Hari-hari yang dilewati di tahun pertama masa SMA-nya begitu indah menurut Seulgi, dan dia yakin Joohyun pun merasakan hal yang sama. Sekarang, jika ada cowok-cowok yang mendekati pacarnya (Seulgi masih suka senyum-senyum sendiri kalau dia menyebut Joohyun sebagai pacarnya), dia hanya akan tertawa dalam hati dan merasa kasihan. Sebab tidak mungkin cowok-cowok itu berhasil merebut Joohyun darinya.
"Heh, cengar-cengir sendirian. Kerasukan baru tau rasa loh!" Bulan menepuk pundak Seulgi.
"Ya emang kenapa sih? Orang lagi seneng juga." Balasnya enteng.
"Tumben nggak ditungguin Joohyun?" Tanya Bulan lagi.
"Iya, dia pergi sama Wendy nyari bahan buat mading." Jelasnya. Joohyun tertarik dengan dunia jurnalistik, makanya dia mengambil ekskul mading kali ini, bukan klinik matematika lagi seperti waktu SMP.
"Hmm, mereka deket ya?" Pancing Bulan. Dia tahu kalau Joohyun tinggal serumah dengan Seulgi karena orang tuanya tinggal di Swedia saat ini.
"Iya, kan satu ekskul." Jawab Seulgi cuek. "Kita juga deket karena satu tim basket kan?"
Bulan manggut-manggut, "Joohyun udah punya pacar belum, Gi?"
'Udah. Nih aku pacarnya.' Ujar Seulgi yang sayangnya hanya berani dalam hati. Mereka sepakat untuk tidak mempublikasikan hubungan sebab mereka belum siap dengan konsekuensinya. Keduanya bahkan belum bilang kepada orang tua masing-masing. "Kenapa emangnya?" Seulgi menyedot air minum dari botolnya.
"Kalo gue deketin gimana?" Tanya Bulan yang sukses membuat Seulgi menyemburkan air minumnya. "Anjir! Jorok banget sih!" Protesnya sambil mengelap muka.
Seulgi terbatuk-batuk dan saat sudah mereda baru lah dia berbicara. "Deketin gimana maksudnya, Bul?"
"Ya deketin, jadiin pacar nantinya." Dia menaik-turunkan alisnya.
"Lo sadar kalo Joohyun juga cewek kan sama kaya kita?" Seulgi terdengar munafik sekarang, tapi dia hanya berusaha melindungi miliknya.
"Terus kenapa? Radar gue sih bunyi kalo deket dia. Satu frekuensi lah kita. Buktinya, nggak ada cowok yang diterima satu pun sama dia. Berarti, selera dia bukan batangan."
Entah Seulgi harus senang atau kesal, sebab ternyata bukan hanya mereka berdua yang menyukai sesama jenis. Tapi ini Joohyun-nya, miliknya! Tidak bisakah Bulan mengincar cewek lain saja? "Siapa tau emang belum mau pacaran, makanya dia nolakin semua orang." Gerutu Seulgi.
"Ah, pokoknya lo bantuin gue ya?" Pinta Bulan.
"Ogah." Jawab Seulgi ketus.
"Dih, kenapa sih? Gue cewek baik-baik kok. Emangnya lo nggak seneng kalo sahabat lo punya pacar?"
'Sahabatku itu pacarku.' Gumam Seulgi dalam hati. "Pokoknya nggak mau."
"Ya elah, sebelum dibalap Wendy nih."
Mata sipit Seulgi melotot semampunya, "Wendy suka cewek juga?!"
"Lah emang lo nggak tau? Udah rahasia umum kali. Waktu SMP mantannya Wendy cantik banget loh." Jelas Bulan. Seulgi buru-buru menyambar barang-barangnya yang masih berceceran di pinggir lapangan basket lalu memasukkannya ke dalam tas sembarangan. "Oi, mau ke mana?" Dia bertanya saat melihat Seulgi yang bangkit dan berlari menjauh dari lapangan basket.
"Pulang!" Seulgi benar-benar berlari kencang meninggalkan lapangan. Dia menggerutu kesal karena sampai sekarang Ayah dan Bundanya masih tidak mengizinkannya pakai motor ke sekolah, padahal dia sudah bisa bawa motor sendiri. Jadinya terpaksa dia harus memesan ojek online dulu untuk pulang.
Tidak lupa dia pun mengirimkan banyak pesan ke pacarnya. Menanyakan dia ada di mana, sama siapa, sedang berbuat apa. Tapi tidak ada satu pun yang dibaca, dia jadi makin kesal. Saat ojek online yang dipesannya tiba, Seulgi langsung nangkring di belakang, "Gas, Bang!" Serunya kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us against the world
FanfictionPerjalanan kisah Seulrene/Aseul sejak mereka kecil hingga dewasa. A/n: Bahasa santai. Nggak baku, tapi semoga nggak berantakan juga. Selamat membaca.
