Rasanya, hmm... (7)

1K 131 48
                                        

Setelah bertengkar hebat dengan pacarnya yang berakhir dengan saling mendiamkan selama tiga hari, akhirnya Seulgi sadar diri. Dia banyak menghabiskan waktu dengan merenungi kesalahannya dan belajar untuk memperbaiki diri. Seulgi benar-benar menyayangi Joohyun, seharusnya dia bisa lebih percaya pada pacarnya itu. Kini Seulgi sudah semakin kalem dan dewasa, tidak lagi terlalu mudah cemburu buta.

Walau pun masih tetap manja. Seperti sekarang ini karena sudah baikan, mereka berdua sedang mengerjakan tugas dan Seulgi kembali merengek meminta HPnya yang disita Joohyun. "Balikin HP aku, please..." Pintanya dengan memelas.

"Nanti pas weekend." Sahut Joohyun singkat.

"Lama amat!" Protes Seulgi.

"Siapa suruh kamu begadang maen game terus? Udah dua kali loh kamu diusir dari kelas gara-gara ketiduran."

"Aku nggak maen game, Hyun!"

"Terus ngapain kamu begadang? Jangan coba-coba bohong bilang nggak begadang, ya. Kamu tuh keliatan kurang tidur."

"Aku nggak bisa tidur kalo nggak sama kamu."

Joohyun tertawa, "Heh! Bisa-bisanya..." Seulgi hanya memberikan cengiran khasnya. "Aku masih nutupin nih dari Bunda. Lagian kamu tuh lagi intens latihan basket buat persiapan DBL kan? Masih harus belajar di sekolah, ngerjain tugas-tugas. Butuh istirahat yang cukup."

"Iya, bawel." Seulgi akhirnya mengalah. "Eh, tapi nanti aku nggak bisa denger suara kamu sebelum bobo kalo HP aku di kamu." Mereka memang biasanya masih suka berbicara lewat telepon, atau biasa yang disebut sleep call. Bedanya, Joohyun akan langsung tidur sehabis mereka teleponan, sedangkan Seulgi malah main game.

Joohyun tersenyum simpul, "Sampe makan malem juga masih ketemu, besok paginya ketemu lagi. Nggak bosen?"

"Nggak dong!" Sahut Seulgi. "Emangnya kamu bosen?"

"Nggak juga,"

"Kirain bosen sama aku terus mau sama yang lain."

"Mulai..." Joohyun mencubit pipi Seulgi gemas.

"Dicium, jangan dicubit!"

Joohyun tertawa pelan, "Emangnya kamu udah selesai?"

"Udah lah..." Jawab Seulgi. "Mau tukeran?" Ya, mereka biasanya saling memeriksa PR masing-masing. Jika ada jawaban yang berbeda, maka mereka akan membahasnya bersama dan mencari jawaban siapa yang benar.

"Boleh," Joohyun menyerahkan buku tugasnya dan menerima buku tugas Seulgi. Mereka saling mengecek pekerjaan masing-masing. "Kayanya jawaban kita beda deh yang nomer 3."

"Mana?" Seulgi mencocokkan jawaban Joohyun, "Sama kok."

"Beda dong, coba liat satuannya."

"Oh, iya!" Dia buru-buru mengoreksi jawabannya, "Kepleset aja itu tadi tanganku, mau nulis N/m² malah jadi N/m3..."

"Alasan," Joohyun mendengus pelan dan Seulgi hanya tertawa.

"Udah kan ya, nggak ada PR lagi selain fisika ini?" Tanya Seulgi.

"Iya, nggak ada."

"Kalo gitu sekarang kamu ke sini dong," Seulgi menepuk-nepuk pahanya, meminta Joohyun untuk duduk di pangkuannya.

"Nggak mau." Joohyun menjulurkan lidah untuk meledeknya.

"Dari pada melet-melet doang, mending Frenchkiss aja nggak sih?"

"Seulgi!"

"Sini cepet..." Dia menepuk-nepuk pahanya lagi, "Kangen." Menurut Joohyun, pacarnya sudah menjadi anak yang baik dan penurut, sepertinya layak untuk diberi hadiah. Maka dia segera naik ke pangkuannya dan Seulgi langsung tersenyum sumringah. Seulgi memeluk Joohyun dengan erat, membenamkan wajahnya di dada sang pacar.

Us against the worldCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang