Sebelum pulang Haikal mampir kesebuah minimarket, dia ke minimarket tidak membeli apa-apa hanya menumpang ngadem doang. Eh bercanda, yakali hanya menumpang ngadem doang, Haikal hanya membeli snacks dan mie instan saja karena sudah mulai memasuki tanggal tua jadi dia harus berhemat.
Saat Haikal keluar dari minimarket dia tidak sengaja bertemu dengan William yang sepertinya baru saja keluar dari cafe di sebelah minimarket.
"Tunggu," ucap William yang membuat langkah Haikal terhenti.
"Ada apa?" tanya Haikal.
"Kamu kalau memang ngehindar dari saya tidak apa-apa, tapi kasih tau saya alasan kamu menghindar."
"Lu mau tau?" William menganggukkan kepalanya.
"Gua udah tau kelakuan lu sama keluarga lu waktu Haidar masih hidup dan gua gak mau kalo nasib gua sama kaya Haidar setelah deket sama lu maupun keluarga lu."
"Kamu tau dari siapa?"
"Lu gak perlu tau."
"SAYA PERLU, SAYA PERLU TAU!"
"Gua tau dari bang Rival waktu di makam Haidar."
"Saya akui, kalau kelakuan saya dan keluarga saya waktu itu salah. Tapi itu sudah menjadi masa lalu, saya sudah banyak memberi luka kepada Haidar dan saya akui itu."
"Bener, kelakuan lu dan keluarga lu emang salah, sangat sangat salah. Dan sekarang gantian gua yang nanya, apa alasan lu deketin gua? Apa karena muka gua mirip sama Haidar?"
"Iya, saya mendekati kamu karena muka kamu mirip dengan Haidar ta..." belum sempat William menyelesaikan ucapannya sudah di potong terlebih dahulu oleh Haikal.
"Udah gua duga, lu deketin gua cuma karena muka gua mirip sama Haidar. Muka kita emang mirip tapi kita berdua bukan orang yang sama, gua sama Haidar itu beda, sangat sangat berbeda. Haidar. Bukan. Gua. Dan. Gua. Bukan. Haidar," ucap Haikal dengan penekanan diakhir ucapannya, setelah mengatakan itu Haikal langsung pergi dari hadapan William.
Setelah kepergian Haikal, William mengacak rambutnya frustasi. Setelah itu dia pergi menuju ke mobilnya dan menemui Rival di apartemen laki-laki itu.
Sesampainya di depan gedung apartemen Rival, William langsung turun dari mobilnya dan kebetulan sekali dia melihat Rival yang akan masuk ke dalam gedung apartemen sepertinya laki-laki itu habis keluar.
"Rival," panggil William.
Rival menoleh kearah William, "apa?" tanya Rival.
"Bisa ngobrol sebentar?"
"Hm." Kemudian Rival berjalan menuju ke taman yang berada tidak jauh dari gedung apartemennya diikuti William dibelakangnya.
Sesampainya di taman, Rival langsung duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon.
"Mau ngomong apa?"
"Lu ngomong apa tentang gua ke Haikal?"
"Semuanya, maybe?"
William yang mendengar ucapan Rival langsung menarik kerah baju Rival.
"Wow santai bro, apa yang gua omongin ke Haikal itu fakta, right? lu gak bisa nyangkal itu, karena itu memang faktanya," ucap Rival dengan senyum miring yang terlukis di bibirnya. Dengan santai Rival melepas cengkraman William dari kerah bajunya.
"Ya lu bener, faktanya emang kaya gitu. Tapi itu udah jadi masa lalu, kejadian itu juga udah lama."
"Bener, kejadian itu emang udah lama dan cuma masa lalu. Tapi gua masih inget kelakuan kalian ke Haidar dulu."
"Gua akui, gua dan keluarga gua emang brengsek tapi kita benar-benar nyesel."
"Kalian emang brengsek dan bajingan, kalian baru nyesel setelah Haidar gak ada? Haidar pernah bilang ke gua buat maafin kalian bagaimana pun kalian tetep keluarga Haidar tapi gua gak sebaik itu buat maafin kalian. Gua bukan Haidar yang dengan gampang maafin orang yang menurut gua gak pantes dimaafin."
