, Ednan menghapus coretan-coretan kasar itu dengan mudah.
Membalikkan badan, Ednan menatap gadis didepannya untuk melihat ekspresinya. Lantas, Ednan letakkan satu tangannya di pinggang Retania dan segera mendorong gadis itu untuk ia dudukan di kursi besi di sana.
Sangat cepat, sehingga Retania yang sedikit terkejut hanya spontan berjalan membelakang agar tidak terjatuh.
Raut wajah kesal yang justru terlihat sangat lucu di mata Ednan kini terpancar jelas dari paras Retania. Menghiraukan tatapan sebal itu, Ednan berbalik dan pergi melangkah meninggalkan lorong begitu saja.
Namun, belum genap satu menit berlalu, sang kapten basket itu sudah kembali dengan membawa sebotol cairan pembersih tangan dan sekantong plastik kecil di genggamannya.
Dengan telaten, Ednan membuang seluruh sampah kemasan di dalam loker ke dalam kantong plastik, menyemprotkan cairan pembersih ke permukaan loker, lalu mengelapnya kembali menggunakan jersey miliknya hingga benar-benar bersih dan mengilap. Selesai dengan urusan loker, ia tak lupa mengaplikasikan pembersih tangan itu pada kedua telapak tangannya sendiri agar kembali bersih.
Kini, Ednan melangkah perlahan mendekati posisi duduk Retania.
Gadis itu saat ini terlihat sangat menggemaskan. Tangan yang bersidekap, bibir yang berpout cemberut, alisnya terlihat hampir menyatu dengan pandangan ke lantai, persis seperti anak kecil yang merajuk. Rasanya Ednan benar-benar ingin melakukan tindakan kriminal sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Different 'R' (Selesai)
ActionAda hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita. Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
