Part 13

2.2K 212 4
                                        

Matahari kini telah berganti dengan bulan dan bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Seorang pemuda yang tengah tertidur pulas di atas ranjang perlahan mulai membuka kelopak matanya yang memperlihatkan iris mata berwarna coklat yang indah seolah menghipnotis siapa saja yang melihatnya.

"Gua dimana?" gumam Haikal sambil memperhatikan sekeliling ruangan yang ia tempati.

Dengan perlahan Haikal turun dari atas kasur dan berjalan mencari pintu keluar. Haikal terus berjalan menyusuri lorong-lorong penghubung antar ruangan, hingga dirinya sampai di ruang makan.

Saat di ruang makan Haikal bisa melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas meja makan, Haikal pun menarik sebuah kursi dan duduk disana. Terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah meja makan, Haikal yang tengah duduk pun menoleh.

"Kamu sudah bangun?" tanya Sebastian sambil menarik kursi untuk dia duduki.

"Iya, boleh makan gak?" tanya Haikal dengan menatap kearah Sebastian.

"Tunggu sebentar." Haikal hanya menganggukkan kepalanya sambil menatap makanan yang berada di atas meja yang terlihat menggoda di matanya, seolah makanan itu berkata "ayo makan aku!" yang membuatnya menelan ludah.

Tak lama kemudian, William datang bersamaan dengan Laskar yang berbalut jas kantor. Kemudian mereka berdua duduk di kursi yang biasa mereka tempati.

Laskar berdehem kecil yang membuat Haikal tersadar dari lamunannya, Haikal menatap kearah Laskar dengan senyum canggung.

"Baiklah, semua sudah disini jadi mari makan," ucap Sebastian selaku kepala keluarga di rumah ini.

Haikal pun mengambil makanan yang tersaji di atas meja yang cukup menarik perhatiannya sendari tadi. Kemudian mereka memakan makanannya dengan tenang karena itu sudah menjadi peraturan di rumah itu, karena menurut Sebastian berbicara saat makan itu sangat tidak sopan.

Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Saat di ruang keluarga Haikal menatap kearah Sebastian yang tengah fokus pada iPad di tangannya. Sebastian yang merasa di perhatikan pun menoleh kearah Haikal dengan menaikan sebelah alisnya.

"Pak tua, gua nginep disini ya," ucap Haikal, jangan lupakan cengiran khasnya.

"Ini bukan penginapan, jadi kamu bisa pulang ke rumahmu sendiri," sahut Laskar.

"Gua gak lagi ngomong sama lu ya om tapi gua ngomong sama pak tua, jadi boleh gak? berhubung gua dateng kesini bareng lu dan gua gak mau ngerepotin temen-temen gua buat jemput gua disini," ujar Haikal.

"Biasanya juga kamu selalu membuat repot teman-temanmu " ucap William.

"Terserah dirimu saja," ucap Sebastian lalu kembali fokus pada Ipad-nya.

"Thanks, btw gua mau tidur sama lu ya pak tua, gua takut tidur sendiri." Oke, itu hanya akal-akalan Haikal saja, ia hanya ingin merasakan tidur bersama dengan seorang ayah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Ck, kamu ini banyak sekali mau nya dan bisakah kamu berhenti memanggilku dengan sebutan pak tua?"

"Gak bisa, itu panggilan kesayangan gua buat lu."

"Cih, kesayangan katanya," cibir Laskar.

"Gak usah sok asik ya om."

"Kamu pergilah ke kamarku dan tunggulah saya di sana. Ingat jangan pernah menyentuh apapun yang ada disana!" ucap Sebastian.

"Oke," balas Haikal sambil mengangkat tangannya seperti sedang hormat bendera.

Kemudian Haikal berjalan menuju ke kamar milik Sebastian, sesampainya di kamar milik Sebastian dia langsung naik keatas kasur dan membaringkan tubuhnya disana. Haikal bermain ponselnya sambil menunggu kedatangan Sebastian dan juga tidak lupa dia mengabari teman-temannya.

Haikal bermain ponselnya sambil menunggu kedatangan Sebastian tapi yang yang di tunggu tidak kunjung datang, Haikal menaruh ponselnya di atas nakas dan berjalan mencari keberadaan Sebastian.

"Pak tua, where are you?!" teriak Haikal.

