"Bu, permisi," Seulgi berdiri di pintu kelasnya sambil menyembulkan kepala sedikit, namun tidak sepenuhnya masuk ke kelas. "Aku boleh pinjem Joohyun sebentar?" Ujarnya sambil menampilkan cengiran khasnya.
Bu Siska mengangguk dan memberikan ijin untuk Joohyun keluar sebentar dari kelasnya. Joohyun menghampiri Seulgi dengan penuh tanya. Seharusnya pacarnya itu sudah berangkat menuju hotel tempat tim basket putri akan menginap selama pertandingan DBL berlangsung.
"Kenapa kamu masih di sini?" Tanya Joohyun. "Kamu ditinggalin ya? Ke mana dulu emangnya tadi?"
"Enak aja! Bukannya ditinggalin tau. Tapi emang belum pada berangkat." Ujar Seulgi. "Nah, ini dia masalahnya. Aku pinjem uang kamu dulu dong buat ongkos. Ada nggak?"
"Hah?" Joohyun mengernyit. "Ada sih... tapi bukannya kamu udah dibekelin Bunda?"
"Takut nggak cukup, Hyun. Soalnya ini mobil sama hotel ditanggung sendiri."
"Kok bisa? Bukannya udah beres dari sekolah yang ngurusin ya?"
"Bisa," Seulgi mendengus sebal. "Gara-gara ketos sialan tuh."
"Hah?" Joohyun makin kebingungan.
"Iya, jadi gini..." Seulgi mulai bercerita.
Kilas balik beberapa menit yang lalu, di lapangan basket...
Seluruh tim sudah berkumpul dari pagi dan siap berangkat. Hanya saja Pak Dimas – pelatih mereka, belum muncul juga untuk menginstruksikan mereka agar segera naik bus. Saat Padims (sapaan akrab sang pelatih) kembali dengan wajah masam, mereka merasa ada yang tidak beres.
"Kabar buruk, guys!" Ujarnya dengan nada kesal.
"Ada apa, Padims?" Tanya Seulgi. Sebagai kapten, dia seharusnya tahu jika ada masalah.
"Sekolah nggak mau ngasih pinjem bus sama biayain hotel lagi buat kita." Jelas Padims yang langsung menimbulkan kegaduhan di antara para pemain.
"Maksudnya apa? Kok bisa tiba-tiba gitu?" Tanya Bulan yang langsung terpancing emosinya.
"Katanya bus sama budget hotel buat kita mau dipake osis buat LDKS."
"Bohong banget! Osis LDKS di sekolah kok!" Sambar Riri.
"Padims, nggak mungkin kita WO kan? Tingkat nasional loh ini!" Sahut Yuqi dan langsung disambut oleh yang lain. Mereka menyuarakan protes secara bersamaan, sampai membuat Pak Dimas memijit keningnya.
"Gimana kalo kita ngeluarin uang sendiri buat mobil sama hotel?" Usul Seulgi.
"Saya sebenernya keberatan kalo sampe ngebebanin kalian." Ujar Pak Dimas.
"Nggak ngebebanin kok, Padims. Yang mau sama yang mampu aja. Nggak usah maksain kalo nggak ada." Sahut Seulgi.
"Seulgi bener, Padims. Aku bawa mobil, bisa dimanfaatin."
"Kamu belum punya SIM ya, Bulan. Saya tau loh! Nggak usah macem-macem!" Pak Dimas menjitak kepalanya Bulan dan dibalas cengiran.
"Ya udah, gini aja, Padims..." Sambar Seulgi lagi, "Padims bisa nggak ngusahain minimal bus aja dulu deh buat kita berangkat. Masalah hotel gampang, nanti kan orang tua kita pada dateng buat nonton tuh, kita bisa jelasin situasinya terus minta uang ke mereka deh."
"Usul yang bagus, Kak. Aku setuju." Ujar Echa. "Patungan buat bus aja dulu sekarang."
"Bener kalian nggak apa-apa keluar biaya sendiri?" Tanya Pak Dimas yang disambut dengan anggukan setuju dari semua pemain. "Ya udah, saya nyari bus dulu sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Us against the world
Fiksi PenggemarPerjalanan kisah Seulrene/Aseul sejak mereka kecil hingga dewasa. A/n: Bahasa santai. Nggak baku, tapi semoga nggak berantakan juga. Selamat membaca.
