13 Marah Namun Takut

1.7K 239 22
                                        


𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Derap langkah kaki yang tergesa terdengar menggema di sepanjang koridor, menuju ke arah kamar hotel nomor 207.

Setelah kembali ke meja bundar mereka beberapa menit yang lalu, Heron dan Ednan sama sekali tidak menjumpai keberadaan Retania di sana. Mereka sudah mencoba mencari ke seluruh sudut aula dan menghubungi ponsel gadis itu berulang kali, namun hasilnya nihil.

Sebagai langkah terakhir, mereka memilih untuk langsung mengecek keberadaan Retania di kamar hotelnya.

Begitu sampai di depan pintu yang dituju, Heron langsung mengetuk permukaan kayu itu dengan intensitas yang cukup keras.

Samar-samar, gurat kecemasan yang mendalam tercetak jelas di wajah kedua pemuda itu. Di balik topeng ketenangan mereka, sejujurnya mereka berdua tengah dirayapi rasa takut yang luar biasa.

Berbagai spekulasi buruk mendadak menyeruak di kepala mereka, termasuk kemungkinan terburuk jika ada seseorang yang sengaja memberi Retania alkohol untuk melancarkan niat buruk.

Heron masih terus mengetuk pintu dengan tidak sabar, hingga akhirnya, rasa lega yang luar biasa besar menyerbu dada mereka seketika. Bagaikan hawa panas yang membakar yang sedari tadi mengelilingi mereka menguap begitu saja, digantikan oleh embusan angin segar saat netra mereka menangkap sosok Retania berdiri di ambang pintu.

Di hadapan mereka, Retania berdiri dengan kondisi yang sudah jauh lebih santai. Gadis itu telah menukar gaun malamnya dengan setelan piyama satin berwarna merah muda, lengkap dengan rambut panjangnya yang dicepol asal ke atas.

Heron dan Ednan secara refleks melangkah maju bersamaan, berniat untuk mendekap tubuh Retania demi menuntaskan rasa khawatir mereka.

Namun, gerakan itu terpaksa tertahan ketika sepasang tangan mungil Retania terulur ke depan, menghalangi dada mereka masing-masing.

Retania mendaratkan telapak tangannya di dada bidang Heron dan Ednan. Lewat sentuhan itu, ia tidak hanya bisa melihat raut panik di wajah keduanya, melainkan juga dapat merasakan debaran jantung mereka yang berpacu begitu cepat.

Tersentuh oleh kepedulian yang begitu besar, Retania akhirnya maju selangkah untuk memberikan pelukan singkat pada Heron, sebelum kemudian beralih memeluk Ednan dengan kehangatan yang sama.

"Aku gak apa-apa kok. Maaf ya karena tadi pergi gitu aja tanpa kasih tau kalian." Ucap Retania lembut setelah mengurai pelukan.

Walau rasa gugup dan sisa keterkejutan masih mendominasi atmosfer di antara mereka, Heron dan Ednan hanya bisa merespons kalimat Retania dengan anggukan pelan.

"Tapi kenapa tiba-tiba balik ke kamar, Re?" Tanya Ednan, menuntut penjelasan.

Mencoba menyusun jawaban secepat mungkin di dalam kepalanya, Retania tau betul bahwa mengatakan kejadian yang sebenarnya dengan Reygen bukanlah pilihan yang tepat.

Namun, jika ia berbohong bahwa dirinya sedang sakit, hal itu justru akan memicu kepanikan baru bagi mereka. Tidak ingin membuat kedua pemuda ini menunggu lama dan menaruh curiga, Retania akhirnya memilih satu alasan paling klise.

"Ngantuk."

Heron mengernyitkan alisnya, tidak menyangka akan jawaban sependek itu.

"Tadi aku tiba-tiba ngantuk banget. Karena saking ngantuknya, aku sampai malas buat cari kalian yang gak tau lagi ada di mana buat pamit. Jadi aku langsung mutusin buat balik ke kamar. Eh, tapi pas sampai kamar malah agak segar lagi, makanya aku bisa buka pintu ini buat kalian." Cerocos Retania panjang lebar, mencoba meyakinkan.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang