25 Pilihan Sang Gadis

879 117 31
                                        

𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

"I'm yours, kak Jeyen."

Desir angin kencang di sekitar pemakaman serasa tak berbekas. Hanya kehangatan dari pelukan sang gadis yang mampu diresapi Jeyen saat ini. Gadis yang baru saja menyatakan diri sebagai miliknya kini merengkuh tubuhnya yang kaku dan rapuh.

Usapan lembut di rambut memberikan ketenangan yang begitu nyata, hingga Jeyen akhirnya memejamkan mata dan berani membalas pelukan itu dengan perlahan.

Apakah Retania benar-benar menjadi miliknya? Ungkapan tadi bukan semata untuk menenangkannya, kan? Bisik batin Jeyen bertanya-tanya. Namun, sebelum sempat memproses jawaban apa pun, kesadarannya menguap. Jeyen runtuh dan pingsan di dalam dekapan gadisnya.

𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Langit malam memadat menjadi jelaga. Bulan sabit memancarkan pendar tipis yang beradu dengan gemerlap bintang, menjadi pemandangan utama yang dinikmati oleh gadis bersurai pirang tersebut.

Retania berdiri tenang di dekat jendela sebuah kamar asing, menatap kosong keindahan semesta di luar sana.

Di atas ranjang, Jeyen mulai menggerakkan jemarinya. Setelah sepenuhnya siuman dari ketidaksadaran yang berlangsung beberapa jam, sepasang matanya menyapu seluruh penjuru ruangan. Ia mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukanlah halusinasi.

Di dekat jendela, berdiri sosok cantik bergaun tidur putih polos dengan rambut pirang yang kian berkilau diterpa cahaya bulan. Siluetnya anggun, mirip dewi malam yang hadir membawa ketenangan.

Sadar ada pergerakan, Retania berbalik lalu melangkah mendekat.

"Sudah bangun?" Tanyanya lembut sembari mengambil posisi duduk di tepi ranjang.

"Pertanyaan retoris, Re." Dengan lirih Jeyen menjawab, masih tidak berani untuk menatap sepasang manik indah milik gadis pujaannya.

Retania tertawa pelan. Tawa kecil yang spontan itu justru memberikan efek getaran hebat di dada Jeyen. Untuk kesekian kalinya, ia merasa asing dengan debaran jantungnya sendiri.

"Gimana keadaan kamu?" Tanyanya sembari memberikan segelas air putih yang segera diterima oleh sang lelaki.

"Masih buruk."

"Aku disini."

Ungkapan itu hanya disambut keheningan oleh Jeyen. Retania sangat memaklumi hal tersebut. Ditinggalkan oleh satu-satunya sosok pelindung dalam hidup kurang dari dua puluh empat jam jelas bukan perkara mudah untuk dipulihkan.

"Sayang.. sekarang cuci muka dulu ya, setelah itu kamu makan." Retania menyibak selimut dengan lembut, menuntun tubuh Jeyen untuk bangkit perlahan dan mengantarnya hingga ke depan pintu kamar mandi. "Mau makan di bawah?"

"Di kamar aja." Jawab Jeyen singkat.

"Oke, tunggu sebentar, ya."

Menatap kepergian Retania melalui pantulan cermin kamar mandi, Jeyen terpaku. Ia bingung harus bersikap seperti apa untuk merespons semua kehangatan ini.

Usai membersihkan wajah, Jeyen kembali duduk di tepi ranjang. Tatapannya sempat kembali kosong sebelum akhirnya teralih saat pintu didorong pelan. Retania muncul membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang