Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

RUMAH

8 3 0
                                        

Perjalanan kereta dan jalan kaki yang cukup panjang akhirnya membawa mereka berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang megah. Rumah Jimin adalah sebuah hunian mewah bergaya modern minimalis yang berdiri di kawasan elite. Vee sempat tertegun sejenak dengan rumah Jimin yang begitu berbeda dengan rumahnya. Vee bahkan sempat tak percaya bahwa rumah bak istana di hadapannya ini adalah rumah Jimin yang tak pernah menunjukkan bahwa dia adalah anak orang kaya. Namun, kemegahan bangunan itu langsung kontras dengan apa yang tersaji begitu pintu utama dibuka.

​Memang benar kata pepatah. Don't judge the book by its cover. Rumah Jimin memang begitu indah dari luar, tapi ternyata setelah pintu rumah itu terbuka, yang tampak adalah kekacauan yang benar-benar membuat Vee harus menahan napas di hidungnya. Isi rumah Jimin sangat berantakan dan tidak terurus. Kotak makanan-makanan bekas berserakan di atas lantai marmer bersama kaleng soda kosong, tumpukan cucian kotor meluber dari keranjang, tong-tong sampah penuh dengan sampah basah yang tak dibersihkan berjejer sembarang sengan tong-tong sampah baru yang masih ada di dalam kotak kardus, dan debu tipis melapisi furnitur mahal yang tampak dingin. Suasana rumah itu begitu kotor, sunyi, mati, dan mencekam, seolah tidak ada kehidupan hangat yang merawatnya selama entah berapa lama.

​Namun, yang paling membuat Vee merinding adalah perubahan ekspresi Jimin yang begitu drastis. Di tengah kekacauan rumahnya yang suram, Jimin tiba-tiba membalikkan badan dan memasang senyum ceria yang lebar. Sebuah senyum manis tanpa beban, sangat kontras dengan mata dingin dan sikap manipulatifnya di luar tadi.

​"Kita sudah sampai, Noona! Ayo masuk!" ucap Jimin dengan nada riang, seolah mereka baru saja pulang dari kencan biasa.

​Vee berdiri terpaku di ambang pintu, sekujur tubuhnya bergetar hebat. Rasa kebingungan dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Rumah ini, kekacauan, kesunyiannya, dan senyuman kosong Jimin membuat kewarasan Vee seakan diuji hingga batas maksimal.

​Tanpa mempedulikan keterkejutan Vee, Jimin menarik pergelangan tangan wanita itu dengan lembut namun tegas, membimbingnya menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Berbeda dengan lantai bawah yang berantakan, lorong lantai atas terasa lebih rapi dan terawat. Ada vas-vas bunga menghiasi furnitur mebel yang ada di lorong dekat anak tangga. Beberapa foto-foto Jimin saat masih kecil dengan ayah ibunya juga terpampang di dinding, memanjang dengan foto-foto pernikahan orang tuanya. Terasa hangat, meski tetap saja aura kesunyiannya masih pekat.

Lantas Vee terpaku ketika Jimin membuka sebuah pintu kamar bernuansa gelap. ​Kamar Jimin sangat rapi. Minimalis, bersih, dan terorganisir dengan sangat baik, berbanding terbalik dengan sisa rumahnya. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah ranjang canopy berukuran besar dengan tiang-tiang penyangga kayu kokoh di setiap sudutnya.

​Jimin mendorong Vee pelan hingga wanita itu berdiri di tepi ranjang.

​"Duduk di sini, Noona," titah Jimin dengan suara yang kembali datar dan mutlak.

​Vee menggeleng, melangkah mundur dengan panik. "Jimin, kita mau apa ke sini? Jangan--"

​Sebelum Vee sempat menyelesaikan kalimatnya, Jimin bergerak secepat kilat. Tanpa sepatah kata tanya atau penjelasan apa pun, remaja itu mendorong Vee hingga berbaring telentang di atas kasur. Sebelum Vee sempat melawan, Jimin sudah meraih kedua pergelangan tangan wanita itu, menariknya ke sisi-sisi ranjang, dan mengikatnya erat menggunakan ikatan kain khusus yang sudah disiapkan di tiang-tiang penyangga ranjang tersebut.

​"Lepas! Jimin, lepas! Apa-apaan ini?!" Vee berteriak histeris, meronta-ronta dengan sekuat tenaga hingga pergelangan tangannya terasa perih.

​Mendengar teriakan itu, Jimin sama sekali tidak gentar. Anak itu menindih tubuh Vee, lalu dengan gerakan cepat mendaratkan sebelah tangan kokohnya untuk mencekik leher Vee. Cengkeraman itu begitu erat, memutus pasokan udara dan membuat Vee langsung megap-megap dalam ketakutan.

THE ORANGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang