Chapter 15 : Cemburu

694 75 8
                                    


Hyunjin menatap pantulan dirinya di depan cermin toilet. Sorot redup nya memeta semua bekas luka yang mulai memudar. Ia perlahan mengusap tonjolan di tulang pipi lalu berdecak kecil ketika menyadari jika tubuhnya semakin kehilangan bobot nya.

Hyunjin menyugar rambut hitam nya yang mulai memanjang dengan jari. Menyisir poni lepek ke arah kanan dan kiri dengan tatanan yang sedikit lebih rapi.
"Terlihat lebih baik." Gumam Hyunjin seraya tersenyum ke arah pantulan cermin.

Ceklek.
Salah satu pintu toilet terbuka. Hyunjin yang sedang menata ulang letak dasinya menatap pantulan si pria dari cermin. Ia tahu pria itu, namanya Eric, salah satu adik tingkat nya yang lumayan terkenal.

Selang beberapa detik setelah itu seseorang yang teramat ia kenal juga keluar dari bilik toilet yang sama.

Hyunjin refleks menoleh ke arah dua pria yang berdiri di depan pintu toilet dengan ekspresi yang berbeda.
Tatapannya tajam Hyunjin memindai si hoobae yang sedang mengatur nafas seolah ia baru saja selesai marathon.

Serupa dengan kondisi laju respirasi nya, seragam si hoobae terlihat kacau. Dua kancing atas nya lepas, tanpa dasi dengan ujung baju yang tidak dimasukkan ke celana. Begitu pula rambut acak-acakan nya menambah tanya di benak Hyunjin.

Kemudian pandangan analitik Hyunjin beralih pada iris cokelat Felix.
Ia meneliti lamat-lamat kondisi si kekasih yang juga tak berbeda jauh dengan si pria. Rambut klimis nya sedikit berantakan, satu kancing atas seragamnya terbuka, dasi yang biasanya menggantung rapi terpasang asal-asalan.

Hyunjin teramat ingin tahu apa yang telah mereka lakukan di bilik toilet dengan penampilan sekacau itu. Lalu kenapa dasi Eric berada di genggaman tangan Felix? Tidak mungkin kan mereka berada di sana hanya untuk mengobrol atau berencana sekedar memasang dasi?

Di tatap setajam itu oleh sang senior membuat Eric salah tingkah. Ia buru-buru mengaitkan dua kancing teratas seragam nya dan merapikan ujung baju. Dengan cepat meraih dasi yang di ulurkan Felix lalu memasang nya.

Setelah melirik Felix sekilas seraya memberi isyarat kemudian pria itu melenggang pergi. Felix bergegas mengikuti langkah pria sebelumnya untuk keluar ruangan, mengabaikan tatapan tajam Hyunjin.

Si pria jangkung meraih tangan nya, memberi tatap terluka ke iris si dongsaeng. Ia tidak tahu persis apa yang baru saja mereka lakukan, tetapi berdasarkan pengalamannya yang sering menyeret perempuan ke bilik toilet, situasi aneh sekarang hanya merujuk pada makeout. Hatinya seketika berdenyut nyeri membayangkan jika sang kekasih telah berbagi tubuh dengan orang lain.

"Apa yang kau lakukan dengan nya?" Tanya nya impulsif, sedikit meninggi sedang rematan nya pada lengan Felix menguat.

Rupanya dia cemburu.

Felix membalas tatap itu dengan tenang, melirik sekilas ke arah tangan nya yang digenggam Hyunjin terlampau erat. Ia membawa langkahnya mendekat sehingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan.

Menatap dalam ke arah si kakak tingkat seraya menyunggingkan seringai kecil. "Mungkin kau lupa, tapi tak apa aku akan mengingatkan mu lagi. Kau tidak punya hak untuk mendikte apapun yang kau lakukan." Kalimat terakhir ia ucapkan per suku kata dengan penuh penekanan.
Kata-kata itu begitu menusuk dan menyadarkan Hyunjin yang hampir luput dari kenyataan bahwa pria dihadapan nya adalah yang berkuasa dalam permainan mereka.

"Jelaskan." Pinta Hyunjin melunak, cenderung memohon. Ia berharap jika si kekasih memberikan jawaban lain dari apa yang tengah ia pikirkan.

"Jangan mencampuri urusan ku." Felix berdesis tajam. Ia menyentak tangan Hyunjin kasar kemudian mendorong pria jangkung itu hingga terhuyung ke belakang.

TASTE - HYUNLIXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang