𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'
Bunyi sambungan telefon tak terhubung beradu dengan bunyi ketikan keyboard di ruangan kedap suara itu. Jeyen yang sibuk mencoba menghubungi Retania, dengan Pak Doni yang senantiasa melacak titik lokasi yang sempat didatangi Retania terakhir kali.
"Please.. sayang, angkat." Ucap Jeyen pelan, meletakkan ponsel di telinganya untuk kesekian kali.
Beberapa jam lalu, ponsel Retania sempat menyala sebentar dan tersambung dalam panggilan singkat tanpa suara. Jeyen langsung memanfaatkan celah tersebut untuk melacak lokasi GPS sang gadis. Titiknya berada di sebuah jalanan kecil yang diapit pepohonan lebat.
Jeyen telah mengerahkan seluruh orang pribadinya ke sana untuk menyisir setiap sudut. Namun, hingga satu setengah jam berlalu, belum ada laporan yang melegakan.
"Kegiatan terakhir pukul sembilan malam, Nona sudah sampai di apartemennya tuan, diantar oleh Mamanya Heron." Pak Doni menjelaskan, masih dengan pandangan pada komputer di depannya.
"Setelah itu tidak keluar lagi?"
"Tidak, saya sudah meretas cctv area sekitar. Dan memang Nona tidak keluar setelah masuk ke unitnya."
Jeyen diam berpikir, rautnya terlihat tenang namun jauh dengan perasaannya yang merasa takut dan marah akan dirinya sendiri yang tak becus untuk menjaga Retania.
"Apa ini ulah pria tua itu?"
Mendengar kabar jika gadisnya menghilang, hal yang pertama kali terpikirkan adalah sosok ayahnya. Mengingat bahwasanya kabar putri satu-satunya Agraham masih hidup telah terdengar oleh pria berumur tersebut.
Sebuah dering ponsel menginterupsi Jeyen dari keterdiamannya, yang lantas Ia angkat dengan segera.
"Langsung aja."
"Kediaman Tuan Aston telah kosong sepuluh hari ini Tuan. Menurut tetangga sekitar, beliau pindah dan mengosongkan bangunan ini tanpa dijual atau disewakan."
"Pindah kemana?"
"Maaf, belum ada informasi lebih lanjut."
Jeyen mematikan sambungan telefonnya. Dengan dahi berkerut lantaran bingung dan berpikir kemana sekiranya mereka pergi.
Jeyen memutus panggilan. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Jika pria tua itu benar-benar menyentuh Retania atau melukainya sedikit saja, Jeyen tidak akan ragu untuk menyerahkan seluruh berkas bukti kejahatan yang ia simpan ke pihak berwajib hari ini juga.
Jeyen beralih mendial nomor orang-nya yang Ia perintah untuk menelusuri titik lokasi terakhir Retania.
"Bagaimana?"
"Maaf tuan, masih belum ada titik terang."
Jeyen yang mendengarnya lantas menghela nafas. Memijat kepalanya yang pening lantaran tidak tidur dari pukul satu malam hingga kini jam telah menunjukkan pukul delapan pagi.
Tidak, tidak hanya Jeyen yang merasakan ini semua. Ada lelaki lain yang sama resah dan pusingnya mencari keberadaan Retania yang hilang begitu saja.
Semuanya... berawal dari Suci yang memberi kabar.
Kemarin malam.
Bunyi dering ponsel menandakan panggilan masuk mengusik tidur Jeyen yang nyatanya memang tidak bisa nyenyak dan pulas dalam tidurnya.
Perasaannya resah. Dirinya baru sedikit tenang setelah mendapat pesan dari gadisnya yang menyatakan Ia telah sampai di apartemen jam sembilan malam. Namun dalam tidurnya, Jeyen merasa kembali terusik dengan perasaan tak tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Different 'R' (Selesai)
ActionAda hati yang tetap asing, meski waktu telah berkali-kali singgah membawa cerita. Di SMA Cakra Raya Jakarta, nama mereka berempat bagai legenda. Pemuda-pemuda penuh prestasi dengan visual yang sanggup membuat siapa saja menoleh dua kali. Mereka dici...