"Bisakah kamu tidak berteriak didalam rumah? Kamu bisa mengganggu tetangga yang lain," ucap Laskar.

"Hm, lu liat pak tua gak?" tanya Haikal tanpa menghiraukan ucapan Laskar.

"Ayah masih ada di ruang kerjanya."

Tanpa membalas ucapan Laskar, Haikal berjalan menuju ke ruang kerja milik Sebastian. Belum sampai di ruang kerja milik Sebastian, Haikal berbalik kearah Laskar.

"Oh iya, gua gak tau dimana ruang kerjanya," ucap Haikal.

"Kau tinggal lurus saja lalu belok ke kiri," ujar Laskar.

"Okee, thanks."

Setelah itu Haikal kembali berjalan menuju ke ruang kerja milik Sebastian, sesampainya di ruang kerja Haikal langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Haikal tydack sopan:')

Saat di dalam ruang kerja Haikal langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di sana, "ada apa?" tanya Sebastian.

"Gak papa, kok lu lama banget sih? Palingan juga mantengin kertas-kertas doang," ucap Haikal.

"Kertas yang kamu maksud itu bisa menghasilkan uang sampai jutaan."

"Ya terserah lah. Pak tua, ayo tidur jangan mantengin kertas-kertas itu mulu."

"Tunggu sebentar, ini hampir selesai."

Tanpa mengatakan apapun Haikal bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Sebastian, Haikal mengambil berkas yang berada di tangan Sebastian dan menutupnya lalu menaruhnya diatas meja.

"Gak baik terlalu memforsir diri sendiri, sekarang lu harus istirahat!" ucap Haikal.

Sebastian menghela nafasnya sebentar lalu menutup laptopnya dan bangkit dari duduknya, "huftt baiklah, sekarang kita istirahat," ucap Sebastian.

Kemudian mereka berdua keluar dari ruang kerja menuju ke kamar milik Sebastian, sesampainya di kamar Haikal langsung loncat keatas kasur yang membuat Sebastian geleng-geleng kepala. Sebastian berjalan menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian, yakali tidur pake kemeja. Setelah berganti pakaian Sebastian pun membaringkan tubuhnya di samping Haikal.

Dikarenakan Haikal belum bisa menutup matanya, Haikal malah mengajak ngobrol Sebastian dengan memberikan berbagai pertanyaan yang nyeleneh.

"Pak tua, lu udah pernah liat setan belum?" tanya Haikal.

"Sudah, bahkan sekarang dia ada di sebelah saya," jawab Sebastian.

Haikal yang mendengar jawaban Sebastian langsung celingak-celinguk melihat kesana kemari, "masa sih? Kok gua gak liat ya?"

"Ya, cobalah untuk berkaca nanti kamu akan melihatnya."

"Pingin ngumpat tapi gak sopan." Haikal cuma bisa senyum sabar mendengar ucapan Sebastian.

"Gua pernah ketindihan tau, nah waktu ketindihan gua bacain setannya ayat kursi malah setannya benerin bacaan gua. Katanya 'salah, harusnya pake idhgom bigunnah goblok!' Sakit ati gua pas setannya bilang kaya gitu," ujar Haikal panjang lebar.

"Ternyata setannya lebih pintar darimu," balas Sebastian.

"Mau ngamuk tapi emang bener." Lagi-lagi Haikal cuma bisa tersenyum sabar sambil ngelus dadanya agar tidak emosi.

"Sekarang pejamkan matamu dan jangan berisik!"

"Tapi gua belum ngantuk, gimana dong?"

Sebastian berbalik menatap kearah Haikal, dengan perlahan Sebastian menepuk-nepuk punggung Haikal agar sang empunya cepat tertidur.

"Gua bukan anak kecil!" ucap ucap Haikal.

Sebastian tidak menghiraukan ucapan Haikal, dia tetap menepuk-nepuk punggung Haikal. Haikal yang punggungnya di tepuk-tepuk seperti itu oleh Sebastian pun merasa mengantuk hingga tanpa sadar dirinya tertidur.

Sebastian yang melihat Haikal yang sudah tertidur pun ikut memejamkan matanya, menyusul Haikal kedalam alam mimpi dengan tangan yang masih menepuk-nepuk punggung Haikal.

________________________________

Jangan lupa vote & komen
Sorry kalo banyak yang typo

Next?

HAIKAL NOT HAIDAR [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang