Rasanya, hmm... (3)

888 148 19
                                        

"Seulgi, kamu bisa diem nggak? Kamu tuh bikin Bunda makin panik." Yunho menegur anaknya yang dari tadi bolak-balik tidak jelas. Mereka semua sekarang ada di ruang tunggu di rumah sakit. Joohyun didiagnosis usus buntu dan harus segera dioperasi malam itu juga.

Seulgi membawa serta Bani si boneka kelinci, membuat Ayahnya takjub. Bagaimana anaknya masih bisa terpikirkan tentang boneka kesayangan Joohyun saat mereka semua sedang panik tadi?

"Lama banget sih, Yah?" Seulgi melirik ke jam dinding lagi. Sedikit banyak dia teringat tentang masa-masa dirinya masih suka rutin checkup dan sepertinya dia juga masih mengingat gambaran kamar operasi dari memori masa kecilnya. Menurutnya itu tidak menyenangkan, berbaring di meja operasi, di atasnya ada lampu besar juga bikin silau, di kiri-kanannya banyak terdapat alat-alat yang membuat suara-suara. Seulgi berpikir, Joohyun pasti ketakutan sekarang, dan rasanya dia ingin berada di sisinya untuk bilang kalau semua akan baik-baik saja.

"Belum sejam kok."

"Udah 45 menit tau!"

"Operasi butuh waktu, Seulgi. Kamu mau dokter ngobatin Joohyun asal-asalan?"

"Tapi butuh waktu berapa lama lagi, Yah?" Seulgi mulai merengek.

"Kang Seulgi, udah nggak usah bawel dan duduk sini."

"Tapi –"

"Sekarang!" Yunho tidak bermaksud untuk marah. Jujur saja, dia masih memproses tentang 'pacar' yang Seulgi ucapkan sebelum mereka berangkat ke rumah sakit, dan dia juga sebenarnya khawatir dengan keadaan Joohyun walau pun dia tahu dokter sedang menolongnya.

"Kang Yunho," Soojin menegur suaminya.

Yunho menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan, "Maafin Ayah, ya. Tapi tolong kamu duduk yang anteng dong."

"Aku juga minta maaf, Yah." Gumam Seulgi pelan, lalu dia duduk di sebelah Ayahnya. "Kita tetep di sini sampe selesai kan? Ayah nggak bakal nyuruh aku pulang?"

"Bunda kan tadi bilang kita bakal temenin Joohyun sampe Yeonhee dateng." Ujar Yunho menenangkan anaknya.

"Ayah, bisa minta tolong beliin minuman sama camilan nggak?" Tanya Yeonhee tiba-tiba.

"Oke. Kamu mau apa, Sayang?" Dia bertanya kepada Seulgi.

"Apa aja lah." Jawab Seulgi lesu.

"Ya udah, Ayah beli makanan dulu." Ujar Yunho dan dia langsung berlalu menuju ke kafetaria.

"Seulgi, coba sini duduk deket Bunda." Soojin meminta putrinya setelah sang suami tidak terlihat lagi.

"Mau ngomongin yang tadi ya, Bun?" Tanya Seulgi cemas.

"Iya."

"Oke..." Responnya. Seulgi kembali menatap lantai ruang tunggu.

"Kamu tau nggak yang kamu bilang tadi?"

"Iya," Jawabnya lemah.

"Kamu bilang 'pacar', kamu tau nggak artinya apa?"

"Tau, Bun."

"Apa coba artinya itu buat kamu?"

"Joohyun pacar aku." Ujar Seulgi pasti, "Karena aku suka sama dia, suka banget."

"Oke, tapi bukan berarti kamu bisa bilang dia pacar kamu hanya karena kamu suka. Kamu nggak bisa ngeklaim semua orang yang kamu suka sebagai pacar."

"Tapi, Bun... sama Joohyun itu beda."

"Beda gimana?" Soojin mencoba untuk mengerti sebisanya, sebab dia masih merasa putri tunggalnya masih terlalu muda untuk mempunyai pacar (cewek atau cowok).

Us against the worldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang