A/N : Belum M tapi udah ada nyerempet-nyerempet ke arah sana. Jadi PG-13 deh.
***
"Aku nginep di rumah Joohyun!" Seulgi berseru sambil bergegas turun dari tangga, melewati ruang keluarga di mana orang tuanya sedang duduk berdua, menikmati camilan di Sabtu sore seperti yang biasa mereka lakukan. Jika dia beruntung, dia akan dengan lancar menuju ke pintu depan tanpa dihentikan Ayahnya.
Sejak Joohyun pindah lagi ke rumah orang tua asuhnya tepat setelah kenaikan kelas, Ayahnya tidak pernah lupa menasihatinya tentang aturan-aturan, dan biasanya akan berlangsung lama. Tangannya sudah berada di gagang pintu ketika Ibunya memanggilnya.
"Seulgi, coba ke sini dulu, Sayang!"
Dia menggeram rendah dan perlahan melepaskan tangannya dari gagang pintu, kemudian berbalik arah. "Bun," Mulainya saat dia tiba di ruang keluarga. "Aku udah tau peraturannya, oke? Ayah sama Bunda udah sering banget ngingetin aku selama setaun belakangan ini. Aku bisa nyebutinnya bahkan pas aku tidur!" Dia menunjukkan wajah yang serius, "No sex. Nggak boleh begadang. Nggak boleh tidur sampe siang juga. Sekolah tetep nomer satu, jadi nggak boleh nginep kecuali weekend."
"Bunda cuma mau ngingetin, kita ada acara dari kantor Bunda besok. Jadi sebelum makan siang kamu harus udah pulang." Soojin tertawa melihat ekspresi wajah anaknya.
"Oh... oke, Bun." Seulgi nyengir. "Boleh aku pergi sekarang?"
"Kamu ada tugas apa PR nggak?" Tanya Yunho ingin tahu.
"PR? Apa itu PR?"
"Seulgi..."
"Udah selesai semua, Ayah. Aku sama Joohyun ngerjain bareng kemaren di sekolah."
"Ayah nggak tau harus seneng atau harus nyuruh kamu buat fokus di kelas." Yunho geleng-geleng kepala. Kedua gadis remaja itu tidak pernah ada masalah di sekolah, selalu berlomba untuk mendapat ranking 1 di kelasnya, dan mereka juga tidak segan untuk membantu teman-temannya jika dibutuhkan.
"Kita fokus kok. Aku sama Joohyun cuma selalu selesai sebelum temen-temen, karena kita tuh cerdas banget."
"Oh, wow... kita punya anak yang rendah hati, Yah." Soojin menegurnya dengan candaan. Dia mengingatkan anaknya untuk jangan sombong. "Jadi, pulang sebelum jam 1 siang besok."
"Iya, Bundaaa..."
"Biasa aja dong," Tegur Ayahnya.
"Oke, aku minta maaf... tapi boleh aku pegi sekarang, please?" Seulgi memohon dengan senyuman bulan sabitnya, sesuatu yang selalu bisa membuat orang tuanya luluh; entah saat dia berada dalam masalah atau sedang ada yang diminta.
Seulgi benar-benar merasa ingin segera bertemu dengan Joohyun. Perasaannya untuk sang pacar semakin hari semakin menggebu-gebu, belum lagi perubahan hormon dalam dirinya yang membuatnya sedikit cemas dan gelisah. Mereka memang masih hanya melakukan ciuman, tetapi Seulgi sadar kadang tangannya (atau tangan Joohyun juga) bergerak secara naluriah menyentuh bagian tubuh mana pun saat mereka berciuman.
Semuanya memberikan sensasi baru untuknya dan Seulgi menginginkan hal yang lebih. Dia merasa tidak cukup hanya dengan berciuman, dia butuh menyalurkan perasaannya untuk Joohyun. Ditambah lagi wajah cantik, kulit mulus, serta tubuh seksi pacarnya membuat keinginannya semakin menjadi.
"Ya udah," Soojin akhirnya menghela napas dan mengizinkan anaknya untuk pergi. Setelah dua kata tersebut keluar dari mulutnya, Seulgi langsung melesat kabur. "Anak gadis kita emang selalu ceria, tapi Ayah ngerasa nggak sih, dia makin glowing kalo lagi sama Joohyun?"
Yunho ikut menghela napas, "Iya, Bun. Tadinya Ayah mikir nggak mungkin, tapi ya... emang gitu kenyataannya. Ayah ikut seneng kalo Seulgi seneng."
"Bunda juga," Soojin menanggapi dengan senyuman. "Mending Seulgi sama Joohyun kan dari pada sama cowok-cowok yang belum kita tau bibit, bebet, bobotnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Us against the world
FanfictionPerjalanan kisah Seulrene/Aseul sejak mereka kecil hingga dewasa. A/n: Bahasa santai. Nggak baku, tapi semoga nggak berantakan juga. Selamat membaca.
