Tentang pertemanan Javier dan Amora sedari kecil hingga beranjak dewasa menjadi musuh seperti tom & jerry.
Mereka itu saling menyukai, tapi masih terasa abu-abu dalam diri mereka.
Hingga sebuah insiden selamam yang membuat takdir mempersatukan merek...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
★✰✯☆✩
Setelah mengantarkan Amora pulang ke apartemen, Javier menyempatkan diri untuk ke markas. Karena sudah beberapa hari ini ia jarang berkumpul dengan anak Anthrax terkecuali keempat temannya.
Saat ini anak-anak tengah berkumpul di ruang rapat yang berada di dalam markas. Hanya sebuah ruangan besar berisi ratusan kursi dan meja berbentuk lingkaran saja, tak lupa dengan AC yang terpasang di setiap sudut ruangan.
Ruangan sederhana yang di desain sendiri oleh anak-anak Anthrax.
"Akhirnya boss kita dateng juga!" ucap Bara ketika melihat sang ketua datang mendekat kearahnya lalu bertos ria ala lelaki di susul yang lainnya.
"Denger-denger kemarin Dhevos ngajak duel geng sebelah?" tanya Mevan setelah Javier duduk di sampingnya.
Javier, Gian, Bara, Devan dan Mevan berada di satu meja yang sama. Terletak di tengah antara anggota Anthrax.
"Biarin aja selagi mereka diem," balasnya. Mereka semua serempak mengangguk.
Benar, jika mereka tidak terlalu berbuat rusuh sampai merugikan anggota Anthrax lebih baik diam duduk tenang.
"Tenang banget anjing rasanya! Hidup gue jauh lebih damai semenjak kita jarang gelut," celetuk Bara sambil merenggangkan ototnya.
"Asli, cok! Kemana-mana gue pergi enteng, yang biasanya gue selalu was-was sekarang lebih bisa leluasa tanpa pikiran," timpal Devan.
"Mereka udah nggak ngusik kita setelah masalah di Club'," ucap Gian tak lupa kepulan asap yang berasal dari nitrogen yang keluar dari mulutnya.
"Gue setuju, mereka bener-bener menghindar dari kita."
"Tapi kita jangan terlalu lengah juga, Jangan-jangan ini salah satu bagian dari rencana mereka," papar Mevan.
"Ya, gue setuju sama lo," ungkap Gian.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi, perlahan suasana kembali seperti semula. Mereka mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing, seperti bermain uno, mobile legends, dan tiduran. Contohnya Devan dan Bara yang sudah bubar mencari kelompoknya.
Atensi Gian teralih pada Javier saat lelaki itu melamun seolah sedang memikirkan sesuatu. "Masalah?" tanyanya yang dibalas gelengan oleh Javier.
Gian mendengus kesal, "Bilang, nggak usah mendem. Kayak cewek."
"Oke."
Ekhm
Seluruh atensi menatap sang ketua.
"Ada apa, Jav?" tanya Devan menatap heran sang ketua. Ia mulai kembali lagi ke tempatnya.