Takdir (3)

817 161 14
                                        

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Joohyun. Dia mengelap air matanya sebelum menjawab 'masuk' dengan suara yang lemah. Dia menunduk dan berpikir mungkin yang datang adalah suster atau dokter.

"Hyun? Kamu kenapa?" Tanya Seulgi. Dia melepas genggaman tangan Ayahnya dan berlari ke tempat tidur Joohyun. Dia melihat tangan temannya itu mencengkram erat salah satu kuping Bani si boneka kelinci.

"Ibu," Dia terisak. "Ibu Vic sama keluarga Oh tadi ke sini." Adunya sambil menahan tangis.

"Mereka jahat?"

"Mereka bilang..." Dan kemudian itu terjadi. Air mata mengalir deras, membuatnya tidak bisa berbicara apa-apa lagi – setidaknya tidak ada kata yang bisa dimengerti.

Yunho berjalan cepat ke tempat tidur Joohyun dan membawanya ke dalam pelukan. Sebuah tangan mungil otomatis meraih kemejanya, membuat Bani terlepas dari cengkraman dan jatuh ke lantai. "Ssstt... nggak apa-apa, Joohyun." Ujarnya berusaha menenangkan Joohyun. Kemeja yang dia pakai langsung basah oleh air mata sekarang.

"Ayah?" Seulgi menatap Ayanhnya penuh tanya dan sedikit takut karena Joohyun menangis sangat keras dan dia seperti susah untuk bernapas. Seulgi belum pernah melihat temannya seperti ini sebelumnya.

"Sayang, bisa panggil suster nggak?" Yunho berbisik seraya memeluk Joohyun erat dan terus berusaha menenangkannya.

"Oke, Yah." Seulgi mengangguk dan lompat turun dari kasur, kemudian dia berlari keluar dari kamar.

"Joohyun?" Yunho memanggilnya lembut selepas Seulgi pergi untuk mencari suster, tetapi dia tidak mendapatkan respon apa-apa kecuali tangisan pilu dan napas yang terdengar sesak. Dia mencoba sedikit bergerak untuk mencari posisi yang lebih nyaman, tapi Joohyun mencengkram kemejanya semakin kencang. "Oom nggak ke mana-mana." Ujar Yunho sambil mengelus punggung Joohyun.

"Ayah, aku bawa suster!" Ujar Seulgi sambil berlari masuk ke dalam kamar. Seorang wanita berpakaian serba putih mengikuti di belakangnya.

"Ada apa, Pak?" Tanya suster.

"Saya nggak tau kenapa, tiba-tiba dia langsung nangis gini." Ujar Yunho menjelaskan.

"Apa dia ada ngerasa sakit?"

Yunho menggeleng, "Kayanya nggak."

"Loh, sebentar..." Ujar suster, "Ini bukannya si kecil Bae ya?"

"Iya!" Seulgi menjawab tegas sewaktu Ayahnya tidak berkata apa-apa. Orang tuanya memang tidak pernah bertanya tentang marga Joohyun, untungnya Seulgi ingat itu.

"Oke. Saya balik dulu buat ngambil obat ya, Pak. Ini bukan pertama kalinya terjadi." Jelas suster dengan raut muka yang sedih. "Joohyun selalu mimpi buruk sejak dia pertama kali dibawa ke sini. Dokter ngasih resep buat nenangin dia. Tapi ini pertama kalinya terjadi pas dia masih bangun."

Yunho tidak menyukai bagaimana mereka harus memberinya obat penenang, tapi dia melihat bagaimana Joohyun menangis tanpa henti, akhirnya dia mengangguk pasrah. Mungkin ini yang terbaik.

"Baik, mohon tunggu sebentar ya, Pak." Ujar suster. Dia meninggalkan kamar Joohyun.

"Ayah, Joohyun kenapa?" Seulgi bertanya, dia masih ketakutan melihat temannya seperti ini.

"Nanti Joohyun bakal baik lagi kok, Sayang." Ujar Yunho menenangkan. "Suster tadi bakal ngasih Joohyun obat dan kita bisa nungguin sampe dia tenang, oke?" Lelaki it uterus memeluk Joohyun dan sesekali mengelus punggung atau membelai rambutnya. "Kamu bisa ambilin HP di kantong Ayah nggak?"

Seulgi mengangguk. Dia mengambil HP dari kantong celana Ayahnya dan memberikannya, "Nggak, Sayang." Tolak Yunho. "Panggil Bunda terus suruh cepet ke sini." Soojin tadi tidak bersama mereka karena dia mampir sebentar untuk beli balon dan bunga buat Joohyun.

Us against the worldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang