Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

NERAKA

4 2 0
                                        

⚠️🚫R🚫⚠️

⚠️🚫R🚫⚠️

⚠️🚫R🚫⚠️

⚠️🚫R🚫⚠️

"DIAM! KAU TAK BERHAK MENGATUR HIDUPKU!"

"KAU SIALAN! ANAK TAK TAHU DIRI!"

"HENTIKAN!!! HENTIKAN!!! JANGAN PUKUL JIMIN!!! PUKUL SAJA AKU!!! HENTIKAN!!!"

"KAU JALANG SIALAN! PEREMPUAN JALANG! KEMARI KAU! RASAKAN INI KALAU BEGITU!"

"JANGAN!!! SIALAN KAU SIALAN!!! KAU LAKI-LAKI SIALAN!!!"

Di tengah keputusasaan yang melanda, telinga Vee menangkap suara gaduh dari luar. Suara bentakan dan suara hantaman benda tumpul terdengar samar-samar saat pintu kamar sempat terbuka sedikit karena Jimin masuk dan lalai tidak menutupnya rapat-rapat.

​"Tolong! Siapa pun, tolong aku!" Vee langsung berteriak sekuat tenaga, mengabaikan tenggorokannya yang kering dan serak.

​Namun, teriakannya tertelan oleh suara kekacauan di luar. Suara pukulan demi pukulan yang brutal terus bersahutan, membuat Vee tidak tahu siapa yang sedang memukul siapa di lantai bawah.

​Tak lama kemudian, sosok Jimin muncul kembali di ambang pintu dengan napas memburu dan raut wajah dingin serta darah di sudut bibirnya yang terlihat masih segar. Melihat kedatangan remaja itu, tangis Vee langsung pecah semakin keras. Ia meronta dalam keterikatannya, memohon sambil mengemis.

​"Jimin... kumohon, matikan alat ini... hentikan alatnya, aku mohon..." ratap Vee putus asa.

​Jimin terdiam sejenak, lalu menuruti permintaan itu. Ia matikan getaran alat tersebut lewat ponselnya. Begitu getaran itu berhenti, Vee bernapas lega meski sekujur tubuhnya lemas. Dengan sisa-sisa tenaga, Vee menatap Jimin debgan memelas dan mengemis agar tali yang mengikat tangan dan kakinya segera dilepaskan.

​"Lepasin aku, Jim... kumohon..." bisik Vee liris.

​Alih-alih melepaskan Vee, Jimin justru menyunggingkan senyum licik. Anak itu lantas mengambil sebuah gunting kecil dari meja di dekat ranjang, mendekati Vee, dan tanpa aba-aba menggunting bagian tengah celana jins yang dikenakan Vee, lalu merobek sisa kainnya hingga tersisa compang-camping, menyisakan hanya bagian kecil celana dalam yang menopang stimulator agar tetap menempel di tempatnya.

​"Jangan, Jimin! Jangan lakukan ini!" Vee berteriak histeris, ngeri melihat celananya dirobek sedemikian rupa.

Plak!

​Tanpa ampun, Jimin mendaratkan sebuah tamparan keras menggunakan telapak tangannya tepat pada kewanitaan Vee yang terekspos. Suara hantaman kulit itu menggema di kamar, disusul jeritan kesakitan dari Vee saat rasa panas yang luar biasa membakar area sensitifnya.

​"Kuberi kau kenikmatan, kau malah menangis. Dasar tidak tahu diuntung!" maki Jimin dingin.

Plak!

​Satu tamparan keras kembali mendarat tanpa ampun di tempat yang sama, membuat Vee melenguh kesakitan dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.

​"Jimin... tolong, aku tidak sanggup lagi..." rintih Vee di sela isakannya, suaranya bergetar hebat. "Tolong jangan sakiti aku... maafkan aku... kumohon hentikan ini..."

​Jimin sama sekali tidak menggubris permohonan itu. Anak itu terus melancarkan tamparan demi tamparan ke arah kewanitaan Vee hingga area tersebut memerah dan membengkak.

​"Kalau kau mau aku berhenti menampar bagian privasimu, memohonlah padaku untuk diberi kenikmatan!" bentak Jimin penuh kuasa. "Mengemislah!"

Plak! Plak! Plak! Plak!

THE ORANGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang