12 Roman Picisan

1.9K 241 16
                                        


𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Selepas euforia sesi dokumentasi, pelukan yang hangat, dan nyanyian kemenangan yang menggema bersama, seluruh murid SMA Cakra Raya diwajibkan kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Pasalnya, puncak dari segala rangkaian acara baru akan digelar malam nanti, yaitu malam pengumuman.

Saat ini, koridor lantai atas hotel tampak sunyi, namun presensi Heron, Reygen, Ednan, dan Jeyen sukses menciptakan atmosfer ketegangan tersendiri.

Keempatnya tengah berdiri setia menunggui Retania keluar dari kamarnya. Tidak sedetik pun dari benak mereka masing-masing tebesit niat untuk membiarkan sang gadis berjalan sendirian, apalagi sampai diganggu atau digoda oleh buaya darat dari sekolah lain nantinya.

Maka dari itu, sebuah misi tak tertulis disepakati secara sepihak. Mereka akan menjaga Retania sejak keluar dari pintu kamar hotel sampai ia kembali ke kamar hotel lagi nanti malam.

Sembari bersandar pada dinding koridor tanpa ada percakapan sama sekali di antara mereka, keempat netra mereka fokus mengunci pandangan pada satu titik mati, yaitu pintu kayu mahogani di hadapan mereka.

Tak berselang lama, pintu tersebut bergeser perlahan ke samping. Begitu sosok sang pemilik kamar menampakkan diri, detak jantung keempat pemuda itu seolah berhenti berdetak serentak. Retania berdiri di sana, dalam balutan gaun malam yang luar biasa indah.

Gadis itu malam ini terlampau cantik. Ia mengenakan gaun malam berwarna navy blue dengan potongan kerah model sabrina yang mengekspos garis bahu dan tulang selangkanya yang indah. Sementara bagian bawah gaun dirancang dengan model belahan tinggi di sisi paha, menampilkan siluet kaki jenjangnya yang putih bersih setiap kali ia melangkah.

Masih terjebak dalam fase keterpukauan yang mendalam, keempat pemuda itu belum juga melepaskan pandangan memuja dari figur Retania. Alhasil, sang gadis harus menyadarkan mereka dengan sebuah jentikan jari yang nyaring di udara, barulah fokus mereka berangsur kembali. Namun tetap saja, binar kagum di sepasang netra mereka enggan meredup.

"Kenapa pada kumpul di sini?" Tanya Retania heran, menatap mereka bergantian.

"Nungguin lo." Sahut Jeyen pendek.

Setelah melontarkan jawaban kasual tersebut, Jeyen melangkah maju mendekati posisi Retania. Dengan gerakan tangan yang teramat tenang namun pasti, ia meraih helaian rambut panjang Retania yang semula berada di punggung, lalu membawanya perlahan ke arah depan dada. Jeyen sengaja melakukannya agar rambut tebal sang gadis bisa sedikit membantu menutupi area bahu yang terekspos bebas.

Aksi Jeyen tentu saja tak luput dari radar penglihatan tiga pemuda lainnya. Di dalam dada, mereka tengah bersusah payah meredam gejolak emosi yang membakar. Sial, mereka kalah start lagi hari ini.

Walau di satu sisi naluri posesif mereka berontak karena tidak suka melihat Retania mengenakan pakaian yang terlalu mengekspos kemolekan tubuhnya, namun mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki hak legal untuk melarang apa yang disukai gadis itu.

Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah mengerahkan proteksi penuh untuk melindungi Retania dari tatapan liar para pria di luar sana. Opsi itu jauh lebih masuk akal.

Heron melirik jam tangan peraknya yang kini telah menunjukkan pukul delapan malam tepat. Tanpa membuang waktu, ia maju selangkah, meraih pergelangan tangan Retania dengan lembut lalu menggenggamnya kuat.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang