23 Perasaan Si Cantik

766 121 3
                                        

𝓐 𝓓𝓲𝓯𝓯𝓮𝓻𝓮𝓷𝓽 '𝓡'

Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut sebahunya berjalan ringan menuju apartemen milik sahabatnya.

Kantong plastik berukuran sedang berisi makanan ringan tak lupa Ia bawa. Di dalamnya lebih di dominasi dengan marshmellow, coklat, dan es krim mengetahui sahabatnya itu suka sekali dengan makanan-makanan ini.

Ketika kakinya berhenti melangkah dan berhenti tepat di depan pintu apartemen yang dituju, segera tangannya bergerak menekan bel mengundang pemilik untuk membukakan pintu untuknya, yang beberapa detik setelahnya pintu dibuka oleh gadis yang lebih tinggi darinya.

Retania mendapati figur gadis yang tak lain adalah sahabatnya dengan senyum merekah, tak lupa tangannya yang diangkat menunjukkan satu kantong plastik seakan mengatakan 'Gue bawa jajanan buat kita'.

Segera Retania menariknya masuk. Berpelukan begitu erat menyalurkan rasa senang keduanya.

"Perut Lo udah sembuh?"

"Hum.. sore tadi nyerinya udah berkurang kok."

Retania menjawab sembari membuka kantong plastik yang dibawa sahabatnya yang sontak membuat matanya berbinar.

"Wow.. my lovely marshmellow. Suci thank a lot, aku suka banget deh."

"Don't call me Suci, please." Protes gadis itu dengan raut wajah yang ditekuk.

"Why? Nama kamu emang Suci kan, kalau bukan Suci baru dong aku enggak panggil kamu Suci."

"Biasanya kan Lo panggil gue Nasya. Suci itu panggilan di sekolah aja lah Re.. Gue gak sesuci itu buat dipanggil Suci." Ucapnya yang seketika mengundang derai tawa renyah dari sahabatnya itu.

Suci Nasya Antika, gadis polos itu sebenarnya hanya topeng belaka. Begitu nakal adalah sifat aslinya. Ia adalah salah satu bawahan terpercaya kakek dari Retania. Bertugas menjalankan perintah untuk menjaga cucu semata wayangnya.

Bertingkah polos membuat dirinya tidak terlalu mencolok. Memudahkan dirinya mendapat segala informasi dengan tampang polosnya itu. Membuat orang lain sama sekali tidak merasa perlu untuk menaruh kewaspadaan terhadapnya.

Lagipula, ada banyak sekali orang munafik yang berkeliaran di dunia fana ini.

"Heum..." Tanpa menghiraukan penjelasan panjang itu, Retania memilih untuk lebih asyik menikmati makanan manis di tangannya.

"Re.."

"Ng..?"

"Gue bersyukur Lo tadi gak masuk."

"Tanpa gak langsung kamu bersyukur aku sakit gitu?" Retania mengalihkan pandangannya untuk menatap sang sahabat yang saat ini sedang berbaring santai di atas kasurnya. Tatapan mata Nasya tampak lurus menatap langit-langit kamar, seolah-olah dirinya sedang menerawang suatu kejadian yang besar.

"Sakit Lo kali ini emang harus disyukuri sih." Jawabnya yang kini mulai beranjak dan bergabung duduk bersila bersama gadis itu, menikmati makanan ringan yang tadi Ia bawa.

"Kenapa begitu?"

"Kalau Lo masuk, Lo pasti muak sama omongan cewek-cewek nyebelin itu. Gue aja enek dengernya."

"Mentang-mentang tadi Kak Jeyen, Kak Ed, Reygen, Heron mendadak hilang dan kompak bolos di tengah jam pelajaran sekolah, cewek-cewek itu langsung berani gosip yang enggak-enggak tentang lo." Ucapnya sebal.

"Terus tadi itu gue sebel banget sama kakak kelas yang seenaknya salahin lo Re."

"Masa di kantin dia tepuk-tepuk tangan terus ngomong pake suaranya yang kayak toa buat nuduh lo." Dengan nada geram yang meluap-luap, Suci mulai menceritakan kronologi kejadian tidak menyenangkan di sekolah beberapa jam silam. Tangannya bahkan sampai meremas bungkus kemasan makanan ringan untuk melampiaskan rasa kesalnya.

A Different 'R' (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang