Sejak kecil Nabilla jatuh cinta pada musik, dia juga bermimpi jika suatu hari nanti dia akan menjadi seorang penyanyi, alam seolah mendukung Nabilla untuk mewujudkan mimpinya dan mengirim Angga, kakak kelas sekaligus orang yang selama ini ia cintai...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Haloo, selamat pagi, siang, sore dan malam buat kalian semua pembaca Rubah Labil, dimana pun kalian berada. Semoga sehat dan bahagia selalu menyertai kalian ya. 🤗🥰
.
.
🔥❤🔥Cek ombak dulu dong 🔥❤🔥
.
.
[Xabiru Bayu Dirgantara Atmaja]
Gue meletakkan handuk yang baru aja gue pakai untuk mengeringkan rambut pada rak jemuran, sebelum akhirnya menjatuhkan tubuh ke atas kasur, menatap kosong ke arah langit - langit kamar.
"Gue seneng deh ... ternyata banyak yang kasih respon positif buat video cover perdana Saveur Band kemarin."
Gue mengubah posisi yang semula rebahan menjadi duduk, lalu meraih ponsel gue yang ada di atas lemari kecil. Gue membuka aplikasi chat dan langsung membuka room chat Nabilla yang gue sematkan agar selalu ada di urutan teratas bersama Mama, dan menekan tombol record.
"Jangan baca komen negative tentang lo di postingan youtube Saveur kemarin, kalau udah terlanjur baca, nggak usah terlalu dipikirin. Gue tau tadi bahagia lo nggak sepenuh hati, mendingan sekarang lo rayain satu langkah pencapaian menuju impian lo ini. Oke? Bye, Labilla. Night."
Send.
Sambil rebahan, gue memutar ulang hasil rekaman voice note yang baru aja gue kirim ke Nabilla, gue tersenyum mendengarnya. Gue yakin, Nabilla pasti sudah membuka chat dari gue dan mendengarkan voice note itu, karena sekarang dia sedang online.
Gue menghela nafas, setelah sepuluh menit menatap layar ponsel gue dan tak kunjung mendapat balasan, gue memilih untuk meletakkan ponsel gue di tempat semula. Lalu melipat kedua tangan gue dan menjadikannya bantal, menatap kosong langit - langit kamar.
"Oiya, senin besok gue berangkat bareng kak Angga. Kemarin dia bilang mau jemput gue, nggak papa kan kalau lo berangkat sendiri?"
Gue pikir itu cuma mimpi, karena waktu itu gue melihat sekelebat bayangan Nabilla dan gue sedang makan bersama setelah perform di café. Ternyata gue salah, itu bukan mimpi. Mulai pagi ini dan entah sampai kapan, hari - hari gue akan sangat berbeda tanpa Nabilla menemani perjalanan pergi dan pulang sekolah yang membosankan.
"Dek, jumat gue pinjem mobil ya." suara kak Fareen, disusul pintu yang dibuka tanpa ketukan pintu itu membuat gue terlonjak kaget dan langsung duduk. "Gue mau survey tempat buat KKN."
"Lo tuh, Kak ketuk pintu dulu napa." Kak Fareen hanya nyengir. "Iya, tapi Bumble jangan sampai lecet."
"Dih, mobil juga Papa yang beli. Kenapa lo yang posesif," cibirnya lalu pergi tanpa menutup pintu. Dasar!