Melihat tubuh Vee yang terkulai lemas di atas ranjang dengan napas terengah-engah dan kesadaran yang sepenuhnya hilang, Jimin berdiri mematung di samping tempat tidur. Ia menatap ke arah wanita itu dengan tatapan dingin dan kosong.
Kondisi Vee benar-benar mengenaskan; celana jinsnya robek compang-camping di bagian tengah, sementara kedua paha wanita itu basah oleh tetesan cairan bening yang terus mengalir akibat stimulasi paksa yang baru saja ia terima. Sejujurnya, secara fisik Jimin sama sekali tidak merasa tertarik pada Vee. Di mata remaja itu, Vee tidak bisa dikatakan cantik. Wanita itu hanya memiliki wajah yang imut, jauh dari standar visual yang biasanya ia lirik.
Namun, obsesi Jimin terlahir dari tempat lain. Vee adalah milik Namjoon. Dan bayangan bagaimana Namjoon mampu membuat Vee mendesah dalam kenikmatan--sesuatu yang sempat didengar Jimin secara tidak sengaja saat ia disandera dalam ruangan yang sama malam itu membuat rasa penasarannya membuncah. Jimin ingin membuktikan apakah ia juga bisa menundukkan wanita yang sama dan mendapatkan sensasi yang sama seperti yang Namjoon rasakan.
Obsesi terhadap apa yang dimiliki Namjoon bukanlah hal baru bagi Jimin. Dulu, Jimin juga pernah terobsesi pada Akira, mantan kekasih Namjoon. Bukan karena Jimin benar-benar menyukai Akira, melainkan karena kepuasan batin saat berhasil merebut perhatian gadis super populer di sekolah itu agar tergila-gila padanya. Bukannya Jimin tidak bisa mendapatkan gadis lain yang sesuai dengan tipenya, hanya saja bagi Jimin, segala hal yang disentuh dan dimiliki oleh Namjoon selalu memiliki daya tarik yang jauh lebih adiktif.
Jimin berjalan mondar-mandir mengelilingi ranjang yang mengikat Vee. Di dalam benaknya, fantasi gelap yang sempat ia ucapkan pada Hoseok kembali berkelebat liar.
"Menghamili pacar temanku tanpa memintanya putus."
Bagi Jimin, skenario itu terasa begitu menarik dan mendebarkan. Ia membayangkan bagaimana rasanya memasukkan miliknya ke dalam tubuh Vee, menikmati kewanitaan wanita itu hingga ia melepaskan seluruh benihnya jauh di dalam rahim Vee. Bayangkan jika Vee sampai hamil, mengira anak itu adalah darah daging Namjoon, sementara mereka berdua tidak akan pernah tahu bahwa pelakunya yang sesungguhnya adalah Jimin. Sebuah seringai licik terukir di bibir Jimin, menikmati skenario busuk yang berputar di kepalanya.
Namun, sebelum iblis benar-benar merasuki jiwanya untuk merealisasikan fantasi tersebut, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Ibu Jimin berdiri di ambang pintu dengan pemandangan yang menyayat hati; wajahnya babak belur, lebam keunguan menghiasi pipinya, dan bajunya compang-camping tidak keruan. Dengan suara bergetar namun mendesak, sang ibu menatap Jimin dan berkata, "Jimin... lepaskan gadis ini sekarang juga. Kita harus pergi dari sini. Ikut aku."
Jimin menggeram marah, kesal karena rencananya diganggu di saat yang paling krusial. Namun, kemarahan itu seketika berubah menjadi rasa iba yang teramat dalam saat melihat kondisi ibunya yang baru saja dihajar habis-habisan oleh ayahnya. Jimin tahu persis dinamika rumah tangga orang tuanya; ayahnya selalu menghajar ibunya, lalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang yang membuat sang ibu tidak pernah bisa pergi.
Jimin sering merasa geram dan bertanya-tanya mengapa ibunya begitu bodoh tidak bisa lepas dari suaminya. Mungkin karena ibunya sudah terlanjur terlalu mencintai pria bajingan itu. Mungkin juga ayahnya menggunakan sihir entah apa. Dan pada akhirnya, sebesar apa pun amarah Jimin pada apapun yang terjadi pada ibunya atau yang dilakukan oleh ayahnya, ia selalu menuruti apa pun kata ibunya karena rasa cinta dan baktinya yang besar pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Jimin melangkah mendekati ibunya, dengan lembut mengusap darah di ujung bibir sang ibu dan menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah babak belur itu. "Kita mau pergi ke mana hari ini?" tanya Jimin lirih.
Ibunya hanya terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis penuh kepasrahan. Melihat senyuman itu, pertahanan Jimin runtuh. "Okay... kita pergi ke mana pun Ibu mau," ucap Jimin pasrah.
Dibantu oleh sang ibu, Jimin melepas ikatan kain di tiang ranjang dan menurunkan tubuh Vee yang masih tak sadarkan diri. Lantas Jimin menggendong Vee menuju kamar mandi, lalu membuka keran bathtub dan mengguyurkan air yang super dingin secara perlahan ke seluruh tubuh wanita itu.
