Bab 17 BoltSald

1.1K 61 0
                                        

Matahari muncul dari ufuk timur cahayanya menembus pepohonan rindang di atas bukit desa Konoha. Sarada terbangun oleh cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamar milik Boruto. Kesadarannya masih belum pulih sepenuhnya. Dia mencari cari kacamatanya yang tak kunjung ia temukan. Ia mencoba menyesuaikan retinanya yang terkena cahaya dan mencoba untuk memfokuskan penglihatannya.

"Boruto?!" Sarada syok terkejut melihat dia ada di kamar milik Boruto sekaligus melihat Boruto yang tertidur di lantai menggunakan futon. Wajahnya merah merona hingga ke daun telinganya.

Boruto membuka matanya perlahan ketika mendengar teriakan gadis uchiha itu, "Bisakah kau tenang pagi pagi begini?" Rambut Boruto masih acak acakan, wajahnya masih terlihat sangat mengantuk, suaranya terdengar berat karena baru saja bangun.

"Bagaimana aku bisa di kamarmu padahal aku ingat kemarin aku tidur di sofa?" Sarada bertanya pelan dia sangat heran mengapa dia berada di kamar milik putra sulung keluarga Uzumaki itu padahal ia ingat betul bahwa kemarin malam dia tidur di sofa.

"Oh soal itu aku yang membawamu kemari," ucap Boruto dengan santainya. Dia masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.

Bugh...

Sebuah bantal melayang tepat mengenai wajah sang putra sulung keluarga Uzumaki.

"BISA BISANYA KAU MENGATAKAN ITU DENGAN SANTAI!" Omel Sarada dengan wajah yang semakin memerah. Dalam benaknya terselip rasa malu dan perasaan yang tidak bisa ia katakan. Bagaimanapun dia adalah keturunan klan Uchiha.

"Setidaknya dengarkan penjelasan ku dulu sebelum melempar sesuatu ke wajah orang lain hoammm—" Boruto mencoba untuk memberi penjelasan pada Sarada. Ia tidak terima tiba tiba dilempar bantal di wajahnya tergambar raut wajah kesal. Sarada hanya terdiam kikuk masih dengan wajah merahnya.

"Tadi malam aku mau menyuruhmu untuk tidur di kamarku saja tapi setelah aku kembali dari kamar untuk membereskan barang barang ku kau malah sudah tidur di sofa jadi aku menggendong mu kemari. Karena kau terlalu berat badanku jadi terasa lemas lagi makannya aku mengeluarkan futon milikku dan tidur disini," jelas Boruto runtut.

"Enak saja menyebutku berat. Sudahlah aku mau turun,"  Sarada hendak beranjak dari tempatnya tapi alangkah sial dirinya pagi ini dia malah tersandung oleh selimut dan badannya menimpa Boruto. Mata hitam dan biru safir itu saling tatap. Terlihat semburat merah di pipi Sarada.

"Bisakah kau lebih hati hati?" Boruto menyipitkan sebelah matanya wajahnya tampak sedikit menahan sakit. Sarada langsung berdiri dan memalingkan wajahnya dari Boruto agar dia tidak melihat wajahnya yang sudah merah padam hingga ke telinga. Sarada bergegas turun ke bawah meninggalkan Boruto yang masih tampak kesakitan.

Sarada menuruni tangga kemudian menuju ke kamar mandi lalu dia berencana akan membuat sarapan.
"Jangan sampai dia melihat wajahku yang memerah dia pasti akan mengejekku nanti," ucapnya yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Boruto keluar dari kamar setelah merapikan futon yang ia gunakan tadi lalu turun menuju dapur untuk sarapan.

"Hey apa butuh bantuan?" Tanyanya ketika melihat gadis bersurai hitam panjang itu yang sedang sibuk di dapur milik keluarga Uzumaki.

Sarada yang mendengar suara Boruto kemudian menoleh ke sumber suara.
"Tidak terimakasih, lagi pula ini juga sudah selesai kau duduk saja!" Tolaknya sambil menyuruh Boruto duduk di meja makan. Setelah beberapa saat kemudian sarada meletakkan beberapa makanan dan ikut duduk bersama Boruto. Mereka menikmati masakan sarada di pagi hari yang cukup cerah itu.

"Hey setelah ini kau mau kemana?" Tanya Boruto di sela sela makan mereka sekaligus memecah keheningan diantara keduanya.

"Bisakah kau memanggil dengan namaku? Aku punya nama," ucap sarada dia tidak suka jika dipanggil tapi tidak menggunakan namanya. Seperti waktu dia kecil dulu saat hari orang tua dan anak ayahnya datang ke desa kemudian mereka berkeliling di desa bersama tapi bahkan ayahnya tidak menyebutkan namanya alih alih memanggilnya dengan nama sang ayah malah memberikan julukan aneh padanya peanuts, "Huft..." Sarada menghela nafas kesal.

BoruSara after time skipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang