ST-13

197 24 0
                                    

| Seruan Takdir : Bagian 13 |

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Apabila anda menemukan kata yang typo, silahkan di tandai dan komen kata yang harus diperbaiki!

Jangan lupa vote dan komen ya!
Jazakunullahu Khairan

"Seperti Bumi yang berputar pada porosnya, kenapa Kamu pun terus berputar di sekitaranku"

-Seruan Takdir, 2022-

Happy Reading :)

Gemuruh suara langit menghiasi pagi ini, dengan langit yang didominasi oleh awan hitam. Alifiyah sudah siap dengan seragam batik berwarna biru hitamnya, saat ini dia sedang sarapan bersama dengan Ayah, Bunda dan Maesa.

"Kamu naik mobil Sa, jangan antar adik kamu pakai motor, disaat cuaca seperti ini" Kata Raka usai sarapan.

"Iya Yah" Jawab Maesa. Dia kemudian mengambil kunci mobil dan memanaskan mobil sebentar di garasi.

Alifiyah kini duduk di ruang tamu menunggu Maesa selesai. Dia memainkan sebentar smartphonenya guna mengecek apakah ada notifikasi atau tidak.

"Sini tasnya, Bunda mau masukin bekal sama air hangat" Pinta Dewi yang memegang sekotak bekal dan sebotol air minum berwarna biru silver.

Alifiyah menyerahkan ransel biru miliknya, Dewi segera memasukkan bekal dan botol air ke dalam ransel tersebut.

"Bee, ayo kita berangkat" Ajak Maesa yang sudah berada di depan pintu dan menghampiri dua perempuan kesayangannya.

"Iya Kak Eca" Jawab Alifiyah yang kini berdiri.

Alifiyah mengambil kembali ransel miliknya dan berpamitan dengan Dewi, begitu pula Maesa ikut berpamitan.

"Udah mau berangkat?" Tanya Raka yang baru saja datang, kebetulan dia tadi harus menuntaskan hajat di kamar mandi.

"Iya Ayah"

"Iya Yah"

Jawab Alifiyah dan Maesa berbarengan.

"Ya sudah, kalian hati-hati. Ini ayah juga udah mau berangkat ke kantor" Sahut Raka, ketika Alifiyah dan Maesa menyalaminya dan Dewi.

"Sa, ingat adiknya harus sampai dengan selamat!" Peringat Raka pada Maesa.

"Siap komandan, tuan putri akan sampai dengan selamat sentosa" Ujar Maesa dengan sikap tegap dan memberikan hormat pada Raka.

Alifiyah, Dewi dan Raka tersenyum melihat tingkah Maesa. Setelah berpamitan, Alifiyah dan Maesa pun pergi, begitupula dengan Raka yang juga ikut berangkat.

***

Mobil sedan berwarna silver milik Maesa melesat menyapu jalanan Ibu kota Sulawesi Selatan. Tidak butuh waktu yang lama, keduanya sudah sampai di pekarangan SMA Jaya Terta.

"Ifi pamit ya Kak Eca" Ucap Alifiyah usai melepas seatbelt, dirinya menatap ke arah Maesa.

"Wait" Ujar Maesa yang kemudian keluar dari mobil sambil memegang sebuah payung karena berhubung kota Daeng sedang dilanda hujan. Tak lupa, dia mengambil cardigan yang tadi diambilnya di rumah untuk diletakkan di bahu.

SERUAN TAKDIR [ON GOING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang