22 Tamu Bulanan & Batas Kenyamanan yang Retak

707 117 6
                                        

𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Wanita paruh baya yang kini berada di apartemen Retania itu sedari tadi tidak bisa diam. Pergi ke dapur lalu ke kamar Nonanya, kembali ke dapur lantas naik kembali ke kamar Nonanya. Selalu seperti itu.

Sedangkan sebab dirinya melakukan hal itu karena Retania yang sedari pagi tadi mengeluh sakit di bagian perutnya. Siklus perempuan setiap bulan.

Bibi sudah memasak berbagai jenis makanan yang bisa menarik nafsu makan Retania karena Nonanya itu tidak makan dari pagi sampai kini pukul 11.38 siang hari.

"Bibi ini sakit banget.."

Saat ini Retania sedang meringkuk di atas kasur dengan bantalan air hangat di atas perutnya. Di atas nakas-pun terdapat tujuh botol sachet Kiranti yang disediakan Bibi.

Karena berbagai upaya yang dikeluarkan masih belum berbuah hasil, maka wanita paruh baya itu menjatuhkan pilihan yang menurutnya sangat tepat. Yaitu melapor kepada pengawal yang setia berjaga di luar sana, yang segera saja laporan itu kini telah tiba kepada masing-masing tuan muda mereka.

Alhasil di sinilah mereka berada, di depan pintu apartemen Retania dan menunggu pintu untuk dibukakan.

Jeyen, Ednan, Heron dan Reygen rela keluar kelas hari ini demi Retania. Karena gadis itu rasanya seperti segalanya bagi mereka.

"Hey, Re.. sakit sekali ya?"

"Kenapa bisa di sini? Ini masih jam sekolah loh."

"Bibi, tolong airnya diganti. Ini sudah dingin."

"Baik den.."

Heron duduk di sisi samping kasur yang ditiduri Retania. Tangannya terjulur untuk mengecek suhu tubuh gadis itu melalui kening, yang kini ia rasa suhunya pada batas normal.

Di lain sisi Ednan turun untuk meminta sebuah kaos kaki kepada Bibi, yang langsung saja ia diberinya. Kembali ke kamar Retania, dan lantas dengan lembut memasangkan kaos kaki itu di kaki Retania yang sebelumnya sempat terkejut.

Sedangkan Reygen masih bergeming di tempat semula, tidak mencoba melakukan apa-apa.

"Listen to me please.."

"Aku cuma nyeri haid, gak perlu sampai bolos karena cuma mau kesini. I'm okay, and you're back to school right now."

"Lo fokus supaya perutnya gak sakit lagi aja ya? Gak usah mikirin kita, bolos sekali-kali gapapa kok."

"Apa?! Bolos sekali-kali? Kalimat itu jelas gak berlaku buat seorang Reygen yang emang hobinya bolos!"

"Hey Reygen! Mau jadi apa kamu?! Kalau sekolah aja bolos terus hah?!" Dengan tatapan memicing tajam, Retania melihat ke arah Reygen yang bersidekap. Alis kirinya terangkat.. merasa heran.

"Kamu juga, Heron kan Ketua OSIS, masa iya kasih contoh yang nggak baik?"

"Ini lagi Kak Jeyen anak olimpiade masa bolos? Mau dikata apa sama guru-guru di sekolah."

"Kak Ednan juga, bolos itu bukan kamu banget. Pasti jam istirahat ada kumpul rutin Club Basket kan? Nah kalau kayak gitu nanti urusannya gimana?!"

"Kita juga manusia Re." Balas Ednan jengah.

"Ya siapa yang bilang kalian robot? Gak ada!"

Masing-masing dari mereka menghela nafas, berpikir apakah semua perempuan akan berubah seperti singa saat tamu bulanannya datang. Bahkan, Heron sempat mengusap telinganya yang berdengung, karena posisinya yang paling dekat dengan Retania, sehingga suara bervolume keras yang keluar dari mulut gadis itu sedikit mengusik gendang telinganya.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang