Hari-hari berikutnya berjalan seperti sebuah mimpi buruk yang terjaga bagi Vee. Ia merasa hampir gila. Di satu sisi, ia adalah seorang wanita dewasa berusia 30 tahun yang seharusnya memegang kendali penuh atas hidupnya, namun di sisi lain, ia terjebak dalam rasa takut yang melumpuhkan jika harus membangkang pada Jimin. Ketakutan setengah mati jika rahasianya terbongkar pada Hoseok dan keluarganya membuat Vee seperti boneka tali yang digerakkan oleh teror.
Tuntutan Jimin pun semakin lama semakin di luar nalar, menguji batas kewarasan dan harga diri Vee. Seperti sore itu, saat Jimin mendatangi rumah Vee dengan dalih mengerjakan tugas kelompok bersama Hoseok, remaja itu menyelinap masuk ke kamar Vee saat Hoseok sedang ke kamar mandi.
Jimin meletakkan sebuah pisang ukuran besar di atas meja kerja Vee.
"Makan!" perintah Jimin dengan suara dingin tanpa bantahan. "Habiskan dalam satu kali suap. Jangan sampai ada yang tersisa."
Vee menatap pisang itu dengan ngeri, lalu mendongak menatap Jimin. "Jimin, ini sudah gila! Mana bisa aku--"
"Atau aku keluar sekarang dan cerita ke Hoseok?" potong Jimin dengan seringai tajam.
Dengan tangan bergetar dan air mata yang perlahan menggenang di pelupuk matanya karena rasa terhina, Vee terpaksa memasukkan pisang utuh itu ke dalam mulutnya. Ukurannya yang terlalu besar membuat tenggorokannya sakit dan air matanya tumpah seketika, tersiksa hebat di bawah tatapan puas Jimin yang menganggapnya sebagai hiburan.
Pada awalnya, Vee masih berusaha memasang batasan tegas. Asal Jimin tidak mencium atau menyentuh tubuhnya maka ia akan bertahan. Namun, batas tipis itu runtuh perlahan-lahan seiring berjalannya waktu.
Suatu sore menjelang senja, Jimin datang ke rumah untuk bermain game konsol bersama Hoseok di ruang tamu. Di tengah kebisingan suara game dan gelak tawa Hoseok, Jimin diam-diam menyelinap ke kamar Vee yang tidak terkunci. Vee yang sedang fokus menatap layar laptopnya mendadak terkesiap ketika sepasang tangan melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya bersandar pada dada bidang remaja itu.
"Jimin! Lepas, Hoseok di luar!" desis Vee panik, berusaha melepaskan diri.
Bukannya melepaskan, tangan Jimin justru bergerak naik turun mempermainkan resleting hoodie yang sedang Vee kenakan, membuka dan menutupnya dengan ritme lambat yang melecehkan.
Vee meronta lebih keras, mencoba menyiku perut Jimin. Namun, tanpa berkata apa-apa, Jimin merogoh saku celananya dengan satu tangan, lalu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Vee.
Di layar itu terpampang foto Hoseok yang sedang tidur pulas di sofa ruang tamu dengan sudut pengambilan gambar yang sangat dekat, disertai ketikan pesan siap kirim ke kontak sang adik. Seketika itu juga, sekujur tubuh Vee lemas. Perlawanannya mati di tempat.
"Anak pintar," bisik Jimin tepat di telinga Vee, menikmati kepasrahan mutlak yang terpancar dari wanita itu.
Jimin kemudian mengeluarkan sebuah timun berukuran besar dari dalam hoodienya lalu melemparkannya ke atas meja kerja Vee.
"Makan!" perintah Jimin mutlak. "Utuh. Tanpa dipotong."
Vee menggeleng kuat-kuat, air matanya langsung tumpah. "Jangan siksa aku seperti ini, Jimin... kumohon..."
"Makan atau foto Hoseok terkirim sekarang," ancam Jimin tanpa belas kasihan.
Dengan tangan gemetar hebat, Vee mencoba memasukkan ujung timun itu ke dalam mulutnya. Ukurannya yang kelewat besar membuat rahangnya sakit luar biasa. Baru setengah jalan, tenggorokannya terasa terkunci. Vee tersedak hebat, batuk-batuk dengan air liur dan air mata yang bercucuran, hingga akhirnya ia memuntahkan timun itu ke atas piring di depannya dengan napas tersengal-sengal.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE ORANGE
Fiksi Penggemar[21+] "Jika mencium jeruk saja membuatku jatuh cinta padamu, tak ada hal lebih lain yang akan membuatku berpaling." Namjoon mengatakannya dengan sangat lembut hingga membuat rintik deras hujan di luar seperti percikan air dari surga, menentramkan, m...
