BAB 7

8.3K 307 25
                                        

HAIII

skrr-haon feat. giselle

pertama denger lagunya langsung nyantol aslii

siapa yang samaan??

Happy reading

Lelaki itu mengendarai motornya secara ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi. Untungnya jalanan cukup sepi, hanya angin malam yang menemaninya saat ini.

Tepat pukul dua belas malam, Javier tiba di markas Dhevos.

Javier pergi diam-diam setelah Amora terlelap, dan tak lupa untuk memastikan keamanan Amora.

Sengaja ia datang sendiri tanpa sepengetahuan yang lain. Biar ini menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua, Javier akan menyelesaikan permasalahan geng ini sampai tuntas hingga tidak akan ada lagi korban di dalamnya.

Brak

Javier menendang pintu putih di depannya menggunakan satu kaki.

Saat pintu terbuka, dua orang lelaki yang merupakan ketua dan wakil kelua Dhevos itu sedang menggoda seorang gadis yang terlihat ketakutan.

"Santai dong, bro. Senang-senang dulu lah," gurau Mohan sambil memberi colekan pada area sensitif gadis itu.

"Najis. Gue gak gila cewek kayak lo." Ujar lelaki itu datar berhasil menyentil emosi Mohan dan Jefanio.

"Sok suci lo anjing!" ejek Mohan Gevan Aditama, ketua Dhevos.

Javier terlihat tidak peduli dengan ejekan Mohan. Memang nyatanya begitu, jika ia gila terhadap perempuan maka dari dulu Javier sudah mendekati banyak perempuan dengan mengandalkan wajah tampan nya dan uang.

"To the point," ucap Javier tanpa mau berlama-lama.

Mohan turun dari meja lalu mendekati Javier dengan wajah songong nya yang membuat Javier muak sekali. "Gak muluk-muluk, cuma minta lo tunduk sama geng gue masalah kita selesai."

Javier berdecih lalu tertawa sarkas. "Lo bukan Tuhan yang harus gue sembah."

"Mulai berani lo anjing!" teriak Mohan. Amarah yang ia tahan sedari tadi mulai meletup. "Lo sendiri di sini anjing! Gak usah belagu!"

"Siapa yang gak berani sama manusia bodoh?" tanya Javier enteng.

Bugh

Satu pukulan mendarat di rahang lelaki itu membuat wajah Javier tertoleh ke samping. Lelaki itu menatap tajam Jefanio.

"Urusan lo apa bangsat?!" Javier menatap dingin orang yang memukulnya.

"Banyak anjing! Sadar diri lo monyet! Ibu lo perusak kebahagiaan Mama gue anjing!"

"Lo bodoh karena denger omongan Jihan tanpa tau yang sebenarnya," ucap Javier sambil terkekeh miris.

Jihan, manusia playing victim yang amat Javier benci. Karenanya keluarganya hancur, dan karenanya juga ia kehilangan Bundanya umur empat belas tahun.

"Tau apa lo anjing soal Mama gue?!" tanyanya menantang bersiap memukul Javier lagi.

Namun Javier dengan sigap menghindar, ia memberi pukulan balasan di perut Jefanio. "Yang gue tau, Bunda gue meninggal gara-gara Mama lo," ucapnya dengan tenang.

Jefanio tertawa keras mendengarnya, "Emang takdir nya Bunda lo segitu, harus mati anjing!"

"Bangsat!" umpatnya lalu memukul Jefanio secara brutal.

JAVIERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang