"Gi," Joohyun menyikut Seulgi demi membuat pacarnya terbangun. "Seulgi," Dia memanggil lagi dan menyikutnya lebih keras. Tapi terlambat, guru sejarah itu sudah menghampiri meja mereka sebelum Seulgi bangun.
Pak guru memukul penggaris ke meja dan menimbulkan suara yang cukup berisik sehingga membuat Seulgi akhirnya terbangun. Dia gelagapan dan mengucek matanya, "Keluar kamu." Ujar guru sejarah itu.
"Tapi, Pak –" Seulgi mencoba membela diri.
"Saya bilang keluar, kamu nggak usah ikut pelajaran saya." Ujarnya tidak menerima bantahan. Seulgi bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas, lalu sang guru melirik Joohyun. "Lain kali, banguninnya siram pake air seember." Joohyun hanya bisa menunduk karena dia yakin gurunya itu sedang menyindirnya.
"Sir, can I sit with her? I can't really see better from the back." Ujar Yeri dan gurunya mengangguk memberi izin untuknya duduk bersama Joohyun.
Ya, bule itu sekarang sekelas dengan Joohyun dan Seulgi, begitu pula dengan Wendy dan Joy. Kelas mereka adalah kelas unggulan, atau yang biasa disebut sebagai 'kelas neraka' oleh murid-murid yang lain, karena semua murid dengan peringkat tiga teratas di masing-masing kelas pada saat kelas X dulu berkumpul di sana sekarang.
Yeri sebenarnya dua tahun berada di bawah Joohyun. Jika Seulgi lompat satu kelas, maka Yeri lompat dua kelas. Seulgi bukan lagi menjadi yang termuda di angkatannya. "Did you make her stay up late last night?" Tanya Yeri yang dari awal sudah mengetahui hubungan Joohyun dan Seulgi lebih dari sahabat, makanya dia langsung meminta duduk bersamanya karena dia tahu teman-teman sekelasnya akan ada yang modus mendekatinya.
Joohyun menggeleng, "Nggak. Paling dia keasyikan maen game, lupa waktu."
Mereka kembali dengan tekun mengikuti pelajaran yang berlangsung sampai bel jam istirahat berbunyi. Joohyun langsung menuju ke kantin karena dia yakin Seulgi sudah ada di sana.
"Joohyun!" Junmyeon mencegat langkahnya saat dia baru beberapa langkah keluar dari kelasnya, "Hai..."
"Oh, hei, Kak." Joohyun balik menyapanya.
"Mau ke kantin kan? Bareng ya?"
"Hmm?" Joohyun melihat ke sekitarnya, mencari teman sekelas yang bisa diajak bareng. Dia tidak mau terlihat jalan berdua saja dengan Junmyeon, takut menimbulkan gosip. Lagi pula, pacarnya sedikit pencemburu.
"Nyari Seulgi?" Tanya Junmyeon. "Dia udah ada di kantin kok. Tadi temenku ada yang liat terus lapor ke aku. Katanya ada anak unggulan bolos jam pelajaran."
"Dia nggak bolos." Bela Joohyun cepat.
"Terus kok bisa ada di kantin sebelum jam istirahat? Apa dong namanya?"
Joohyun tidak ingin memberitahunya kalau Seulgi 'diusir' oleh guru mereka. Firasatnya mengatakan cowok ini akan tambah menjelekkan pacarnya. Tanpa menjelaskan apa-apa, Joohyun langsung melangkahkan kakinya menuju ke kantin, Junmyeon otomatis mengikutinya sampai dia berjalan di sampingnya.
Banyak murid-murid yang menggoda dengan siulan saat melihat mereka jalan berdua. Junmyeon terlihat senang dan bangga, sedangkan Joohyun tampak tersiksa. Dia seakan bisa memprediksi masa depan, pacarnya akan cemberut sepanjang hari.
Kantin langsung riuh rendah saat Joohyun dan Junmyeon tiba di sana. Cowok itu tersenyum sumringah, namun tidak dengan Joohyun, dia buru-buru mencari keberadaan Seulgi. Saat dia melihat pacarnya yang sudah bermuka masam, Joohyun langsung menghampirinya dan duduk di hadapannya. Seulgi sudah memesan makan untuk mereka berdua.
Junmyeon dengan tidak tahu dirinya duduk di samping Joohyun, membuat muka Seulgi semakin tertekuk. Dia memotong-motong baksonya dengan ganas, sampai kuahnya terciprat ke mana-mana. Joohyun berulang kali menarik napas panjang melihat kelakuan pacarnya dan Junmyeon tetap tidak bisa membaca keadaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us against the world
FanfikcePerjalanan kisah Seulrene/Aseul sejak mereka kecil hingga dewasa. A/n: Bahasa santai. Nggak baku, tapi semoga nggak berantakan juga. Selamat membaca.
