Pemakaman Jungkook berlangsung tidak lama setelah itu.
Setelah Taehyung memanggil perawat dengan suara yang luar biasa panik dan tergugu, perawat yang berjaga langsung mendatangi ruang mereka dan mengecek keadaan Jungkook. Benar saja, Jungkook sudah pergi. Dokter yang biasa merawat Jungkook, bersama dengan rekan-rekan perawatnya, memberi tatapan sedih kala mereka berhadapan dengan Taehyung yang tengah kalut. Anak itu nampak kebingungan ketika dokter memberi penjelasan, utamanya kala diterangkan bahwa kemungkinan Jungkook nampaknya pergi satu jam sebelum Taehyung membangunkannya setelah dilihat kondisi terkininya. Penyebabnya, lagi-lagi, adalah asam lambungnya.
Fakta itu sepertinya memukul Taehyung lebih keras, sebab itu berarti Jungkook masih bersamanya setelah ia memutuskan untuk menutup matanya jam dua pagi tadi. Tangan Taehyung lemas, masih terasa sisa-sisa rasa dingin kala ia menggenggam tangan Jungkook tadi. Dalam hati meraung sesal, sebab menyadari bahwa semalam adalah saat terakhirnya untuk melihat Jungkook yang masih hidup.
"Saya... harus bagaimana... Dok?"
Lirih Taehyung terdengar begitu menyakitkan kala kedua netra itu menatap Sang Dokter putus asa. Sebuah tepukan pun sampai pada bahu kanannya, elusan yang menguatkan. Sesuatu yang biasa ia lakukan untuk Jungkook.
"Bersabarlah, tidak ada yang tau tentang takdir Tuhan. Kita sudah melakukan yang terbaik, semampunya. Kita sudah berdoa dengan khusyuk, semampunya. Bersabarlah. Setidaknya ia pergi dengan baik dan tidak kesakitan."
Ibu Jeon datang bersama Ayah Kim setelah ditelpon rumah sakit. Tentu saja histeris. Taehyung yang saat itu masih terguncang, hanya bisa duduk di sebelah ranjang Jungkook sambil menunduk. Wajahnya menegang, ikut pucat tapi tatapannya kosong. Jiwa Taehyung seperti terbang jauh daripada raganya. Ayah Kim yang datang dan melihat kondisi anaknya yang seperti itu, kontan memeluk anak lelakinya itu dengan erat. Terus menerus mengelus punggungnya, menenangkannya. Menepuknya, memberi tau dirinya bahwa ada dirinya yang tengah ikut merasakan gundah yang dialami anaknya.
"Abang, maaf ya."
Taehyung tidak mengerti kenapa ayahnya minta maaf. Ia tidak mengerti, kenapa ia tidak bisa mengangkat tangannya hanya untuk membalas pelukan ayahnya. Yang ia pahami, Jungkook sudah pergi tetapi ia belum bisa merasakannya dengan total sebab ia belum menerimanya. Bagi Taehyung, ini semua tidak terasa nyata. Baginya, ini hanyalah satu dari sekian banyak mimpi yang harus ia alami.
Alam bawah sadar Taehyung masih terus berusaha untuk memproses semua yang tengah terjadi padanya.
Belum ada satupun bulir air yang keluar dari matanya. Namun semua akan tau soal betapa kalutnya seorang Kim Taehyung jika melihat sorot matanya. Hyunjin dan Yoongi, datang ke rumah sakit setelah dikabari oleh Ayah Kim untuk meminta dibantu izin kepada pihak sekolah perihal kehadiran anaknya. Mereka berdua berlari-lari mendatangi tempat Taehyung berada. Ketika keduanya sampai, Taehyung bahkan tidak menyambut mereka. Hyunjin yang sudah sepanjang jalan merasakan sedih teramat sangat, sebab dengan hati yang lembut, ia begitu paham bagaimana perasaan yang kini Taehyung tengah alami. Ia paham, sebab ia adalah seseorang yang begitu mudah disentuh hatinya apalagi dulu ia juga yang mengiringi gadisnya ketika ia kehilangan sosok ayahnya.
"Bang."
Maka ketika ia dapati Taehyung yang tengah duduk di luar kamar, duduk membungkuk di kursi tunggu, Hyunjin sudah tidak bisa menahan air matanya kala kedua matanya bersitatap dengan netra Taehyung yang kosong setelah ia memanggilnya.
Yoongi meraih bahu kawannya, merangkul dan membiarkan kepala Taehyung bersandar pada bahunya. Yoongi yang lebih tegas hatinya daripada Hyunjin, tidak menangis. Namun, tangan kanannya yang naik mengelus surai biru kawannya sembari menenangkan sosok itu adalah bentuk perhatian sekaligus belasungkawa yang mampu Yoongi berikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
High Hopes
Fiksi PenggemarJungkook tidak pernah menggantungkan harapannya setinggi langit, seperti yang selalu ia ucapkan padanya. Sampai akhirnya Taehyung harus sadar dengan realita, ketika kamar yang biasa hangat dan wangi susu itu menjadi dingin dan berbau seperti rumah s...
