Ada hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita.
Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
"Ikut gue vin, lo gak akan tahan tinggal di sini."
"Dari dulu Jeyen, dari dulu gue udah gak tahan tinggal di sini. Kalau bukan karena Mommy, gue gak mau mengabdi sama pria tua itu."
"Lo tau? Gimana gue sama Mommy disiksa sama Daddy? Gak tau kan! Lo memang gak seperduli itu Jeyen. Setidaknya kalau lo gak bisa nunjukin sikap sebagai kakak yang baik, tunjukin gimana sikap sebagai anak yang baik."
"Melindungi Mommy dari siksaan Daddy, dari pukulan dia, tamparan dia.. harusnya lo tunjukin sikap itu sebagai anak Je... sebagai anak dari Mommy!"
"Tapi semuanya udah gak guna. Mommy udah pergi.. dan lo gak perlu perduli'in gue yang disini, mau hidup atau mati sekalipun."
"Gue juga berusaha selama ini, Vin. Gue coba masukin beberapa orang, buat ngawasin kalian dan mempengaruhi Mommy supaya mau keluar dari sana. Tapi selalu gagal."
"Gue dan Opa.. juga sudah coba ancam Daddy dengan bukti-bukti kejahatan dia. Tapi Mommy yang selalu jadi ancaman."
"Tanpa kita tau waktu itu, Daddy pasang peledak di kalung yang Mommy pakai. Kalung yang hanya bisa dibuka sama kunci yang dibawa Daddy, dan kalung yang bener-bener gak mau Mommy lepas.. secinta itu dia sama suaminya."
Jeyen tersenyum miris, membayangkan sosok mendiang Ibunya yang begitu mencintai suaminya yang bahkan selalu berlaku kasar dan semena-mena.
"Hal itu jadi kelemahan kita. Kalau sampai gue lapor polisi, dan ambil lo dari Daddy.. nyawa Mommy terancam waktu itu."
"Jadi tolong, pergi.. ikut gue. Ada Opa dan Oma yang sayang sama lo, vin."
"Makasih, gue pergi... tapi gak sama kalian. Gue mau tinggal sendiri dan mulai semuanya dari awal."
Melihat kepergian adiknya, Jeyen hanya dapat menghela nafas. Setidaknya, Davin pergi dari jeratan sang Ayah.
𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seluruh orang yang berada di koridor rumah sakit itu tampak menunggui pernyataan resmi dari dokter spesialis yang menangani kondisi kritis Retania saat ini. Para dokter beserta suster terlihat masih bekerja keras di balik pintu ruang operasi yang kini mereka pandangi dengan perasaan cemas yang luar biasa.
Jeyen, Reygen, Heron, Ednan, Suci, Jecky, dan para orang tua, semuanya berkumpul di sini tanpa terkecuali. Suasana koridor dipenuhi oleh para perempuan yang menangis tergugu di dalam pelukan lelaki mereka, juga beberapa orang yang hanya bisa menangis dalam diam demi menyembunyikan kerapuhan.