Selang beberapa saat badai itu reda tim 7 melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki dibawah hujan yang tiada tau kapan akan berhenti. Mereka bertiga sudah sampai di desa Amegakure untuk sementara mereka juga harus melepaskan ikat kepala mereka masing masing untuk mempermudah penyelidikan.
Mereka memasuki kawasan yang cukup ramai banyak orang berlalu lalang dan saling melakukan jual beli baik itu barang biasa, sayuran, dan bahkan barang hasil curian yang diselundupkan.
"Dasar gadis pencuri mau sampai kapan kau mau mencuri barang barang dagangan ku hah? Kau tau kali ini aku tidak akan memaafkanmu." Kata seorang pedagang penjual roti dengan suara keras hingga membuat beberapa pandangan pembeli termasuk pandangan tim 7 teralihkan ke arah seorang gadis kecil yang sedang ia pukuli. Si gadis kecil itu hanya terdiam merunduk sambil memegang sepotong roti dengan pakaian lusuh yang basah kuyup.
"Hey tunggu apa yang anda lakukan ini hanya sepotong roti kecil saja!" Bentak sarada kepada penjual itu sambil melindungi gadis kecil itu.
"Hanya sepotong roti saja? Hey nona masih mending jika dia mencuri sekali tapi dia sudah mencuri beberapa kali di tempat ku dan juga tempat tempat yang lain dia membuat kami rugi besar. Disini sudah jarang pembeli ditambah anak anak yang suka mencuri."
"Tapi apa salahnya dia hanya kelaparan tidak bisakah kau memaafkannya?"
"Tentu tidak kenapa kau melindungi dan membelanya apa jangan jangan kau adalah keluarganya?" Tanya penjual itu sambil mengayunkan sebuah tongkat kayu ke arah sarada dan gadis kecil itu.
Krek... Suara tulang yang berbunyi membuat beberapa pengunjung itu terkejut.
"Paman aku tau dia bersalah tapi bukan berarti kau harus memukulnya." Ucap Boruto sambil memegang tangan penjual itu. Si penjual hanya bisa teriak kesakitan.
"Ayo kita pergi saja dari sini!" Ucap Boruto sekali lagi kemudian meninggalkan penjual itu. Dan mereka bertiga pergi menjauh dari keramaian itu.
"Tunggu Boruto tapi sebaiknya kita bantu penjual itu dia sangat kesakitan." Ucap sarada.
"Untuk apa itu hanya cedera saja beberapa hari lagi juga akan pulih." Balas Boruto yang berjalan di depan. Mitsuki mengamati sikap Boruto yang begitu berbeda dia merasa heran apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
Gadis kecil itu berhenti membuat mereka bertiga juga berhenti.
"Ada apa?" Tanya sarada.
"Kakak terimakasih sudah menolongku aku tau perbuatan ku salah tapi aku tidak punya pilihan lain aku harus mencari makan untuk kakak ku di rumah, dia sedang sakit."
"Tidak masalah dan jika boleh tau, apa sakit yang di derita kakakmu?"
"Aku tidak tau kami tidak mampu untuk pergi ke dokter. Maaf tapi jika kalian mau kalian bisa pergi ke rumahku." Tawar gadis kecil itu.
Mereka bertiga mengangguk bersamaan lalu berjalan mengikuti gadis kecil itu dari belakang hingga sampai di dalam sebuah gubuk yang sudah sangat tidak layak untuk di tempati.
"Aku pulang!" Ucap gadis itu. Kemudian seorang wanita renta membuka pintu.
"Maaf tapi siapa dia."
"Oh dia adalah ibuku dan baru saja pulang dari ladang kami dan ayah sedang di sungai." Jelas gadis itu.
"Kalau begitu salam kenal saya sarada dan mereka adalah teman saya kami baru saja tiba disini dan kami juga sedang berdagang obat." Tidak mungkin mereka menyebutkan identitas asli mereka hal itu bisa membahayakan misi.
"Tapi dimana dagangan kalian?" Tanya wanita renta itu.
"Oh kami meninggalkannya di sebuah kedai makan." Ucap Mitsuki ramah tapi dengan kebohongan.
"Baiklah silahkan masuk dulu aku harus memberikan makanan untuk putriku dulu." Setelah itu wanita tua itu pergi lalu sarada, Boruto,dan Mitsuki ikut masuk ke dalam gubuk anak gadis tadi.
"Ngomong ngomong siapa namamu?" Tanya Boruto membuka pembicaraan.
"Oh aku sampai lupa na nama ku ve vetra." Jawab gadis itu memperkenalkan dirinya dengan suara gugup.
"Vetra-chan bolehkah aku melihat kakak mu siapa tau aku bisa mengobati nya." Tawar sarada.
Gadis itu mengangguk. Sarada dan yang lainnya lalu mengikuti vetra, mereka sampai di sebuah ruangan dan terlihat seorang anak perempuan yang usianya hanya selisih 2 atau 3 th dengan vetra terbaring lemas tak berdaya di atas tempat tidur kayu. Sarada mendekati gadis itu, nampak dari raut wajahnya sangat sedih dan sedikit ketakutan sarada sempat heran tapi ia berpikir itu karena dia tidak pernah bertemu dengannya.
Sarada lalu mendekatkan kedua tangannya ke tubuh kakak vetra lalu keluarlah cahaya hijau perlahan jari jari tangan kakak vetra sudah mulai bisa digerakkan.
"Okei untuk sekarang kurasa ini sudah cukup aku akan memeriksa mu lagi besok." Ucap sarada lalu di akhiri senyuman.
"Dimana kalian akan tinggal?" Tanya ibu vetra.
"Ka kami kan mencari pengina___" kalimat sarada di hentikan oleh Boruto.
"Kami mungkin akan bermalam di gua atau apa pun karena kami tidak memiliki banyak uang."
"Kalian boleh menginap disini." Ucap seorang pria tua yang nampaknya adalah ayah vetra.
"Oh maaf mengejutkan kalian perkenalkan aku ayah dari vetra." Katanya sambil membungkuk hormat.
Mereka bertiga memutuskan untuk bermalam di rumah vetra memang rumahnya tidak terlalu besar. Setelah makan siang mereka memutuskan untuk tidur sebelum tidur sarada memeriksa kakak vetra.
"Hai bagimana kabarmu apa sudah lebih baik?" Tanya sarada lembut. Gadis itu diam membisu dengan raut wajah yang sama ketika sarada sampai di kamar itu.
"T___ t___ t____" apa yang anda lakukan di sini bukan kah ini sudah malam sebaiknya anda cepat tidur. Ibu vetra yang tiba tiba masuk mengejutkan sarada. Sarada diam lalu kembali ke kamarnya.
Di ke esokan paginya mayat dari kakak vetra di temukan dengan luka tusukan di bagian jantung yang membuatnya kehilangan banyak darah.
~ Thanks for reading ✨
~ Sorry guys latte two weeks 😥
~ Silahkan kasih 🌟 kalok suka biar authornya makin semangat 🤭
~see you🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
BoruSara after time skip
Romansamata hari terbenam terlihat di atas patung wajah hokage ketujuh berada tepat dimana dua orang yang baru saja bertemu setelah tiga tahun mereka berpisah. "jadi selama ini kau masih hidup lalu kenapa tidak pernah menemui ku kau tau akau berusaha menja...
