"Hyun, ini kenapa kita harus sidang lagi sih?" Gerutu Seulgi untuk kesekian kalinya. Dia mengira masalah mereka dengan Junmyeon sudah selesai, tetapi ternyata belum. Maka di sini lah mereka berada, di ruang tamu kepala sekolah kali ini, ditemani Changmin. Ini perubahan yang baik, mengingat Ayahnya kurang pandai mengatur emosinya waktu itu.
"Aku juga nggak paham." Sahut Joohyun datar. Dia pun sudah lelah dengan masalah yang itu-itu saja, matanya melirik sebal ke arah Junmyeon. Orang tua cowok itu ada di dalam ruangan kepala sekolah bersama dengan Changmin, sedang berdiskusi serius sebelum melibatkan anak-anak mereka.
"Aku udah ketinggalan pelajaran dua hari, mana bentar lagi UAS. Kalo aku nggak naik kelas gimana coba?" Dengus Seulgi kesal.
"Bukan kamu aja, Gi. Kan kita 'bolosnya' bareng. Aku juga ketinggalan pelajaran sama kaya kamu."
"Iya, tapi kan –" Belum selesai Seulgi berdebat dengan sang pacar, Changmin muncul dari dalam ruangan kepala sekolah dan memanggil mereka semua (termasuk Junmyeon). Dia menghela napas berat, "Ayo deh, biar cepet kelar."
Ketiganya masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Junmyeon langsung menghampiri orang tuanya, mendekati Ibunya seolah minta perlindungan. Wanita itu mendelik galak ke arah Joohyun dan Seulgi.
"Kalian nggak ada niat buat minta maaf?" Tanya Ibunya Junmyeon.
"Aku sama Joohyun nggak salah. Kenapa harus minta maaf?" Celetuk Seulgi ketus. "Anaknya Ibu pantes ditonjok dan aku tau Kak Jun juga sadar itu. Joohyun udah berkali-kali nolak, Kak Jun harusnya ngehargain itu. Bukan malah bikin drama, kita nggak lagi latihan teater."
"Bapak bisa liat sendiri kan gimana kelakuan barbar anak ini?" Wanita itu mengadu kepada kepala sekolah. "Mereka itu nggak normal, Pak. Kenapa dibiarin aja?"
Joohyun cepat meraih tangan Seulgi dan menggenggamnya erat. "Maaf," Mulainya.
"Hyun! Kenapa minta maaf?" Tegur Seulgi.
"Aku belum selesai ngomong udah kamu potong, Gi."
"Oh? Oke... lanjut,"
Joohyun ingin mencubit perut Seulgi seperti biasa jika pacarnya sedang bersikap menyebalkan, tapi dia menahan diri. "Sebelumnya aku minta maaf kalo ada omonganku yang bakal bikin tersinggung." Dia kembali memulai. "Aku cuma mau bilang, aku sama Seulgi normal. Kita cuma 'berbeda' aja. Tapi, toh semua orang juga beda dengan caranya masing-masing. Nggak ada yang bener-bener sama."
"Kak Jun nyinggung tentang aku yang jadi anak pungut..." Joohyun menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Emang bener aku bukan anak kandung Pachang sama Bunee, aku diadopsi sama mereka karena orang tuaku meninggal waktu aku baru berumur 7 taun, begitu juga sama Kakakku. Aku cuma anak kecil waktu itu, apa yang ngebuat aku pantas buat dikasih cobaan segede itu? Tapi Tuhan masih sayang aku, takdir dariNya buat aku ketemu Seulgi, juga orang tuaku yang sekarang."
"Jadi kamu mau bilang kalo kamu kaya gini karena takdir, gitu?!"
"Nggak. Bukan gitu, Bu. Dari awal aku bisa aja nolak temenan sama Seulgi waktu pertama kali dia ngajak aku kenalan. Ini emang pilihanku, dan aku nggak nyesel. Aku nggak berharap Ibu atau orang lain bisa nerima, aku cuma mau dibiarin dan nggak diganggu aja sama pilihanku."
"Nggak bisa gitu dong!"
"Cukup!" Ayahnya Junmyeon buka suara untuk pertama kalinya. Lelaki itu terlihat kesal dengan kelakuan istrinya.
"Papi apa-apan sih?" Kesal sang istri.
"Aku bilang cukup, Mi." Tegasnya. Dia menatap Joohyun, "Namamu Joohyun kan, ya?" Joohyun mengangguk membenarkan. "You're pretty smart and articulate for your age." Dia memujinya dengan senyuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
Us against the world
FanfictionPerjalanan kisah Seulrene/Aseul sejak mereka kecil hingga dewasa. A/n: Bahasa santai. Nggak baku, tapi semoga nggak berantakan juga. Selamat membaca.
