Ini adalah kali ketiga Rendra datang menemui Bara. Biasanya ibu Bara yang lebih sibuk untuk menyambut Rendra. Seperti hari itu juga, sejak pagi ibu Bara sudah membersihkan rumah dan memasak lebih banyak dari biasanya.
"Bu, cuma Rendra ini. Nggak usah nyiapin yang berlebihan," ucap Bara di ambang pintu dapur.
"Berlebihan gimana? Ibu masak kayak biasanya, kok. Ada tamu harus disambut yang baik, kan, Bang?"
"Maksudnya nggak usah masak banyak-banyak, Bu. Ibu udah capek bikin kue pesenan semaleman. Nanti Abang bisa, kok, nganterin Rendra cari makan di luar."
Bara akhirnya ikut masuk ke dapur dan membantu ibunya.
"Kamu, tuh," decak ibunya. "Tamu jauh-jauh ke sini malah disuruh makan di luar. Lagian udah sering kamu numpang makan di tempat Rendra, sekarang gantian."
Ucapan ibunya memang benar. Selama Bara tinggal dengan ayahnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Rendra daripada di rumahnya sendiri.
"Nanti Rendra dijemput di stasiun apa gimana?" tanya ibunya.
"Bilangnya, sih, nggak usah. Tapi Abang jemput aja, deh. Takut anaknya nyasar."
Ibunya mengangguk setuju. "Iya, jemput aja. Pinjem motor Bayu nanti."
Setelah membantu ibunya, Bara kemudian bersiap-siap untuk menjemput Rendra. Keretanya datang tiga puluh menit lagi. Bara mampir sejenak ke rumah Bayu untuk meminjam motor.
Sebelum memutuskan untuk berpindah ke rumah ibunya, Bara memang sengaja meninggalkan motornya di rumah sang ayah. Motor itu yang menjadi saksi perjalanan hidupnya. Bagaimana ia menghabiskan waktunya bersama Bintang, juga saat-saat ia harus membawa motor itu tersungkur bersamanya. Bara ingin melepas semua memori itu.
-
Di antara angkutan umum yang berjajar di depan stasiun, Bara menunggu sambil melihat layar ponselnya. Berjaga-jaga kalau Rendra mengabarkan kedatangannya.
"Woi!"
Seruan kencang yang terdengar di belakang helmnya membuat Bara memutar kepala. Hadir di hadapannya wajah sahabatnya yang cerah itu. Bara mengulas senyum tipis sembari mengulurkan satu kepalan tangan yang segera disambut oleh Rendra.
"Lo bawa apaan, deh?" tanya Bara dengan kening berkerut setelah ia menyadari Rendra menenteng kardus yang cukup besar di tangan kirinya.
"Hehe, oleh-oleh."
"Siniin." Bara menyuruh Rendra untuk mengoper kardus itu padanya dan diletakkan di bagian depan motor. "Untung gue jemput, kan?"
"Sebenernya bisa juga naik go-car sih, Bar," kilah Rendra yang tak digubris Bara karena cowok itu sudah menyuruh Rendra untuk naik ke atas motor.
Ibu Bara rupanya telah menunggu di depan rumah ketika keduanya sampai. Rendra disambut dengan begitu hangat oleh wanita yang dulunya sempat ikut mengurusi Rendra saat kecil tersebut.
"Rendra, ya ampun. Tante kangen banget sama kamu. Kok, kayaknya kamu gedean, ya? Agak tinggian, ya?"
"Masa sih, Tante?"
"Mana bisa tinggi, Bu? Segitu-gitu aja dia," celetuk Bara yang tengah melewati mereka sambil membawa kardus oleh-oleh ke dalam rumah.
"Hus, kamu tuh!" tukas sang ibu. Wanita itu kembali menoleh ke arah Rendra. "Bara kalo ada temennya pasti omongannya ngawur. Suka bercanda."
Rendra hanya tertawa pelan. Ia sudah terbiasa dengan sifat Bara yang seperti itu. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mendengar komentar-komentar usil dari Bara. Perasaan familiar itu perlahan menyusup ke dalam hatinya. Hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pulang
Fanfic- Pulang. Jika rumah adalah tempat untuk kita berpulang, maka ke manakah Bara harus melangkah? [part of Jejak di Antara Semesta series]