Semburan air es membuat Vee tersentak hebat. Matanya terbuka lebar, terbatuk-batuk kaget dan menggigil kencang akibat suhu dingin yang ekstrem.
Ibu Jimin tersenyum lembut pada Vee, mencoba menenangkan. "Aku akan membantumu membersihkan tubuhmu, Nak," bisiknya ramah.
Ibu Jimin mulai melucuti satu per satu pakaian basah Vee yang sudah hancur, lalu menggantinya dengan membasuh tubuh wanita itu menggunakan air hangat dan menyabuninya dengan telaten.
Jimin berdiri mengawasi di sudut kamar mandi. Matanya lekat menatap kedua manik mata Vee yang membelalak ketakutan, membaca dengan jelas betapa hinanya perasaan wanita itu karena dipermalukan sedemikian rupa. Tapi, Jimin sama sekali tidak peduli pada penderitaan Vee. Perhatiannya sepenuhnya tersita pada sang ibu yang sedang merawat wanita asing tersebut di dalam bathtub-nya.
Setelah proses pembersihan selesai, ibu Jimin meminta Jimin untuk mengeringkan tubuh Vee, sementara sang ibu mulai melucuti pakaiannya sendiri di depan mereka, memperlihatkan sekujur tubuhnya yang dipenuhi lebam, luka, dan darah segar di antara kedua pahanya.
Melihat pemandangan itu, rahang Jimin mengeras. "Apa yang dilakukan bajingan itu padamu?" geram Jimin dengan mata menyalang penuh amarah.
Sambil mulai menyabuni tubuhnya sendiri dengan pandangan kosong, ibu Jimin menjawab pelan, "Kau tahu... ayahmu menyukainya..."
Jimin menggeram rendah, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, tapi ia tak berdaya melawan ayahnya sendiri karena ibunya selalu membela laki-laki biadab itu.
"Ambilkan pakaian bersih di lemari ibu." Ibu Jimin kemudian memerintahkannya untuk mengambil pakaian bersih di kamar utama untuk Vee.
Jimin melangkah keluar menuju kamar orang tuanya. Setibanya di sana, suasana kamar itu tampak seperti medan perang. Tali temali berserakan di lantai dan di atas ranjang, rantai besi tergeletak di sudut, dan berbagai macam peralatan kegiatan kekerasan ayahnya tertata kacau. Bahkan darah berceceran di beberapa bagian lantai.
Lalu, matanya menangkap celah pintu ruang kecil di samping walk-in closet yang terbuka sedikit. Di dalam ruangan sempit itu, ayahnya duduk bersantai sambil merokok dan meminum wiski, menatap layar tablet yang memutar rekaman video saat sang ayah menyiksa ibunya sendiri.
Kemarahan Jimin mendidih di dalam dada, tetapi ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dengan rahang kaku, ia mengurungkan niat untuk masuk dan memilih menyambar pakaian secara acak dari lemari. Satu set pakaian untuk ibunya dan sebuah midi dress untuk Vee.
Jimin kembali ke kamarnya dan menyuruh Vee mengenakan midi dress milik ibunya. Sementara itu, ibu Jimin turun tangan langsung merapikan rambut Vee dan mendandani wajah wanita itu yang masih terlihat sangat ketakutan, bingung, dan murung.
Setelah semuanya siap, ibu Jimin menyuruh Jimin menelepon kerabat Vee untuk menjemput gadis itu. Namun, alih-alih mendial nomor Hoseok, Jimin justru memilih menelepon Namjoon.
"Jemput kekasihmu di rumahku. Sekarang," ucap Jimin dingin tanpa basa-basi begitu panggilan itu terangkat di seberang sana, sebelum langsung memutus sambungan teleponnya.
Jimin menoleh ke arah Vee, lalu berbisik tajam tepat di dekat telinga wanita itu, "Kuharap Noona cukup pintar untuk tahu alasan kenapa Noona harus menutup mulut rapat-rapat dari siapa pun tentang apa yang terjadi hari ini."
Setelah itu, Jimin menggandeng tangan Vee keluar rumah menuju teras depan untuk menunggu kedatangan Namjoon, sambil menenteng sebuah gitar akustik di tangannya.
Sembari menanti Namjoon tiba, Jimin mendadak mengubah ekspresinya 180 derajat. Ia memasang wajah polos seorang remaja baik-baik, duduk santai di kursi santai teras bersama Vee, dan mulai memetik senar gitar sambil berpura-pura meminta pendapat Vee mengenai lirik lagu cinta yang sedang ia buat.
Dan tepat ketika sepeda Namjoon terlihat memasuki area halaman rumah, Jimin langsung mendongak dengan senyum paling ramah dan tak berdosa yang biasa ia tampilkan, menyambut sang kakak tingkat seolah-olah tidak ada hal mengerikan yang baru saja terjadi di dalam rumah di belakang mereka.
[;]
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORANGE
Fiksi Penggemar[21+] "Jika mencium jeruk saja membuatku jatuh cinta padamu, tak ada hal lebih lain yang akan membuatku berpaling." Namjoon mengatakannya dengan sangat lembut hingga membuat rintik deras hujan di luar seperti percikan air dari surga, menentramkan, m...