"Gua lakuin itu juga ada alasannya, bunda meninggal gara-gara dia dan karena itu gua cuma bisa ngerasain kasih sayang bunda cuma sebentar," ucap William dengan mata yang berkaca-kaca ketika mengingat wajah sang ibu.
"Persetan dengan alasan lu itu, kalo bisa milih Haidar juga gak mau kaya gitu, lu mending masih bisa ngerasain kasih sayang dari nyokap lu, sedangkan Haidar? Dia gak pernah ngerasain gimana rasanya di sayang, di peluk, di bacain cerita waktu mau tidur sama nyokap nya, ngadu kalo dia dijahilin sama temennya, bahkan sejak dia lahir dia gak pernah ngerasain kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitarnya."
"Dia diabaikan, gak dianggap keberadaannya walaupun kalian tau dia ada, dia ada di sekitar kalian. Seharusnya kalian jadi pelindung buat Haidar tapi kalian malah nyakitin dia dengan omongan yang gak pantes di denger sama anak kecil. Sejak kecil Haidar selalu dapet perlakuan yang gak adil, denger omongan yang gak seharusnya di denger sama anak sekecil dia. Dia hebat bisa bertahan, coba bayangin kalo kalian yang ada di posisi Haidar, apa kalian masih bisa bertahan? Masih bisa tersenyum dan tertawa? Enggak, kalian mungkin gak bisa lakuin itu. Pasti kalian lebih milih mati daripada hidup dengan pandangan kalo dia pembawa sial."
Rival mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak menetes, perasaan yang selama ini ia tahan sejak lama akhirnya bisa ia keluarkan. Rasa rindunya kepada Haidar semakin membuncah kala ingatan tentang Haidar yang tertawa tiba-tiba melintas di otaknya.
Sedangkan William yang mendengar ucapan Rival hanya mampu terdiam, dia akui apa yang diucapkan oleh Rival benar bahkan sangat benar. Dia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya walaupun hanya sebentar tapi Haidar? Bahkan sejak lahir dia tidak tau bagaimana rasanya disayang, kehidupannya begitu gelap sebelum mengenal Rival dan teman-temannya.
Anak itu mulai terlihat kembali hidup dan ceria setelah mengenal Rival dan teman-temannya. Haidar bahkan tidak pernah terlihat tersenyum maupun tertawa saat di rumah.
"Keluarga yang harusnya jadi tempat berlindung, tempat pulang paling nyaman, tempat untuk menuangkan segala keluh kesah malah jadi tempat yang paling banyak menorehkan luka buat Haidar," ucap Rival.
"Emang bener, kadang orang luar serasa keluarga sedangkan keluarga serasa orang luar," lanjut Rival.
Setelah mengatakan itu Rival langsung beranjak dari duduknya meninggalkan William yang tengah menundukkan kepalanya.
Andai waktu bisa di putar kembali, andai mereka tidak mengabaikan kehadiran Haidar mungkin Haidar masih hidup sampai sekarang dan masih bisa berkumpul bersama mereka. Hanya kata andai, andai dan andai, kata andai yang tidak akan pernah bisa terwujud jika Tuhan sudah menentukan garis takdir yang dilalui oleh manusia.
Sekeras apapun usaha manusia jika Tuhan sudah menakdirkan manusia untuk mati kita sebagai hamba-nya tidak bisa berbuat apa-apa, kita hanya bisa pasrah dan berdoa kepada Tuhan. Karena sejatinya kematian, jodoh dan rezeki ada di tangan Tuhan.
Setelah cukup lama berdiam diri di bangku taman, akhirnya William pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Setelah itu dia menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
_____________________________
Jangan lupa vote & komen
Sorry kalo banyak yang typo
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
HAIKAL NOT HAIDAR [END]
Novela JuvenilJANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA!!! Jangan lupa tambahkan ke perpustakaan!!! BUKAN CERITA BL, BXB, YAOI ATAU SEMACAMNYA!! Budayakan membaca dengan teliti ya bestie. Lanjutan dari cerita Transmigrasi Haidar, kalian bisa baca cerita Transmigrasi Hai...
![HAIKAL NOT HAIDAR [END]](https://img.wattpad.com/cover/314321637-64-k210379.jpg)