𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Terhitung satu hari lagi menjelang keberangkatan delegasi perwakilan SMA Cakra Raya ke Bandung untuk mengikuti kompetisi tahunan yang bergengsi.
Siang itu, atmosfer di dalam ruang sekretariat terasa cukup intens saat mereka berkumpul untuk membahas teknis keberangkatan. Di tengah keheningan, Retania tiba-tiba saja melontarkan sebuah usulan yang di luar dugaan.
"Gimana kalau kita berangkat ke Bandung naik motor aja? Pasti seru banget." Usul Retania santai.
Saran itu sebenarnya bukan hal yang mustahil untuk direalisasikan. Namun, esensi masalahnya adalah.. siapa yang nanti akan membonceng gadis itu? Jeyen, Ednan, Reygen, dan Heron seketika saling melempar tatapan sengit, masing-masing menolak menyerahkan posisi pengemudi di depan Retania kepada yang lain. Mereka tidak tau saja, bahwa ada maksud lain di balik saran yang dilemparkan sang gadis.
Melihat keempat pemuda di hadapannya malah terdiam dengan raut tegang, Retania langsung tau kegundahan apa yang tengah melanda pikiran mereka.
"Aku nanti naik motor sendiri kok. Jadi, nggak perlu bonceng siapapun." Lanjut Retania, memotong segala spekulasi perebutan bangku penumpang. Pernyataan itu sontak menuai riak keterkejutan.
Keempat lelaki di sana segera memfokuskan pandangan tajam mereka pada Retania, menuntut penjelasan lebih lanjut atas kalimatnya yang terdengar mustahil.
"Aku bisa naik motor." Tegas Retania meyakinkan.
"Itu bahaya buat lo, Re. Gue—bahkan kita semua nggak bakal ngeizinin lo." sahut Ednan langsung menyuarakan penolakan, didukung oleh anggukan setuju dari tiga lainnya.
"Please... waktu di Singapura aku belajar naik motor kok, jadi jago-jago aja." Mohon Retania, menampilkan binar mata memelas yang jarang ia tunjukkan.
"Meskipun kenapa-napa, kan ada kalian."
"Lo nggak bakal kenapa-napa. Don't talk like that! Jaga bicara lo." Potong Reygen dengan intonasi penuh penekanan yang tajam, tidak suka dengan pengandaian buruk yang diucapkan gadis itu.
Perkataan ketat dari Reygen sama sekali tidak membuat nyali Retania ciut. Ia justru mencebikkan bibirnya kesal karena usulannya langsung ditentang.
"Oke, maaf. Kalian lihat aja besok gimana cara aku mengendarai motor. Kalau aku ugal-ugalan kayak orang mabuk... aku bersedia bonceng salah satu dari kalian." Tawar Retania memberikan ultimatum terakhir.
Melihat kilat keseriusan dan keras kepala yang ada di sepasang netra abu-abu sang gadis, keempat pemuda itu akhirnya terpaksa mengembuskan napas pasrah dan menyetujui opsi tersebut. Mereka hanya bisa membatin, ingin melihat sejauh apa kemampuan gadis kota metropolitan ini dalam menaklukkan kendaraan roda dua.
𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Halaman luas SMA Cakra Raya sejak pagi buta telah bertransformasi menjadi lautan manusia, dipenuhi oleh hiruk-piruk para murid, guru, serta staf sekolah yang berkumpul untuk memberikan pelepasan resmi dan dukungan moral kepada perwakilan lomba tahunan mereka.
Tak sedikit pula murid yang ikut berangkat ke Bandung sebagai tim suporter, di antaranya terdapat Budiano, Davin, Nora, dan si anggota baru, Suci.
Atmosfer kian riuh dan memanas saat suara derum mesin motor yang berat terdengar melintas memasuki gerbang sekolah. Kedatangan para Putra Cakra Raya seketika mencuri seluruh atensi publik.
Turun dari motor besar masing-masing, mereka lantas membuka helm yang dikenakan, menampilkan pesona wajah tampan yang langsung sukses memicu pekikan histeris tertahan dari para siswi di koridor.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Different 'R' (Selesai)
ActionAda hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita. Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
